Logo
>

Ditarget Rp505, Seberapa Besar Tekanan yang Harus Ditembus BULL?

Meski seluruh analis masih kompak memberi rekomendasi beli dengan target harga terendah Rp505, saham BULL masih harus melewati tekanan jual asing dan area distribusi kuat sebelum membuka peluang reli berikutnya.

Ditulis oleh Yunila Wati
Ditarget Rp505, Seberapa Besar Tekanan yang Harus Ditembus BULL?
Rata-rata target harga BULL berada di Rp703 per saham, dengan estimasi terendah Rp505 dan tertinggi mencapai Rp950. (Foto: dok BULL)

KABARBURSA.COM - Tekanan jual kembali menghampiri saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL). Setelah sempat mencatat reli yang cukup agresif sepanjang paruh pertama Juni, saham emiten pelayaran ini kembali terkoreksi 4,89 persen ke level Rp350 pada perdagangan 26 Juni 2026. 

Koreksi tersebut memang terlihat cukup tajam, namun jika ditarik sedikit ke belakang, pergerakan BULL sebenarnya masih berada dalam fase konsolidasi setelah mengalami kenaikan lebih dari 28 persen hanya dalam kurun dua pekan.

Menariknya, pelemahan harga justru terjadi ketika pandangan analis terhadap saham ini masih sangat optimistis. Berdasarkan konsensus tujuh analis yang masih aktif memperbarui risetnya hingga 22 Juni 2026, seluruhnya memberikan rekomendasi buy tanpa satu pun rekomendasi hold maupun sell. 

Rata-rata target harga bahkan berada di Rp703 per saham, dengan estimasi terendah Rp505 dan tertinggi mencapai Rp950.

Artinya, bahkan target paling konservatif sekalipun masih berada sekitar 44 persen di atas harga penutupan saat ini. Pertanyaannya kemudian, apakah level Rp505 benar-benar realistis untuk dicapai? Dan seberapa besar tekanan yang harus dilewati BULL sebelum menuju ke sana?

Volatilitas Saham Masih Tinggi

Jika melihat perjalanan harga dalam dua pekan terakhir, volatilitas memang menjadi karakter utama saham ini. Pada 9 Juni lalu, BULL ditutup di Rp306 sebelum melonjak 13,73 persen ke Rp348 sehari kemudian. 

Reli belum berhenti. Dua hari berikutnya saham kembali melesat hingga menyentuh Rp368, kemudian berlanjut ke Rp388 dan bahkan sempat mencapai Rp394.

Namun setelah mencapai area tersebut, tenaga beli mulai kehilangan momentum. Harga beberapa kali gagal mempertahankan posisi di atas Rp390 dan akhirnya bergerak turun secara bertahap menuju Rp384, Rp382, Rp388, hingga akhirnya kembali ke Rp350.

Pola ini menggambarkan fase distribusi ringan, ketika sebagian pelaku pasar mulai merealisasikan keuntungan setelah reli cepat. Hal tersebut juga tercermin dari aktivitas investor asing.

Dana Asing Keluar Masuk Cukup Deras

Data perdagangan menunjukkan asing sempat sangat agresif melakukan akumulasi pada awal kenaikan. Pada 12 Juni misalnya, nilai pembelian asing mencapai Rp48,88 miliar dengan net foreign buy sekitar Rp17,02 miliar. 

Sehari sebelumnya bahkan sempat terjadi tekanan jual asing mencapai Rp20,17 miliar, namun langsung diimbangi oleh masuknya dana baru ketika harga mulai stabil.

Situasi berubah memasuki pekan berikutnya. Sejak 17 Juni hingga 26 Juni, investor asing lebih banyak melakukan distribusi. Net foreign tercatat negatif hampir setiap hari, mulai dari minus Rp3,07 miliar, minus Rp14,57 miliar, minus Rp13,42 miliar hingga akhirnya minus Rp7,01 miliar pada perdagangan terakhir.

Tekanan tersebut terlihat cukup konsisten. Pada 26 Juni saja, nilai jual asing mencapai Rp15,59 miliar, jauh lebih besar dibanding pembelian yang hanya sekitar Rp8,58 miliar. Kondisi ini menjelaskan mengapa setiap kali harga mencoba naik menuju area Rp380 hingga Rp390, selalu muncul tekanan jual yang cukup besar.

Meski demikian, tekanan asing belum sepenuhnya mengubah struktur tren menengah BULL. Volume transaksi masih berada pada kisaran normal dengan frekuensi perdagangan sekitar 11 ribu kali. Artinya, likuiditas saham masih terjaga. Yang berubah hanya keseimbangan antara pembeli dan penjual.

Area 350 jadi Titik Menarik

Jika mengacu pada data order book, area Rp350 saat ini juga menjadi titik yang cukup menarik. Antrean beli di level tersebut mencapai sekitar 24 ribu lot, sementara antrean jual terdekat berada di Rp352. 

Di bawahnya masih terdapat lapisan permintaan pada Rp348, Rp346 hingga Rp340 yang relatif tebal. Artinya, minat akumulasi masih ada meskipun pasar belum cukup berani mendorong harga lebih tinggi.

Sebaliknya, hambatan mulai terlihat bertingkat sejak Rp352 hingga Rp368. Semakin mendekati Rp370, antrean jual semakin besar. Sebelum berbicara mengenai target Rp505, BULL terlebih dahulu harus mampu melewati fase penyerapan supply pada area Rp360 hingga Rp390.

Justru area inilah yang kemungkinan menjadi ujian terberat.

Apabila mampu kembali menembus Rp390 disertai peningkatan volume, peluang melanjutkan kenaikan menuju Rp420 hingga Rp450 menjadi lebih terbuka. Setelah itu, ruang menuju Rp505 relatif lebih longgar karena secara historis tekanan jual tidak setinggi area konsolidasi saat ini.

Sebaliknya, apabila tekanan jual asing masih berlanjut dan harga gagal mempertahankan level psikologis Rp340-Rp350, maka proses menuju target analis memerlukan waktu yang lebih panjang. 

Koreksi sehat ke area lebih rendah justru dapat menjadi fase pembentukan fondasi baru sebelum memulai tren naik berikutnya.

Di sisi lain, optimisme analis tentu bukan tanpa alasan. Rata-rata target Rp703 menggambarkan keyakinan bahwa valuasi fundamental BULL masih berada di bawah nilai wajarnya. Bahkan target terendah Rp505 sekalipun masih menunjukkan potensi kenaikan sekitar 44 persen dari harga saat ini. 

Sedangkan target rata-rata membuka ruang apresiasi lebih dari 100 persen apabila seluruh katalis fundamental mampu terealisasi.

Analisis Teknikal BULL

Secara teknikal, koreksi BULL masih dinilai sebagai bagian dari fase normal setelah reli yang cukup tinggi. Pelemahan ke Rp350 yang disertai penembusan MA20 dan MA200 mengindikasikan tekanan jual masih berlangsung, namun posisinya diperkirakan sudah mendekati akhir wave (A) dari wave [B]. 

Karena itu, strategi yang disarankan adalah trading buy secara bertahap di area Rp324-Rp336 dengan target kenaikan ke Rp364 dan Rp378. Adapun stop loss ditempatkan di bawah Rp316 untuk mengantisipasi jika tekanan jual berlanjut dan membatalkan skenario rebound.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79