Logo
>

Data CPI Reda, Emas Langsung Tembus USD5.030

Data CPI Januari di bawah ekspektasi memicu kembali spekulasi penurunan suku bunga The Fed, mendorong reli emas dan perak global.

Ditulis oleh Syahrianto
Data CPI Reda, Emas Langsung Tembus USD5.030
Ilustrasi: Sebongkah emas (gold nugget). (Foto: Pixabay/Csaba Nagy)

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Harga emas dunia melonjak lebih dari 2 persen pada Jumat, 13 Februari 2026, waktu Amerika Serikat setelah data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan memicu kembali ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral AS tahun ini. Kenaikan ini terjadi setelah logam mulia sempat terkoreksi tajam sehari sebelumnya.

    Dilansir Reuters, harga emas spot naik 2,25 persen ke USD5.030,45 per troy ounce. Sehari sebelumnya, emas sempat turun sekitar 3 persen dan menyentuh level terendah hampir sepekan. 

    Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April naik 2 persen ke USD5.050,80 per troy ounce.

    Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) naik 0,2 persen pada Januari. Angka ini lebih rendah dari ekspektasi ekonom sebesar 0,3 persen dan setelah kenaikan 0,3 persen pada Desember. Data tersebut memperkuat spekulasi bahwa tekanan inflasi mulai mereda.

    Pelaku pasar saat ini memperkirakan total penurunan suku bunga sebesar 63 basis poin sepanjang tahun ini. Pemangkasan pertama diperkirakan terjadi pada Juli, berdasarkan data yang dihimpun LSEG. Emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga cenderung menguat dalam lingkungan suku bunga rendah.

    “Emas, dan khususnya perak, menikmati reli pelepasan tekanan setelah data CPI Januari yang lebih rendah meredakan kekhawatiran akibat laporan ketenagakerjaan yang kuat pada Rabu,” kata Tai Wong, trader logam independen. 

    Ia menilai pasar merespons kombinasi data inflasi yang melunak dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih akomodatif.

    Sebelumnya, data tenaga kerja menunjukkan Amerika Serikat menambah 130.000 pekerjaan pada Januari. Angka ini lebih tinggi dibanding estimasi analis sebesar 70.000 pekerjaan. Data tersebut sempat menekan harga emas karena mengindikasikan ekonomi tetap kuat.

    Harga perak spot turut naik 2,29 persen ke USD76,88 per troy ounce setelah sehari sebelumnya merosot 11 persen. Kenaikan ini mencerminkan pemulihan harga setelah tekanan tajam pada sesi sebelumnya. Namun, analis mencatat volatilitas masih tinggi di pasar logam mulia.

    Di pasar Asia, permintaan emas China tetap kuat menjelang perayaan Tahun Baru Imlek. Sementara di India, pasar emas beralih ke posisi diskon. Kondisi ini mencerminkan dinamika permintaan fisik di dua konsumen emas terbesar dunia.

    Analis ANZ menaikkan proyeksi harga emas kuartal II menjadi USD5.800 per troy ounce dari sebelumnya USD5.400. Proyeksi ini didasarkan pada peran emas sebagai aset lindung nilai. 

    Di sisi lain, perak dinilai masih didukung permintaan investasi, meski potensi penguatan dapat terbatas jika pembeli industri menahan pembelian pada harga tinggi.

    Harga platinum spot naik 3 persen ke USD2.059,90 per troy ounce. Palladium melonjak 4,66 persen ke USD1.692,12 per troy ounce. Meski demikian, kedua logam tersebut masih berpotensi mencatat pelemahan secara mingguan.

    Pergerakan logam mulia kini bergantung pada arah kebijakan suku bunga AS serta perkembangan data ekonomi berikutnya. 

    Pasar memantau dinamika inflasi dan tenaga kerja sebagai penentu langkah Federal Reserve dalam beberapa bulan ke depan. (*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Syahrianto

    Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

    Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

    Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

    Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.