KABARBURSA.COM – Chengdong Investment Corporation melepas saham PT Bumi Resources Tbk, berkode saham BUMI. Dalam rentang 1 hingga 22 Desember 2025, Chengdong total melepas saham BUMI sebanyak 3,71 miliar. Dengan begitu, kepemilikannya turun 1 persen.
Aksi jual ini bukan dilakukan dalam satu kali dalam partai besar, melainkan distribusi bertahap yang sangat terukur, yaitu dalam 21 kali transaksi. Artinya, Chengdong tidak keluar secara darurat, melainkan melakukan manajemen posisi secara sistematis.
Harga jual tersebar di rentang Rp238 hingga Rp388 per saham. Artinya, Chengdong bersedia melepas saham di area bawah ketika likuiditas pasar memungkinkan penyerapan volume besar. Hal ini tampak pada transaksi 5 Desember 2025, saat 207 juta saham dilego di harga Rp238.
Kedua, Chengdong memanfaatkan fase harga tinggi di akhir periode, yang terlihat dari penjualan di Rp388 pada 22 Desember, meski volumenya jauh lebih kecil. Ini mencerminkan strategi average exit price, bukan panic selling.
Raup Untung Rp1,03 Triliun
Dari transaksi tersebut, Chengdong memperoleh dana segar sebesar Rp1,03 triliun. Setelah transaksi, Chengdong masih memegang 22,27 miliar saham atau 5,99 persen. Posisi ini secara regulasi dan ekonomi masih signifikan.
Menariknya, distribusi saham sebesar itu tidak merusak struktur harga BUMI secara keseluruhan. Secara year to date, saham BUMI sudah naik sekitar 206 persen. Persentase ini menjadi sebuah reli yang sangat ekstrem untuk emiten batu bara berkapitalisasi besar.
Kenaikan ini terjadi seiring lonjakan volume perdagangan, yang kini mencapai 4,79 miliar saham YTD, jauh di atas rata-rata volume 6,88 miliar saham. Tingginya likuiditas inilah yang menjadi kunci mengapa pelepasan 3,7 miliar saham bisa “ditelan” pasar tanpa menciptakan dislokasi harga yang tajam.
Pada perdagangan Rabu, 24 Desember 2025, saham BUMI dibuka di 382, bergerak di rentang 360–384, dan masih berada relatif dekat dengan level tertinggi tahunannya di 406. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan jual dari sisi supply besar sudah banyak diantisipasi pasar.
Harga tidak runtuh, melainkan bergerak fluktuatif dalam rentang lebar, menandakan adanya tarik-menarik kuat antara distribusi dan penyerapan.
Sentimen pasar terhadap BUMI juga sudah bergeser. Jika pada fase awal reli narasi didorong oleh pemulihan fundamental dan harga batubara, kini saham BUMI lebih banyak diperdagangkan sebagai saham likuid dengan volatilitas tinggi.
Tidak adanya rasio P/E yang relevan menegaskan bahwa valuasi saat ini lebih ditentukan oleh ekspektasi dan arus dana, bukan laba jangka pendek. Dalam konteks ini, aksi Chengdong justru menjadi katalis likuiditas tambahan, bukan pemicu krisis kepercayaan.
Namun, ada catatan kritikal yang perlu diperhatikan. Distribusi saham oleh pemegang besar di tengah kenaikan YTD yang sangat curam sering kali menjadi fase transisi, dari tren naik eksplosif ke fase konsolidasi atau rotasi kepemilikan.
Fakta bahwa Chengdong memilih menjual secara bertahap, bukan sekaligus, bisa dibaca sebagai upaya memaksimalkan harga di tengah euforia, sekaligus mengurangi risiko jika volatilitas meningkat ke depan.
Kesimpulannya, aksi Chengdong melepas saham BUMI lebih tepat dibaca sebagai rebalancing strategis di tengah reli besar, bukan sinyal negatif fundamental. Pasar sejauh ini mampu menyerap pasokan tambahan tanpa kehilangan struktur harga.
Tantangannya ke depan bukan lagi soal siapa yang menjual, melainkan apakah arus beli baru cukup kuat untuk mempertahankan valuasi setelah fase distribusi pemegang besar ini selesai.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.