KABARBURSA.COM – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mulai membuka peta mainnya di sektor energi hijau dan pengolahan sampah. Di tengah dorongan pembiayaan proyek EBT dan waste to energy (WtE), lembaga ini menegaskan tidak akan menjadi “market maker” di bursa, melainkan investor yang selektif memburu perusahaan dengan fundamental kuat dan pertumbuhan agresif.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengatakan fokus utama lembaganya adalah menempatkan modal pada entitas yang dinilai sehat dan bertumbuh, baik BUMN maupun swasta.
“Danantara hanya untuk berinvestasi saja. Kita masuk di pasar, beli investasi perusahaan-perusahaan yang bagus, yang punya growth baik,” ujar Pandu kepada KabarBursa.com usai Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Jumat, 13 Februari 2026.
Ia menegaskan Danantara tidak memiliki mandat untuk mengintervensi kebijakan teknis di pasar modal, termasuk terkait pemenuhan batas minimal free float emiten BUMN sektor energi. “Itu kan urusannya nanti di bursa. Bukan di Danantara. Kita investor,” kata dia.
Meski mengambil posisi sebagai investor, keterlibatan Danantara dalam proyek strategis terlihat jelas pada pengembangan WTE yang kini memasuki fase lanjutan. Pandu memastikan pengumuman hasil tahap awal akan segera dilakukan sebelum proyek diperluas ke kota-kota lain.
"Nanti akan ada announcement untuk fase satu dan dua WTE. Ada beberapa kota besar lagi yang akan menyusul,” ujarnya.
Paparan CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani dalam forum tersebut sebelumnya menunjukkan proyek ini tidak berdiri di ruang hampa. Indonesia memproduksi sekitar 60 juta ton sampah per tahun, namun 87 persen di antaranya belum terkelola secara optimal.
"Batch pertama sudah berjalan sejak November (2025). Pemenangnya akan diumumkan akhir Februari, lalu batch kedua untuk tujuh kota dimulai Maret melalui tender terbuka,” kata Rosan dalam presentasinya.
Menurut dia, nilai proyek WTE tidak semata diukur dari listrik yang dihasilkan, melainkan dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan perkotaan. “Dampak kesehatan dan environment justru lebih penting,” ujarnya.

CEO Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani memaparkan data potensi risiko kesehatan akibat pengelolaan sampah dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026. Dalam presentasinya disebutkan produksi sampah nasional lebih dari 60 juta ton per tahun dengan sebagian besar belum terkelola, yang menjadi dasar pengembangan proyek waste to energy di berbagai kota. Foto: Alpin Pulungan/KabarBursa.
EBT Masuk Portofolio Tematik Investasi
Selain WTE, Danantara menempatkan sektor energi terbarukan dalam kerangka investasi tematik yang lebih luas. Portofolio itu mencakup pengembangan bioavtur, bioetanol, hingga industri kimia dasar seperti caustic soda yang terkait rantai pasok transisi energi.
Rosan menyebut total nilai pipeline proyek hilirisasi dan energi mencapai sekitar USD26 miliar dengan potensi penciptaan lebih dari 600 ribu lapangan kerja. “Dari 20 program hilirisasi, tujuh sudah groundbreaking. Sisanya akan menyusul,” ujarnya.
Pendanaan proyek-proyek tersebut ditopang kemitraan dengan sejumlah sovereign wealth fund global, antara lain China Investment Corporation, JBIC Jepang, Qatar Investment Authority, dan lembaga dari Uni Emirat Arab dengan total komitmen miliaran dolar AS.

CEO Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani memaparkan rencana pengembangan proyek waste to energy (WTE) sebagai solusi jangka panjang pengelolaan sampah di 33 kota dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026. Proyek ini mengacu pada sejumlah fasilitas WTE yang telah beroperasi di China, Vietnam, dan Thailand. Foto: Alpin Pulungan/KabarBursa.
Di sisi lain, Danantara juga mengantongi fasilitas pembiayaan dari empat bank internasional senilai sekitar USD10 miliar. “Rating kami sudah BBB, setara dengan sovereign rating Indonesia, dengan outlook stabil,” kata Rosan.
Posisi Danantara dalam proyek EBT dan WTE memperlihatkan model yang berbeda dari BUMN konvensional. Lembaga ini tidak bertindak sebagai operator, melainkan katalis yang membuat proyek menjadi bankable dan menarik bagi investor global. Kota dan infrastruktur dasar disiapkan pemerintah, sementara Danantara menjalankan proses tender untuk memilih mitra teknologi dan pengembang.
Model tersebut diharapkan memecah kebuntuan proyek WTE yang selama ini tersendat akibat persoalan tarif listrik, tipping fee, dan kepastian pasokan sampah. Dengan skema itu, proyek lingkungan yang sebelumnya bergantung pada APBN diarahkan menjadi investasi yang memiliki kelayakan finansial.
Mengejar Pertumbuhan Lewat Investasi Hijau
Strategi masuk ke EBT dan WTE juga berkaitan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah menargetkan pertumbuhan hingga 8 persen pada 2029, yang membutuhkan lonjakan investasi secara signifikan. Realisasi investasi 2025 tercatat mencapai sekitar Rp1.931,2 triliun, tumbuh 12,7 persen secara tahunan dan menyerap 2,7 juta tenaga kerja.
"Hilirisasi menyumbang sekitar 30,2 persen dari total investasi nasional,” kata Rosan.
Dalam konteks itu, investasi hijau menjadi sumber pertumbuhan baru, sekaligus instrumen untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik.
Masuknya Danantara ke sektor EBT dan WTE menandai pergeseran pendekatan pembangunan infrastruktur energi. Fokus tidak lagi semata pada pembangunan fisik proyek, tetapi pembentukan ekosistem investasi yang berkelanjutan.
Di satu sisi, pendekatan ini membuka ruang bagi masuknya modal global. Di sisi lain, pemerintah tetap memegang kendali pada penentuan arah kebijakan dan penyediaan proyek. Bagi pasar, skema tersebut memberi sinyal bahwa proyek transisi energi Indonesia mulai bergerak ke fase yang lebih terstruktur dan terukur secara finansial.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.