KABARBURSA.COM – Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad bersama Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara Rosan Roeslani dan Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mendatangi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin malam, 19 Mei 2026, di tengah tekanan yang masih membayangi pasar keuangan domestik.
Kunjungan tersebut berlangsung ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah dalam beberapa hari terakhir, sementara nilai tukar rupiah masih tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kehadiran para petinggi negara dan Danantara ini dinilai sebagai sinyal dukungan kuat terhadap pasar modal Indonesia.
Kunjungan Dasco ke BEI terjadi sehari setelah Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menerima Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi bersama jajaran OJK. Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Luhut menyebut pertemuan itu membahas kondisi pasar keuangan, pelemahan rupiah, serta langkah-langkah menjaga kepercayaan investor di tengah dinamika global.
Dalam konferensi pers di Gedung BEI, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan pergerakan IHSG masih relatif sejalan dengan bursa saham di kawasan regional.
“Kami melihat pergerakan IHSG masih sejalan dengan tren bursa regional. Dinamika ini merupakan konsekuensi logis dari transformasi pasar modal yang membuat pergerakan indeks semakin berbasis fundamental,” ujar Friderica dalam konferensi pers di BEI, Jakarta.
Menurut Friderica, tekanan di pasar dipengaruhi oleh berbagai sentimen global, mulai dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, ekspektasi kebijakan moneter global, hingga dampak rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Meski demikian, ia menilai koreksi yang terjadi masih tergolong moderat. Pada hari pertama setelah pengumuman rebalancing MSCI, IHSG terkoreksi 1,98 persen, sedangkan pada perdagangan 18 Mei 2026 melemah 1,85 persen setelah libur panjang.
Friderica mengatakan kondisi tersebut justru mencerminkan proses price discovery yang lebih sehat, di mana pergerakan saham lebih ditentukan oleh fundamental emiten dibandingkan sentimen sesaat.
Di tengah tekanan pasar, minat investor domestik justru terus meningkat. OJK mencatat nilai aset investor ritel bertambah Rp49,71 triliun atau 6,39 persen sejak awal tahun menjadi Rp718,44 triliun.
Selain itu, jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai 27 juta single investor identification (SID), bertambah sekitar 6,5 juta hingga 7 juta investor dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Reformasi ini bertujuan memastikan pasar keuangan Indonesia tidak hanya tumbuh dari sisi ukuran, tetapi juga dari sisi fundamental, integritas, dan keterbukaan,” kata Friderica.
Sufmi Dasco Ahmad mengatakan kunjungannya ke BEI bertujuan menunjukkan dukungan kepada OJK dan BEI dalam menjaga kepercayaan investor.
“Kami berdiskusi bagaimana meyakinkan investor global untuk masuk ke bursa dan memastikan investor ritel terus tumbuh dan semakin percaya terhadap pasar modal Indonesia,” ujar Dasco.
Ia berharap berbagai upaya yang telah dilakukan regulator dan otoritas bursa akan mulai menunjukkan hasil positif setelah 29 Mei 2026.
Sementara itu, Rosan Roeslani menegaskan Danantara memandang pasar modal sebagai instrumen investasi jangka panjang. Menurut dia, saham-saham BUMN masih menawarkan fundamental yang solid dan valuasi yang menarik.
“Secara fundamental dan valuasi, saham-saham BUMN sangat menarik untuk investasi jangka panjang,” tutur Rosan.
Ia menyebut sejumlah emiten BUMN, termasuk kelompok Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan perusahaan sektor pertambangan, memiliki dividend yield di atas 10 persen hingga 11 persen.
Rosan juga menyoroti valuasi saham perbankan yang diperdagangkan dengan price to book value (PBV) di bawah 1 kali, jauh di bawah level normal yang bisa mencapai 2 hingga 3 kali.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan adanya potensi kenaikan harga saham yang cukup besar dalam jangka panjang.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna mengklaim fundamental perusahaan tercatat di Bursa masih menunjukkan kinerja yang solid.
“Dari 947 perusahaan tercatat, hampir 85 persen telah menyampaikan laporan keuangan dan laba bersih secara agregat meningkat 21,5 persen,” ujar Nyoman.
Ia menambahkan, dari sisi penawaran, saat ini terdapat 15 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO). Sebagian besar merupakan perusahaan beraset besar yang diproyeksikan masuk ke papan utama.
Menurut Nyoman, pertumbuhan laba emiten, penambahan jumlah investor, dan pipeline IPO yang tetap kuat menunjukkan fondasi pasar modal Indonesia masih terjaga dengan baik.
Kunjungan Dasco, Rosan, dan Dony Oskaria ke BEI menegaskan bahwa pemerintah, regulator, dan Danantara memiliki pandangan pasar modal Indonesia tetap menjanjikan dalam jangka panjang.
Menilik data perdagangan saham IHSG saat ini Selasa, 19 Mei 2026pada penutupan sesi II perdagangan di level 6.396,27. Ia koreksi 202.97 atau 3,08 persen. Sementara rupiah terus melemah berada di Rp17.726 terhadap dolar AS.(*)
Dasco, Rosan, dan Dony Oskaria Sambangi BEI di Tengah IHSG Tertekan serta Rupiah Melemah
Kunjungan tersebut berlangsung ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah dalam beberapa hari terakhir