KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum mampu keluar dari tekanan pada sesi pertama perdagangan Senin, 29 Juni 2026. Setelah dibuka di level 5.932,03, indeks sempat menyentuh posisi tertinggi 5.942,77 sebelum perlahan kehilangan tenaga.
Saat bel penutupan sesi pertama berbunyi, IHSG parkir di level 5.838,95, turun 57,19 poin atau 0,97 persen dibanding penutupan sebelumnya di level 5.896,13. Pelemahan ini terjadi setelah indeks sempat menyentuh level terendah harian di 5.834,74.
Aktivitas perdagangan tetap ramai dengan nilai transaksi hingga sesi pertama mencapai sekitar Rp4,03 triliun dengan volume perdagangan mencapai 75,10 juta lot dan frekuensi transaksi sebanyak 683.720 kali.
Di tengah pelemahan indeks, sejumlah saham mampu bergerak berlawanan arah. Saham-saham ini menjadi penahan laju koreksi IHSG, terutama dari kelompok energi, pertambangan, hingga emiten yang sebelumnya mengalami tekanan cukup dalam.
Saham ENRG Rebound 4,81 Persen
Salah satu yang mencuri perhatian adalah PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Setelah sehari sebelumnya anjlok lebih dari 10 persen, ENRG berhasil melakukan rebound pada sesi pertama dengan kenaikan sebesar 4,81 persen ke level Rp1.090.
Penguatan tersebut terjadi setelah saham dibuka di level Rp1.050 dan sempat menyentuh Rp1.145 sebelum akhirnya bertahan di area Rp1.090. Pada perdagangan sebelumnya, investor asing masih membukukan net buy sekitar Rp20,01 miliar, ketika nilai pembelian asing mencapai Rp33,99 miliar dan penjualan Rp13,98 miliar.
DSSA Menguat 1,23 Persen
Saham lain yang ikut menopang adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Emiten sektor energi dan infrastruktur ini menguat 1,23 persen ke level Rp825 setelah sebelumnya terkoreksi 1,81 persen pada perdagangan Jumat lalu.
Yang menarik, pada perdagangan sebelumnya DSSA mencatat akumulasi asing yang sangat besar. Nilai pembelian investor asing mencapai sekitar Rp302,72 miliar, sedangkan penjualan sebesar Rp207,21 miliar, sehingga menghasilkan net buy sekitar Rp95,51 miliar.
Arus dana tersebut menjadi salah satu faktor yang menjaga sentimen terhadap saham DSSA meski IHSG sedang berada dalam tekanan.
CUAN Naik 0,88 Persen
Pergerakan positif juga terlihat pada saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Setelah sehari sebelumnya terkoreksi hampir 10 persen, CUAN mulai menunjukkan tanda stabilisasi dengan kenaikan 0,88 persen ke level Rp570.
Meski penguatannya belum besar, kenaikan ini cukup menarik karena terjadi setelah saham mengalami tekanan jual yang cukup kuat. Pada perdagangan sebelumnya, investor asing masih mencatat net sell sekitar Rp14,98 miliar, sehingga kenaikan hari ini lebih mencerminkan munculnya aksi beli dari pelaku pasar domestik setelah koreksi tajam.
ANTM ke Level 2.740
Di luar kelompok saham Grup Prajogo, penguatan juga datang dari sektor mineral. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 1,11 persen ke level Rp2.740. Saham anggota indeks LQ45 tersebut bergerak stabil sejak pembukaan perdagangan dan sempat menyentuh level tertinggi Rp2.810 dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp11 miliar.
Kenaikan ANTM menunjukkan bahwa saham berbasis komoditas masih menjadi salah satu pilihan investor ketika pasar sedang mencari aset yang dinilai lebih defensif di tengah volatilitas indeks.
OILS Melesat 21,69 Persen
Sementara itu, saham PT Oil States Indonesia Tbk (OILS) menjadi salah satu penguat terbesar pada sesi pertama. Saham ini melonjak 21,69 persen ke level Rp202 setelah dibuka di harga Rp180 dan sempat menyentuh Rp206.
Nilai transaksi saham ini mencapai sekitar Rp12,9 miliar, menandakan peningkatan minat beli yang cukup signifikan dibanding perdagangan sebelumnya.
Meski sejumlah saham berhasil menguat, kontribusinya belum cukup untuk mengangkat IHSG kembali ke zona hijau. Tekanan jual masih tersebar pada banyak saham berkapitalisasi besar sehingga indeks tetap bergerak di wilayah negatif hingga penutupan sesi pertama.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase selektif. Investor terlihat tidak melakukan aksi jual secara menyeluruh, melainkan mulai memindahkan dana ke saham-saham yang dinilai memiliki momentum jangka pendek atau baru saja mengalami koreksi berlebihan.(*)