KABARBURSA.COM - PT GTS International Tbk (GTSI) segera memasuki jadwal cum dividen pada 3 Juli 2026. Harga saham saat ini masih berada di level rendah. Pertanyaannya, apakah membeli saham menjelang cum date menjadi strategi yang menarik atau justru sebaliknya?
Hal pertama yang perlu menjadi perhatian investor, terutama investor baru, adalah fundamental perusahaan.
GTSI sendiri bukan pemain baru di industri pelayaran gas alam cair (LNG). Akar bisnis perusahaan sudah dimulai sejak 1986 melalui Humolco sebagai anak usaha PT Humpuss. Bersama Mitsui O.S.K. Lines Ltd., perusahaan mengembangkan bisnis kepemilikan dan pengoperasian kapal LNG.
Seiring berkembangnya bisnis Grup Humpuss, pada 2013 dibentuk PT GTS International Tbk sebagai entitas yang secara khusus berfokus pada bisnis LNG Shipping. Perusahaan mengembangkan layanan logistik dan infrastruktur LNG untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional.
Kehadiran aturan Cabotage melalui Undang-Undang Pelayaran Nomor 17 Tahun 2008 juga menjadi salah satu peluang pertumbuhan karena mewajibkan pengangkutan barang di dalam negeri menggunakan kapal berbendera Indonesia.
Dari sisi kepemilikan saham, GTSI memiliki free float sebesar 15,17 persen dengan jumlah saham beredar mencapai 15,82 miliar lembar. Nilai kapitalisasi pasarnya berada di kisaran Rp2,03 triliun, sementara enterprise value tercatat sekitar Rp2,45 triliun.
Rugi Bersih Mencapai Rp15 Miliar
Bicara soal keuangan, kinerja finansial PT GTS Internasional sedang tidak baik. Pada kuartal I 2026, GTSI membukukan rugi bersih Rp15 miliar, berbalik dari laba Rp26 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat annualised net income berubah menjadi negatif sekitar Rp60 miliar, sedangkan laba bersih trailing twelve months (TTM) juga berada di posisi negatif Rp12 miliar.
Penurunan laba tersebut terjadi meskipun pendapatan perusahaan relatif stabil. Sepanjang kuartal I 2026, pendapatan tercatat Rp126 miliar, hanya sedikit lebih rendah dibanding Rp131 miliar pada kuartal I 2025.
Secara annualised, pendapatan diperkirakan mencapai Rp503 miliar, sedangkan pendapatan TTM berada di level Rp567 miliar.
Tekanan terhadap profitabilitas juga terlihat pada laba per saham (EPS). EPS kuartal I 2026 berubah menjadi negatif Rp0,94, sementara annualised EPS berada di kisaran minus Rp3,77 dan EPS TTM minus Rp0,76.
Artinya, pelemahan laba bukan sekadar terjadi dalam satu kuartal, tetapi juga mulai tercermin dalam indikator profitabilitas perusahaan.
Dari sisi neraca, kondisi likuiditas sebenarnya masih cukup terjaga. Current ratio berada di level 1,51 kali, sedangkan quick ratio mencapai 1,35 kali, menunjukkan aset lancar masih lebih besar dibanding kewajiban jangka pendek.
Rasio utang juga relatif moderat. Debt to equity ratio berada di level 0,68 kali, sementara long-term debt to equity sebesar 0,59 kali. Namun demikian, investor perlu mencermati indikator lain yang menunjukkan tekanan terhadap kemampuan menghasilkan kas.
Free cash flow kuartalan masih negatif sekitar Rp19 miliar, sedangkan interest coverage ratio TTM hanya 0,08 kali, mengindikasikan kemampuan laba operasional dalam menutup beban bunga masih sangat terbatas.
Modified Altman Z-Score tercatat 1,39, yang menunjukkan kondisi perusahaan masih perlu dicermati dari sisi kesehatan finansial.
Dividen Histori
Meski laba sedang tertekan, GTSI tetap konsisten membagikan dividen dalam dua tahun terakhir. Untuk tahun buku 2025, perseroan menetapkan dividen Rp1 per saham dengan ex-date pada 6 Juli 2026 dan pembayaran pada 24 Juli 2026.
Sebelumnya, pada tahun buku 2024, perusahaan membagikan dividen Rp1,50 per saham.
Dengan harga saham saat ini, dividend yield yang tercatat sekitar 0,78 persen, jauh lebih rendah dibanding yield tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 2,27 persen. Bahkan payout ratio tahun buku terbaru tercatat negatif sekitar -26,51 persen karena perusahaan sedang membukukan rugi.
Di pasar, sentimen terhadap saham GTSI juga masih cenderung berhati-hati. Pada perdagangan 29 Juni 2026, saham ditutup di level Rp129, turun 1,53 persen dibanding penutupan sebelumnya.
Volume transaksi hanya sekitar 37 ribu lot dengan nilai transaksi sekitar Rp480 juta, jauh lebih rendah dibanding aktivitas perdagangan beberapa pekan sebelumnya.
Jika melihat histori perdagangan selama Juni, volatilitas saham sebenarnya cukup tinggi. Pada 9 Juni, GTSI sempat melonjak lebih dari 20 persen, disusul kenaikan 8,06 persen pada 12 Juni dan 11,38 persen pada 25 Juni.
Namun kenaikan tersebut juga diikuti koreksi tajam pada beberapa sesi berikutnya. Aktivitas investor asing pun terlihat berubah-ubah. Pada 25 Juni sempat tercatat net buy sekitar Rp620,69 juta, tetapi sehari setelahnya berbalik menjadi net sell sekitar Rp719,48 juta.
Sinyal Teknikal Belum Dukung Kenaikan
Dari sisi teknikal, sinyal yang muncul masih belum mendukung pembentukan tren naik yang kuat. Ringkasan indikator moving average masih menunjukkan rekomendasi "Sangat Jual", dengan seluruh MA mulai dari MA5 hingga MA200 masih berada dalam sinyal jual.
Harga saham juga masih bergerak di bawah rata-rata pergerakan jangka menengah dan panjang, sehingga tren penurunan belum sepenuhnya berubah.
Pivot point harian menempatkan area 132 sebagai titik keseimbangan. Resistance terdekat berada di kisaran 138, kemudian 145 dan 151, sementara support berada di sekitar 125, 119, hingga 112.
Orderbook juga belum memperlihatkan dominasi pembeli. Antrean bid terbesar berada di level Rp120–128, sedangkan sisi offer masih cukup tebal pada rentang Rp129 hingga Rp137. Pasar masih cenderung menunggu arah baru sebelum meningkatkan akumulasi.
Rekomendasi
Melihat seluruh data tersebut, membeli GTSI semata-mata karena mengejar cum dividen tampaknya belum memiliki dukungan yang kuat dari sisi fundamental maupun teknikal. Dividend yield yang relatif kecil membuat potensi keuntungan dari dividen menjadi terbatas.
Sementara, perusahaan baru saja membukukan rugi pada kuartal pertama 2026 dan indikator teknikal juga masih menunjukkan tren yang belum pulih.
Di sisi lain, GTSI tetap memiliki fondasi bisnis yang bergerak di sektor LNG shipping yang strategis serta didukung peluang jangka panjang dari industri pelayaran nasional.
Namun, untuk investor, keputusan masuk menjelang cum date sebaiknya tidak hanya didasarkan pada jadwal pembagian dividen, melainkan juga mempertimbangkan kondisi kinerja perusahaan dan arah pergerakan saham setelah periode ex-dividen.
Untuk saat ini, belum terdapat indikasi kuat yang menunjukkan bahwa momentum cum date menjadi alasan yang cukup untuk mengambil posisi pada saham GTSI.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.