KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan sesi I, Selasa, 2 Juni 2026. Indeks ditutup menguat 91 poin atau 1,49 persen ke level 6.218 setelah sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.264.
Penguatan IHSG terjadi ketika sebagian besar pasar Asia justru bergerak campur aduk di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait negosiasi perdamaian Amerika Serikat dan Iran.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan sebanyak 347 saham menguat, 338 saham melemah dan 274 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp14,84 triliun dengan volume perdagangan 188,5 juta lot dan frekuensi transaksi menyentuh 1,53 juta kali.
Saham-saham berbasis energi dan konglomerasi menjadi motor utama penguatan IHSG sesi pertama. Emiten batu bara dan energi melonjak seiring reli sektor energi yang naik 2,92 persen ke level 2.996.
Sektor tersebut ditopang penguatan saham-saham seperti Medco Energi Internasional (MEDC), Benakat Integra (BIPI), Elnusa (ELSA), Indika Energy (INDY), Harum Energy (HRUM), Bukit Asam (PTBA), hingga Indo Tambangraya Megah (ITMG).
Di jajaran top gainers, indeks Kompas100, saham Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) memimpin setelah melesat 24,60 persen ke level 785. Kenaikan CUAN menjadi salah satu perhatian terbesar market karena terjadi di tengah lonjakan volume dan kembali hidupnya minat trader pada saham grup energi dan konglomerasi.
Selain CUAN, saham Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) juga meledak 22,17 persen ke level 1.405. Sedangkan Amman Mineral Internasional (AMMN) melonjak 14,85 persen ke posisi 3.790.
Pergerakan AMMN cukup mencolok karena saham ini kembali menjadi pusat perhatian market setelah beberapa sesi terakhir mengalami volatilitas tinggi. Kenaikan besar AMMN ikut mendorong sentimen saham energi dan komoditas di tengah reli harga sejumlah komoditas global.
Emiten Berkinerja Buruk
Namun penguatan IHSG tidak terjadi merata di seluruh sektor. Sektor kesehatan menjadi yang paling tertekan setelah turun 1,98 persen ke level 1.499.
Tekanan sektor kesehatan dipicu pelemahan saham rumah sakit dan farmasi seperti Medikaloka Hermina (HEAL) dan Kalbe Farma (KLBF). Selain itu, sektor transportasi juga terkoreksi cukup dalam sebesar 3,01 persen.
Di kelompok saham LQ45, tekanan jual terbesar terlihat pada Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) yang turun 4,58 persen ke level 6.775. Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) melemah 3,51 persen menjadi 4.120 dan Adaro Minerals Indonesia (ADMR) terkoreksi 3,27 persen ke posisi 1.480.
Bursa Asia Ditutup Mixed
Di pasar regional, pergerakan bursa Asia justru cenderung mixed. Indeks Hang Seng Hong Kong menjadi salah satu yang paling kuat setelah naik 1,46 persen, sementara Shenzhen Component menguat 0,96 persen dan CSI300 naik 0,78 persen.
Sebaliknya, pasar Jepang dan Korea Selatan justru berada di zona merah. Indeks Nikkei225 turun 1,16 persen, Topix melemah 0,83 persen dan Kospi Korea Selatan terkoreksi 1,37 persen.
Pasar Asia masih dibayangi ketidakpastian terkait negosiasi perdamaian AS-Iran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menepis kekhawatiran gagalnya pembicaraan damai dan menyatakan tidak terlalu peduli jika negosiasi berakhir tanpa kesepakatan.
Pernyataan tersebut muncul setelah laporan bahwa Iran mempertimbangkan menghentikan pembicaraan dengan Washington dan membuka kemungkinan penutupan Selat Hormuz. Situasi ini membuat investor global kembali mewaspadai risiko lonjakan harga minyak dan ketidakstabilan geopolitik kawasan Timur Tengah.
Di pasar mata uang Asia, rupiah justru masih berada dalam tekanan setelah melemah 0,29 persen ke level Rp17.856 per dolar AS. Pelemahan rupiah terjadi ketika sebagian mata uang Asia lain seperti baht Thailand dan dolar Singapura justru mampu menguat terhadap dolar AS.(*)