KABARBURSA.COM – PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) menegaskan arah transformasi model bisnis dari ketergantungan pada pengangkutan spot tanker menuju struktur pendapatan yang lebih stabil dan berjangka panjang.
Pergeseran ini ditempuh melalui penguatan empat pilar usaha yang mencakup oil tanker, Liquefied Natural Gas (LNG) tanker, serta pengembangan unit Floating Storage and Offloading (FSO), Floating Production, Storage and Offloading (FPSO), dan Floating Storage and Regasification Unit (FSRU), sebagai upaya menurunkan volatilitas kinerja secara struktural.
Sekretaris Perusahaan BULL, Krisnanto Tedjaprawira, menyampaikan bahwa strategi tersebut dirancang untuk menyeimbangkan dinamika pasar tanker yang sangat dipengaruhi siklus global.
“Mengenai 4 pilar yang akan kita jalankan ke depan merupakan diversifikasi dari BULL untuk mengurangi ketergantungan dari sektor tanker minyak, sehingga untuk sektor jasa lepas pantai, LNG, yang merupakan pasar khusus, dan juga FSRU yang mirip dengan FSO FPSO yang memiliki kontrak jangka panjang, kami harapkan dapat memberikan balancing dari masing-masing pilar terutama menyeimbangkan dinamika pasar yang terjadi di oil tanker ke depannya,” ujar Krisnanto, dalam ringkasan risalah Public Expose BULL 2025, dikutip Minggu, 28 Desember 2025.
Selama ini, armada BULL lebih banyak beroperasi di pasar spot, khususnya untuk pengangkutan minyak mentah dan produk minyak. Model ini memungkinkan fleksibilitas dan optimalisasi tarif saat pasar ketat, namun berisiko menimbulkan fluktuasi pendapatan ketika siklus berbalik.
Melalui pengembangan LNG tanker serta unit FSO, FPSO, dan FSRU, perseroan menargetkan terbentuknya basis pendapatan yang lebih berkelanjutan melalui kontrak jangka panjang.
Krisnanto menegaskan bahwa unit FSO, FPSO, dan FSRU memiliki karakteristik berbeda dibandingkan tanker spot karena menawarkan kepastian arus kas.
“FSO, FPSO dan FSRU merupakan 1 lini usaha yang memberikan kepastian pendapatan untuk kontrak jangka panjang dan stabil. Ini merupakan salah satu strategi kami untuk mengurang fluktuasi yang terjadi di pasar tanker minyak dan juga pasar tanker LNG,” kata dia.
Perseroan memandang diversifikasi ini sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang, bukan ekspansi jangka pendek. Model multi-pilar memungkinkan BULL tetap memanfaatkan peluang siklikal di pasar oil tanker dan LNG tanker, sekaligus membangun lapisan pendapatan defensif dari proyek-proyek berkontrak panjang.
Dengan pendekatan tersebut, sensitivitas kinerja terhadap volatilitas tarif angkut global diharapkan dapat ditekan secara bertahap.
Dalam konteks penguatan tata kelola dan manajemen risiko, Krisnanto menyatakan bahwa strategi empat pilar juga menjadi instrumen mitigasi risiko bisnis.
“Manajemen risiko untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang, ini kembali lagi ke dalam 4 pilar yang telah kami tetapkan, di mana untuk pertumbuhan jangka panjang kami harus memperhatikan risiko fluktuasi seperti yang tadi disampaikan,” ujarnya.
BULL menilai kombinasi antara bisnis spot yang fleksibel dan lini usaha berkontrak jangka panjang akan membentuk struktur pendapatan yang lebih seimbang.
Strategi ini diharapkan menciptakan visibilitas kinerja yang lebih baik bagi investor jangka menengah dan panjang, seiring dengan penguatan fondasi bisnis dan kesiapan ekspansi armada serta aset pendukung lainnya. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.