Logo
>

Buyback Agresif TBS Energi Utama (TOBA) Kuras Kas?

Buyback hingga 10 persen saham ini menguji kekuatan kas TOBA di tengah transisi bisnis energi dan volatilitas pasar yang membuat valuasi saham dinilai belum mencerminkan fundamental

Ditulis oleh Yunila Wati
Buyback Agresif TBS Energi Utama (TOBA) Kuras Kas?
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA). Foto: Dok Perusahaan.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Rencana PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback hingga Rp586,27 miliar, perlu dibaca sebagai respons strategis terhadap tekanan pasar dan kebutuhan manajemen. Namun, nilainya yang terlalu agresif menjadi pertanyaan apakah aksi ini akan menguras kas Perseroan?

    Dari sisi skala, buyback ini tergolong agresif. Jumlah maksimal 825,74 juta saham setara 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor adalah batas atas yang diizinkan regulasi, dan jarang ditempuh tanpa pertimbangan yang matang. 

    Dengan asumsi nilai USD34,92 juta atau sekitar Rp586 miliar, pasar bisa langsung menguji satu hal utama, apakah TOBA benar-benar memiliki bantalan kas yang cukup untuk mengeksekusi aksi ini tanpa mengorbankan agenda bisnis intinya.

    Setidaknya, dari keterangan proforma keuangan per 30 September 2025, jawabnya adalah “ya”. Manajemen secara eksplisit menyatakan bahwa buyback akan menggunakan saldo kas internal, bukan pendanaan eksternal, dan telah memperhitungkan biaya transaksi serta perantara. 

    Pernyataan bahwa aksi ini tidak berdampak material terhadap kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek dan panjang menjadi krusial, karena buyback yang dilakukan di tengah fluktuasi pasar sering kali justru memicu kekhawatiran soal likuiditas. 

    Dari sudut pandang fundamental, alasan utama buyback yang disampaikan manajemen cukup klasik namun relevan, yaitu harga saham dinilai tidak mencerminkan nilai intrinsik perseroan akibat volatilitas pasar. 

    Ini penting, karena TOBA berada dalam fase transisi model bisnis, dari emiten energi berbasis batu bara menuju portofolio yang lebih berimbang dengan energi terbarukan. Dalam fase seperti ini, valuasi pasar sering tertinggal atau terdistorsi, terutama ketika sentimen global terhadap sektor energi berfluktuasi tajam.

    Buyback dalam skala besar memberi dua sinyal sekaligus. Pertama, manajemen menunjukkan keyakinan terhadap prospek jangka menengah dan panjang perseroan. Kedua, aksi ini secara mekanis mengurangi jumlah saham beredar, yang pada gilirannya berpotensi meningkatkan earnings per share dan nilai per saham bagi pemegang saham yang bertahan.

    Namun, sentimen pasar terhadap buyback TOBA tidak sepenuhnya hitam-putih positif. Ada sisi kehati-hatian yang akan diperhatikan investor. Periode pelaksanaan yang cukup panjang, yaitu 24 Desember 2025 hingga 24 Maret 2026, menunjukkan bahwa buyback ini bersifat fleksibel dan oportunistik. 

    Artinya, realisasi di lapangan akan sangat bergantung pada pergerakan harga saham dan kondisi pasar. Jika harga saham rebound cepat, kemungkinan porsi buyback yang benar-benar terealisasi bisa lebih kecil dari batas maksimal.

    Selain itu, pasar juga akan menimbang opportunity cost. Dengan dana hampir Rp600 miliar, investor akan bertanya apakah dana tersebut lebih optimal digunakan untuk mempercepat ekspansi energi baru terbarukan, akuisisi aset strategis, atau justru untuk buyback. 

    Di sinilah buyback TOBA berfungsi. Membeli saham sendiri dianggap memberikan imbal hasil yang lebih menarik dibanding alternatif investasi lain.

    Dari perspektif regulasi dan tata kelola, langkah TOBA relatif bersih. Buyback dilakukan dengan mengacu pada POJK No.13/2023 dan POJK No.29/2023, serta surat OJK yang secara spesifik membuka ruang buyback dalam kondisi pasar berfluktuasi signifikan. 

    Ini mengurangi risiko persepsi negatif terkait timing atau motif tersembunyi, karena kerangka hukumnya jelas dan transparan.

    Secara keseluruhan, rencana buyback saham TOBA lolos uji kelayakan dari sisi kas, regulasi, dan logika strategis. Tidak ada sinyal distress, tidak ada indikasi tekanan likuiditas, dan tidak terlihat sebagai upaya “menahan jatuh” semata tanpa fondasi. 

    Namun, efektivitas sentimen positifnya akan sangat ditentukan oleh dua hal ke depan: konsistensi realisasi buyback di pasar dan kemampuan TOBA menunjukkan bahwa langkah ini berjalan seiring, bukan menggantikan, strategi pertumbuhan bisnis jangka panjangnya. 

    Jika keduanya sejalan, buyback ini berpotensi menjadi katalis kepercayaan yang kuat. Namun jika tidak, hanya akan menjadi jeda sementara di tengah volatilitas yang belum selesai.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Yunila Wati

    Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

    Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

    Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79