KABARBURSA.COM – PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) mencatat rugi bersih sebesar USD128 juta sepanjang 2025 di tengah tekanan operasional dan penurunan kinerja produksi. Meski demikian, perusahaan mulai mencatat perbaikan bertahap dengan arus kas bebas berbalik positif.
Direktur BUMA Internasional Grup Iwan Fuad Salim menyatakan tahun 2025 menjadi periode penuh tantangan bagi perusahaan. Ia menyebut gangguan operasional di awal tahun memberi dampak signifikan terhadap produksi dan kinerja keuangan.
“2025 merupakan tahun yang menantang bagi grup, terutama akibat gangguan operasional di awal tahun yang berdampak pada produksi dan kinerja,” ujar Iwan dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu, 28 Maret 2026.
Sepanjang 2025, DOID mencatat pendapatan sebesar USD1,48 miliar atau turun 16 persen secara tahunan. Penurunan ini terutama dipicu oleh penurunan volume produksi, sementara harga jual rata-rata relatif stabil.
Dari sisi operasional, volume pengupasan lapisan penutup turun 19 persen menjadi 439 juta bcm. Sementara produksi batu bara turun 6 persen menjadi 84 juta ton sepanjang tahun.
EBITDA tercatat sebesar USD175 juta dengan margin 14 persen, tertekan oleh penurunan volume, kenaikan biaya bahan bakar, serta biaya pesangon. Jika tidak memasukkan biaya pesangon, EBITDA tercatat sebesar USD207 juta dengan margin 17 persen.
Iwan menyebut perusahaan merespons tekanan tersebut dengan memperketat disiplin operasional dan efisiensi biaya. Langkah ini dilakukan untuk menjaga likuiditas dan memperkuat struktur keuangan.
“Kami merespons dengan memperketat disiplin operasional, memperkuat pengendalian biaya, serta menjaga likuiditas dan neraca,” kata dia.
Rugi bersih sebesar USD128 juta dipengaruhi oleh penurunan EBITDA, provisi piutang usaha, serta penurunan nilai aset di Australia dan Amerika Serikat. Faktor ini sebagian diimbangi oleh keuntungan nilai wajar investasi sebesar USD41 juta serta perbaikan selisih kurs.
Di tengah tekanan tersebut, DOID mencatat arus kas bebas positif sebesar USD8 juta, berbalik dari posisi negatif USD60 juta pada 2024. Pada kuartal IV saja, arus kas bebas mencapai USD57 juta, menjadi yang tertinggi sepanjang tahun.
Perbaikan operasional terlihat sepanjang tahun dengan peningkatan produktivitas dan efisiensi. Jam kerja alat meningkat 6 persen, waktu henti turun 31 persen, serta waktu tidak produktif turun 17 persen.
Biaya per unit juga menurun dari USD2,22 per bcm pada kuartal I menjadi USD1,83 per bcm pada kuartal IV. Perbaikan ini mendorong peningkatan EBITDA secara bertahap dari USD14 juta pada kuartal I menjadi USD48 juta pada kuartal IV.
Iwan menyebut perbaikan kinerja terjadi secara berurutan sepanjang tahun. Ia menilai langkah efisiensi mulai menunjukkan hasil pada produktivitas dan arus kas.
“Langkah yang kami ambil mendorong perbaikan bertahap pada produktivitas, biaya, dan arus kas sepanjang tahun,” ujarnya.
Dari sisi pendanaan, DOID melakukan sejumlah inisiatif untuk memperkuat likuiditas. Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman sindikasi USD1 miliar dari perbankan, menerbitkan sukuk Rp2 triliun, serta obligasi Rp884 miliar.
Selain itu, perusahaan juga melunasi obligasi global sebesar USD212 juta lebih awal untuk memperbaiki profil jatuh tempo utang. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan fleksibilitas struktur permodalan.
Di sisi operasional, DOID juga mengamankan sejumlah kontrak baru. Salah satunya perpanjangan kontrak di Australia senilai sekitar AUD740 juta hingga 2030, serta kontrak jangka panjang dengan PT Adaro Indonesia hingga 2030.
Perusahaan juga melanjutkan strategi diversifikasi dengan kepemilikan saham di sejumlah aset tambang global, termasuk 29Metals dan Atlantic Carbon Group.
Memasuki 2026, manajemen menyatakan fokus utama akan diarahkan pada peningkatan efisiensi operasional dan penguatan kinerja keuangan secara berkelanjutan.
“Kami memasuki 2026 dengan fondasi operasional yang lebih kuat serta fokus pada peningkatan kinerja yang konsisten,” kata Iwan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.