KABARBURSA.COM – Produksi dan penjualan bijih nikel PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam sepanjang 2025 mencatatkan rekor tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir, seiring meningkatnya permintaan domestik pasca larangan ekspor mineral.
Berdasarkan laporan keuangan untuk periode dua belas bulan yang berakhir 31 Desember 2025, realisasi produksi bijih nikel ANTM mencapai 16,11 juta wet metric ton (wmt), melonjak 62 persen dibandingkan produksi sepanjang 2024 sebesar 9,94 juta wmt.
Manajemen ANTM dalam keterbukaan informasi menjelaskan bahwa peningkatan produksi tersebut sejalan dengan strategi penguatan operasi tambang dan optimalisasi rantai pasok domestik.
Sepanjang 2025, bijih nikel ANTM dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan industri nikel kelas dua di dalam negeri serta mendukung pasokan bahan baku internal bagi fasilitas feronikel di Kolaka.
Dari sisi pemasaran, volume penjualan bijih nikel juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Sepanjang 2025, penjualan bijih nikel tercatat sebesar 14,58 juta wmt, atau tumbuh 75 persen dibandingkan penjualan 2024 yang berada di level 8,35 juta wmt. Capaian tersebut menandai kinerja penjualan tertinggi sejak diberlakukannya larangan ekspor mineral.
Pada kuartal IV 2025, produksi bijih nikel berada di level 3,56 juta wmt, meningkat 35 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,63 juta wmt. Sementara itu, penjualan bijih nikel pada periode Oktober–Desember 2025 tercatat 3,35 juta wmt, naik 27 persen dibandingkan kuartal IV 2024 sebesar 2,64 juta wmt.
ANTM menyatakan bahwa peningkatan kinerja produksi dan penjualan bijih nikel tidak terlepas dari meningkatnya serapan pasar domestik, terutama dari industri pengolahan dan pemurnian yang terus berkembang.
Sepanjang 2025, permintaan bijih nikel domestik tercatat tetap solid, didukung proyek hilirisasi mineral dan penguatan industri nikel nasional.
Selain bijih nikel, ANTM juga merealisasikan produksi feronikel sebesar 16.064 ton nikel dalam feronikel (TNi) sepanjang 2025, dengan volume penjualan mencapai 10.528 TNi. Seluruh penjualan feronikel tersebut terserap oleh pasar ekspor, dengan tujuan utama Korea Selatan, India, dan Tiongkok sebagai pusat manufaktur baja nirkarat global.
Manajemen ANTM menegaskan bahwa kinerja positif pada segmen nikel sepanjang 2025 menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan usaha di tengah penyesuaian regulasi dan dinamika pasar global. Optimalisasi operasi tambang, efisiensi biaya, serta pengelolaan rantai pasok terintegrasi menjadi faktor utama yang menopang capaian produksi dan penjualan tersebut.
Sebagai emiten pertambangan mineral logam, ANTM menjalankan kegiatan usaha pada komoditas emas, nikel, bauksit, serta pengolahan dan pemurnian mineral.
Hingga akhir Desember 2025, kapitalisasi pasar ANTM tercatat sebesar Rp75,70 triliun, dengan kisaran harga saham sepanjang 2025 berada di rentang Rp1.355 hingga Rp3.930 per saham. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.