Logo
>

DOID Laporkan Capex Q3-2025 Rp194 Juta di Tengah Rugi Bersih Rp1,33 Triliun

DOID masih rugi hingga kuartal III-2025, namun belanja modal justru melonjak. Efisiensi operasional membaik, tetapi arus kas belum mampu menutup capex yang agresif.

Ditulis oleh Yunila Wati
DOID Laporkan Capex Q3-2025 Rp194 Juta di Tengah Rugi Bersih Rp1,33 Triliun
PT Buma International Grup Tbk (DOID). Foto: Buma Group,

KABARBURSA.COM – PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) baru saja melaporkan kinerja keuangan untuk kuartal III-2025. Ada hal yang kontras dari laporan tersebut. Di satu sisi, perseroan masih membukukan rugi bersih sebesar USD81 juta atau sekitar Rp1,33 triliun hingga September. Namun di sisi lain, belanja modal justru digenjot hingga kisaran USD149 juta–USD194 juta.

Angka belanja modal itu naik dobel digit dibanding tahun lalu. Jika demikian, DOID sedang pulih atau justru memaksa diri tumbuh di atas fondasi laba yang masih rapuh?

Dari sisi laporan laba rugi, sumber tekanan utama kerugian cukup jelas. Pendapatan hingga kuartal III-2025 turun 16 persen secara tahunan menjadi USD1,131 miliar. Koreksi ini bukan disebabkan runtuhnya harga, melainkan volume. 

Bisnis utama sebagai kontraktor tambang mengalami penurunan volume akibat gangguan operasional di kuartal I. Sementara, Average Selling Price (ASP) relatif stabil, hanya naik tipis 1 persen berkat porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi. Porsi tersebut membantu meredam pelemahan harga batu bara.  

Artinya, memasuki 2025 DOID memiliki beban operasi yang cukup besar. Produktivitasnya pun sempat tersendat dan baru mulai menata ulang mesin pertumbuhannya di kuartal II.

EBITDA year-to-date tercatat USD127 juta dengan margin 14 persen. Catatan ini menjelaskan mengapa perseroan masih mencatatkan rugi bersih. Margin operasi yang tidak terlalu tebal ini kemudian dipukul oleh kombinasi pencadangan piutang di bisnis Australia, beban keuangan, dan faktor non-operasional lainnya. 

Manajemen sendiri mengakui bahwa sebagian kerugian ditahan oleh keuntungan nilai wajar dari investasi di 29Metals. Juga dari beban bunga yang lebih rendah, manfaat pajak, dan pergerakan kurs yang menguntungkan. 

Dengan kata lain, bottom line DOID sejauh ini masih sangat terbantu oleh faktor-faktor di luar operasi utama. Sementara, kinerja inti baru mulai memperlihatkan perbaikan.

Jika fokus dipersempit ke kuartal III, gambaran yang muncul lebih nyaring ke arah pemulihan operasional. Pendapatan kuartalan naik menjadi USD400 juta, tumbuh 6 persen secara kuartalan. EBITDA kuartal III naik menjadi USD63 juta dengan margin 19 persen. Angka ini membaik dari USD50 juta dengan margin 16 persen pada kuartal II. 

Rugi bersih pun menyusut drastis menjadi hanya USD1 juta. Secara tren, ini mengindikasikan bahwa bisnis inti sebenarnya sudah kembali mendekati titik impas. Akan tetapi, dampak gangguan kuartal I masih membebani kinerja kumulatif.

Di lapangan, data operasional memang mendukung narasi pemulihan. Pemindahan lapisan tanah penutup (overburden/OB removal) naik 4 persen dari kuartal I ke kuartal II, lalu melonjak 25 persen dari kuartal II ke kuartal III. 

Secara volume, kuartal III mencatat OB removal 128 juta BCM dan produksi batu bara 22 juta ton, masing-masing naik 18 persen dan 12 persen secara kuartalan. Jam kerja alat meningkat 29 persen dari Januari hingga September. Sementara, jam non-produktif turun 53 persen berkat kondisi cuaca yang lebih kering dan pemulihan pascahujan yang lebih cepat. 

Ini semua menunjukkan bahwa bottleneck operasional yang menghantui kuartal I mulai berhasil diurai.

Dari sini, efeknya sangat terasa di biaya. Biaya tunai per BCM turun 28 persen dari kuartal I ke kuartal III. Biaya tenaga kerja per BCM turun 45 persen setelah manajemen menerapkan disiplin shift yang lebih ketat dan menurunkan rasio operator terhadap alat sebesar 13 persen. 

Biaya bahan bakar per BCM turun 14 persen seiring penurunan konsumsi 10 persen, yang didorong perbaikan cycle time, perencanaan pembuangan material, dan kualitas haul road. 

Biaya perbaikan dan perawatan per BCM menurun 13 persen berkat peralihan ke pemeliharaan berbasis kondisi dan perencanaan komponen yang lebih matang. Secara struktur, DOID sedang menggeser dirinya dari perusahaan yang “dikejar masalah lapangan” menjadi operasi yang lebih efisien dan terukur.

Capex Terealisasi USD149 Juta

Di tengah semua itu, belanja modal menjadi elemen yang paling mengundang tanda tanya sekaligus menjadi kunci pembacaan strateginya. DOID merealisasikan capex sekitar USD149 juta hingga kuartal III, naik 12 persen secara tahunan.

Dalam informasi lain disebutkan, total capex mencapai sekitar USD194 juta. Meski ada perbedaan angka yang perlu dicermati lebih lanjut (apakah ini angka year-to-date, full-year guidance, atau termasuk komitmen capex jangka panjang), arahnya jelas. Perusahaan memilih untuk menaikkan investasi di saat laba belum pulih penuh.

Komposisi belanja modal mencerminkan dua prioritas besar. Pertama, sekitar 54 persen dialokasikan untuk mempertahankan keandalan dan kesiapan armada. Kedua, 46 persen diarahkan untuk ekspansi kapasitas di berbagai site utama di Indonesia. 

Artinya, DOID tidak hanya memperbaiki kinerja yang terganggu di awal tahun, tetapi sekaligus memperbesar basis operasinya untuk beberapa tahun ke depan. Secara industri, langkah ini dapat dimaklumi karena bisnis kontraktor tambang dan kepemilikan tambang seperti DOID bersifat sangat padat modal dan ber-siklus panjang. 

Armada dan kapasitas harus siap jauh sebelum volume puncak datang. Namun dari sudut pandang laporan keuangan, konsekuensinya sangat jelas. Bahwa di tengah margin yang baru membaik, arus kas perusahaan justru tersedot untuk capex yang agresif.

Arus Kas Tak Cukup Tutupi Modal Kerja

Di sinilah kontradiksi DOID terlihat paling tajam. Dengan EBITDA tahun berjalan sekitar USD127 juta, sementara capex dikisaran USD149–194 juta, DOID pada dasarnya berada pada posisi di mana arus kas operasional belum cukup menutupi keseluruhan belanja modal, bahkan sebelum memperhitungkan bunga dan kewajiban lain. 

Kekosongan ini harus ditutup dengan kombinasi hutang, kas yang sudah ada, atau pelepasan aset. Dari sisi risiko, ini menempatkan perusahaan dalam posisi yang sensitive. Kesalahan eksekusi pada proyek ekspansi, penurunan volume mendadak, atau tekanan harga batu bara yang lebih dalam dapat kembali menekan profitabilitas di saat neraca keuangan menjadi lebih berat.

Di sisi lain, manajemen berargumen bahwa peningkatan capex adalah bagian dari strategi mengunci momentum pemulihan yang sudah mulai terasa sejak kuartal II. Jam kerja efektif yang lebih tinggi, cycle time yang lebih singkat, dan perbaikan bottleneck di disposal dan haul road memang menghasilkan volume yang lebih baik, biaya per unit yang lebih rendah, dan EBITDA yang lebih kuat. 

Dari perspektif operasional, DOID tampak tidak sedang “membakar uang” tanpa arah, melainkan menginvestasikan kembali sebagian besar sumber daya ke dalam aset produktif untuk menopang pertumbuhan volume dan kepastian layanan ke para pemilik tambang.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79