KABARBURSA.COM - Lonjakan kinerja PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) sepanjang 9M25 sebenarnya memberikan sinyal fundamental yang sangat kuat. Dari riset Henan Putihrai Sekuritas (HP), CDIA ditempatkan sebagai salah satu kandidat penggerak baru di sektor infrastruktur-logistik.
Dalam laporan kinerjanya, laba inti CDIA melonjak 80,5 persen YoY menjadi USD38,1 juta, atau sudah menyentuh 76,3 persen dari target FY25. Pertumbuhan pendapatannya juga solid, naik 42 persen YoY dari USD 73,8 juta menjadi USD104,8 juta.
Mesin utama CDIA untuk tahun ini berasal dari segmen logistik yang meroket 1.234 persen, dari USD1,8 juta menjadi USD24,7 juta, dan kini berkontribusi 23,5 persen terhadap pendapatan. Ini menandakan adanya pergeseran nyata menuju bisnis ber-margin lebih tinggi.
Fundamental yang melesat ini diperkuat dengan strategi ekspansi agresif pada pilar logistik. CDIA memperkenalkan divisi cold chain melalui PT Chandra Cold Chain (CCC) dengan fasilitas 700 pallet.
Tidak hanya itu, CDIA juga menambah kapal dan armada truk, serta memperluas layanan transportasi terintegrasi. Semua ini membuat prospek margin grup terlihat lebih tebal di masa depan.
Selain itu, posisi neraca CDIA tergolong sangat sehat. DER hanya 0,26 kali, jauh di bawah threshold covenant 0,75 kali, dan current ratio yang luar biasa tinggi di 13,68 kali. Dengan modal kerja sebesar ini, ruang CDIA untuk ekspansi ke depan sangat luas.
Tidak heran jika kemudian HP kembali menegaskan rekomendasi BUY dengan target harga Rp2.430 dan potensi upside hampir 34 persen.
Ada Potensi Capex Membengkak di 2026
Namun, di balik sorotan fundamental yang kuat, investor tetap perlu berhati-hati. Pertumbuhan logistik 1.234 persen masih berasal dari basis yang kecil, sehingga lonjakan angka ini belum tentu mencerminkan kestabilan tren jangka panjang.
Ekspansi cold chain dan penambahan kapal serta truk juga akan membawa kenaikan capex serta biaya operasional yang baru akan terlihat sepenuhnya di laporan keuangan 2026. Aspek utilisasi aset, tarif layanan logistik, dan persaingan sektor, menjadi tiga risiko penting yang perlu diperhatikan.
Selain itu, sebagai perusahaan yang membukukan pendapatan dalam dolar AS (USD), CDIA memiliki eksposur terhadap fluktuasi nilai tukar dan dinamika permintaan global.
Ketika melihat kondisi teknikal harian, gambarannya lebih kompleks. Dari sisi moving average, CDIA masih diposisikan dalam tren naik kuat. Seluruh MA dari MA5 hingga MA200 berada di bawah harga pasar, dan menjadi sebuah struktur bullish stabil dalam jangka menengah.
Namun indikator momentum memberikan sinyal berbeda. RSI 14 berada di 54 dan masih netral. Tapi Stochastic menandakan sinyal jual, MACD masih negatif, dan Ultimate Oscillator juga menunjukkan pelemahan.
Gambaran ini memperlihatkan bahwa dalam jangka sangat pendek, saham sedang memasuki fase cooling down meski tren besarnya masih terjaga. Momentum buyer mulai menyusut, sehingga membuat laju penguatan tidak seagresif beberapa pekan sebelumnya.
Pasar Masih Wait and See, Menunggu Katalis Baru
Level pivot harian memperkuat gambaran ini. Poros harga berada di sekitar 1.836, dengan support terdekat di 1.803–1.787 dan resistance di 1.853–1.887. Selama harga bertahan di atas pivot, tren naik masih dominan.
Namun jika tekanan jual dari indikator momentum berlanjut, CDIA sangat memungkinkan memasuki fase konsolidasi jangka pendek sebelum kembali bergerak naik. Dengan kata lain, saham ini belum tentu langsung “lari” mengejar target 2.430. Pasar masih menunggu konfirmasi tambahan dari sisi aliran dana maupun berita ekspansi baru.
Memang, secara kasat mata kedua data di atas mendukung arah bullish CDIA, tetapi dengan ritme yang lebih lambat. Bagi investor lama, posisi CDIA masih menarik karena performa logistik yang semakin kuat dan neraca yang sehat.
Namun bagi investor yang baru masuk, kondisi teknikal yang mulai mendingin mewajibkan kewaspadaan tinggi. CDIA memang berpotensi naik, tetapi dengan langkah yang lebih berat dalam beberapa hari minggu ke depan.
Disiplin terhadap level support dan pemilihan titik masuk akan menjadi kunci, karena pasar sedang menunjukkan bahwa meskipun laba inti sudah melesat, gerak sahamnya tidak selalu langsung mengikuti.(*)