KABARBURSA.COM – Kepala Divisi Pasar Modal Syariah Bursa Efek Indonesia (BEI) Irwan Abdalloh menegaskan gejolak pasar atau gonjang-ganjing yang terjadi belakangan merupakan dinamika wajar dalam mekanisme market. Ia menilai kondisi tersebut justru menunjukkan pasar yang aktif dan terus mencari keseimbangan baru.
Irwan hadir mewakili PJS Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dalam perayaan HUT ke-2 Kabarbursa.com bertajuk Capital Smart Investor 2026 yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat, 27 Februari 2026. Jeffrey berhalangan hadir karena agenda tugas di Amerika Serikat.
Dalam acara talkshow, Irwan menjelaskan kondisi pasar yang sempat ramai dipicu oleh beberapa momentum yang terjadi bersamaan, sehingga terlihat besar. Namun secara fundamental, menurutnya tidak ada isu krusial yang mengganggu stabilitas jangka panjang.
“Kalau orang market tahu persis, pasar pasti ada kalanya gonjang-ganjing. Kalau pasar nggak gonjang-ganjing itu nggak bakal ambil posisi, ambil untung,” ujar Irwan di Masjid Istiqlal, Jakarta.
Ia menyebut dalam bahasa ekonomi, kondisi tersebut merupakan fase mencari equilibrium baru. Pergeseran keseimbangan pasar tidak terlepas dari fenomena investor era pandemi Covid-19, ketika hampir semua instrumen yang dibeli memberikan keuntungan.
“Waktu Covid itu apapun dibeli untung. Sehingga Indonesia ketika Covid punya anomali sendiri. Sampai saat ini kita belum hit to growth jaman Covid,” katanya.
Menurut Irwan, anomali tersebut membentuk generasi investor baru, terutama anak muda, yang masuk ke pasar dengan ekspektasi keuntungan cepat. Kini, struktur pasar telah berubah, tetapi daya tahan pasar Indonesia dinilai semakin kuat.
Ia memaparkan bahwa dalam 5 tahun terakhir terjadi pergeseran signifikan komposisi investor. Jika pada awal 2000-an investor domestik berada di bawah 40 persen, kini investor lokal mendominasi transaksi, sementara asing lebih dominan di sisi kepemilikan dan itu pun mayoritas institusi.
“Retailnya dominan sekarang. Karena retailnya yang dominan, jadi ada goyang sedikit impactnya gede,” jelasnya.
Dominasi investor ritel yang sebagian besar anak muda membuat pasar lebih sensitif terhadap sentimen jangka pendek. Namun di sisi lain, hal ini mencerminkan tingkat partisipasi publik yang semakin luas.
Irwan juga menyoroti sisi positif dari dinamika pasar, termasuk penertiban influencer yang menyebarkan informasi menyesatkan—salah satunya sanksi yang diberikan Otoritas Jasa Keungan ke investor berinisial BVN beberapa waktu lalu,
“Hikmahnya sekarang influencer yang ngaco mulai diciduk. Itu bagus,” ujarnya.
Untuk menjawab tantangan investor muda yang dinilai mudah terpengaruh, BEI melakukan desain ulang strategi edukasi. Kampanye yang sebelumnya dikenal sebagai Yuk Nabung Saham kini berkembang menjadi Aku Bangga Jadi Investor, menyesuaikan karakter generasi baru.
BEI juga memperluas jaringan kantor perwakilan di hampir seluruh provinsi dan mengembangkan klaster wilayah untuk mendorong pertumbuhan investor di luar Pulau Jawa. Selain itu, konsep galeri investasi yang menjadi keunikan Indonesia terus diperluas, tidak hanya di kampus tetapi juga komunitas dan institusi lain yang bekerja sama dengan perusahaan sekuritas.
Hasilnya terlihat dari pertumbuhan jumlah investor yang signifikan. Saat ini jumlah investor saham telah mencapai sekitar 9 juta, dengan pertumbuhan rata-rata 2 juta investor baru per tahun pascapandemi.
“Dulu waktu saya masuk bursa itu nyampe 300 ribu saja susah. Sekarang sudah 9 juta,” kata Irwan.
Ia menegaskan pertumbuhan ini menjadi sinyal positif bagi ketahanan pasar modal Indonesia. Ke depan, BEI akan terus memperkuat literasi agar investor tidak hanya mengejar keuntungan instan, tetapi memahami risiko dan berinvestasi secara rasional.
Dalam forum Capital Smart Investor 2026, Irwan mengajak generasi muda untuk melihat volatilitas sebagai bagian dari proses pendewasaan pasar. Menurutnya, pasar yang dinamis dan inklusif justru menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.(*)
