Logo
>

Bursa Asia Menunggu Arah Perang Iran, Harga Minyak Jadi Penentu

Bursa Asia bergerak campuran menanti arah konflik Iran, sementara harga minyak jadi penentu sentimen pasar global.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Bursa Asia Menunggu Arah Perang Iran, Harga Minyak Jadi Penentu
Bursa Asia fluktuatif akibat konflik Iran, harga minyak jadi faktor utama yang mempengaruhi inflasi dan arah pasar global. Foto: Dok. KabarBursa

KABARBURSA.COM — Pergerakan Bursa Asia cenderung bervariasi di tengah ketidakpastian arah konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Pelaku pasar masih menunggu sinyal apakah kedua negara akan kembali membuka jalur negosiasi.

Harga minyak ikut menjadi perhatian utama. Minyak mentah Brent bergerak tipis di level USD98,51 per barel, sementara minyak acuan Amerika Serikat turun 0,4 persen ke USD89,29 per barel. Penurunan harga energi ini dinilai dapat meredakan tekanan biaya bagi dunia usaha.

Di sisi geopolitik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut memperpanjang gencatan senjata dengan Iran atas permintaan Pakistan. Langkah ini diambil sambil menunggu proposal bersama dari Teheran, meski di saat yang sama blokade terhadap pelabuhan Iran masih berlangsung.

Perkembangan ini membuat pasar global bergerak hati-hati. Di kawasan Asia, indeks saham menunjukkan arah yang tidak seragam. Dilansir dari AP, Kamis, 23 April 2026, Nikkei 225 Jepang menguat 0,5 persen ke 59.653,56, sementara indeks Kospi Korea Selatan turun tipis 0,2 persen ke 6.374,46.

Indeks Australia S&P/ASX 200 melemah 0,9 persen ke 8.866,20. Di Hong Kong, Hang Seng turun 1,3 persen ke 26.137,59, sedangkan Shanghai Composite naik tipis 0,1 persen ke 4.090,24. Taiwan mencatat kenaikan lebih kuat dengan indeks Taiex naik 1,1 persen.

Sebelumnya di Wall Street, pasar sempat menguat karena harapan adanya jalur diplomasi baru antara Amerika Serikat dan Iran. Namun optimisme itu memudar setelah Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan kunjungan ke Pakistan yang semula direncanakan untuk memimpin negosiasi.

Indeks S&P 500 akhirnya turun 0,6 persen setelah sempat menguat. Dow Jones juga terkoreksi 0,6 persen, menghapus kenaikan awal sekitar 400 poin. Nasdaq ikut melemah 0,6 persen.

Di pasar energi, harga minyak sempat turun tajam sebelum kembali stabil. Brent yang sebelumnya sempat turun 4,6 persen kini berada di sekitar USD95,27 per barel. Meski masih lebih tinggi dibanding level sebelum perang yang berada di kisaran USD70 per barel, harga ini sudah jauh dari puncak USD119.

Kawasan Asia sendiri sangat bergantung pada jalur distribusi energi global, khususnya Selat Hormuz. Jalur sempit ini menjadi pintu utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia ke berbagai negara, termasuk Jepang yang minim sumber daya energi.

Gangguan distribusi di jalur tersebut membuat pasokan minyak global terganggu dan mendorong kenaikan harga. Dampaknya merembet ke inflasi global yang diperkirakan meningkat.

Dana Moneter Internasional memperkirakan inflasi global berada di level 4,1 persen, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,8 persen. Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia juga diturunkan menjadi 3,1 persen dari sebelumnya 3,3 persen.

Tekanan inflasi yang mereda seiring turunnya harga minyak turut berdampak pada pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun turun ke 4,25 persen dari sebelumnya 4,30 persen.

Sementara itu, di pasar mata uang, dolar Amerika Serikat melemah terhadap yen Jepang ke level 159,27. Euro juga sedikit turun ke USD1,1746. Dalam situasi seperti ini, pasar global tampak bergerak di antara dua sentimen utama, yakni potensi meredanya konflik dan risiko lanjutan dari ketidakpastian geopolitik.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).