Logo
>

Dolar Menguat di Awal Pekan saat Konflik Timteng Masih Berlanjut

Penguatan dolar dipicu konflik Timur Tengah, menekan rupiah, memicu inflasi, dan berpotensi membebani APBN Indonesia.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Dolar Menguat di Awal Pekan saat Konflik Timteng Masih Berlanjut
Dolar menguat akibat konflik Timur Tengah, rupiah tertekan, harga minyak naik, dan APBN Indonesia berisiko terbebani subsidi energi. Foto: Dok. KabarBursa

KABARBURSA.COM — Ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah mulai tercermin di pasar keuangan global. Pada awal pekan, dolar Amerika Serikat menguat seiring meningkatnya permintaan terhadap aset yang dianggap aman. Pelaku pasar tampak menahan risiko setelah ancaman saling serang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran semakin terbuka.

Di kawasan Asia, tekanan langsung terasa di pasar saham. Bursa-bursa utama bergerak turun, sementara mata uang yang sensitif terhadap sentimen global ikut melemah. Dolar Australia, yang sering dijadikan indikator selera risiko global, terkoreksi ketika investor mulai mengurangi eksposur pada aset berisiko.

Di Jepang, pelemahan yen memicu kewaspadaan otoritas. Pejabat diplomasi mata uang Jepang menyatakan pemerintah siap mengambil langkah untuk meredam volatilitas di pasar valuta asing, seiring nilai tukar yen kembali mendekati level psikologis terhadap dolar.

Harapan meredanya konflik semakin menipis setelah akhir pekan diwarnai pernyataan keras dari kedua pihak. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menyerang jaringan listrik Iran. Di sisi lain, Teheran menyatakan siap membalas dengan menargetkan infrastruktur negara-negara di sekitarnya.

Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional Fatih Birol bahkan menilai krisis saat ini melampaui guncangan energi pada dekade 1970-an. “Krisis ini lebih buruk daripada dua guncangan minyak pada 1970-an jika digabungkan,” ujarnya dalam sebuah forum di Sydney, dikutip dari Reuters, Senin, 23 Maret 2026.

Dalam situasi seperti ini, dolar kembali menjadi pilihan utama investor. Indeks dolar yang mengukur kekuatan mata uang tersebut terhadap sejumlah mata uang utama naik tipis 0,08 persen ke level 99,62.

Sebaliknya, euro melemah ke USD1,1552 atau sekitar Rp19.523 per euro. Yen Jepang turun ke 159,45 per dolar atau setara Rp2,69 juta per 100 yen. Poundsterling juga melemah ke USD1,3331 atau sekitar Rp22.532.

Rodrigo Catril, analis mata uang dari National Australia Bank, melihat pasar mulai memilah negara yang diuntungkan dari lonjakan harga energi dan yang justru terbebani. “pasar melihat negara yang mendapatkan keuntungan dari kenaikan pasokan energi akan tampil lebih baik dibandingkan yang mengalami tekanan pasokan,” ujarnya.

Menurut dia, jika konflik berlangsung lama, mata uang seperti euro dan yen berpotensi mengalami tekanan lebih besar.

Di pasar saham, tekanan terlihat jelas. Indeks Nikkei Jepang sempat turun hingga 5 persen dalam satu sesi perdagangan. Kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga energi juga merambat ke pasar obligasi global.

Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika tenor 10 tahun naik mendekati level tertinggi dalam delapan bulan di kisaran 4,415 persen. Di Jepang, harga obligasi pemerintah turun tajam, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah suku bunga.

Sebelum konflik pecah pada akhir Februari, pelaku pasar masih memperkirakan adanya dua kali penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika tahun ini. Namun kini ekspektasi itu mulai memudar. Bahkan satu kali pemangkasan suku bunga pun dianggap semakin sulit terealisasi.

Efek yang Menjalar ke Indonesia

Lonjakan ketegangan di Timur Tengah mulai menjalar ke fondasi ekonomi Indonesia. Dampaknya belum sepenuhnya terasa di permukaan, tetapi sejumlah indikator utama menunjukkan tekanan yang makin nyata, dari harga energi hingga nilai tukar rupiah.

Di pasar global, harga minyak menjadi sinyal paling awal. Minyak mentah Brent bergerak di kisaran USD71,93 per barel atau sekitar Rp1,21 juta. Dalam beberapa pekan terakhir, harga sempat melonjak ke USD83,82 atau sekitar Rp1,41 juta, bahkan menyentuh USD100 per barel atau setara Rp1,69 juta saat eskalasi konflik meningkat.

Kenaikan ini melampaui asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN yang dipatok di USD70 per barel atau sekitar Rp1,18 juta. Selisih tersebut menjadi celah tekanan baru bagi fiskal.

Data Indonesia Crude Price menunjukkan tren yang kontras. Pada Desember 2025, ICP berada di USD61,10 per barel atau sekitar Rp1,03 juta. Artinya, lonjakan harga global saat ini bergerak jauh di atas rata-rata harga acuan domestik.

Struktur energi Indonesia membuat dampak kenaikan harga minyak tidak bisa dihindari. Konsumsi nasional masih sangat bergantung pada impor. Setiap hari Indonesia mengimpor sekitar 1 juta barel minyak, sementara produksi domestik hanya sekitar 600 ribu barel.

Ketergantungan ini membuat setiap kenaikan harga langsung menekan anggaran negara. Subsidi energi pada 2025 tercatat Rp203,4 triliun dan meningkat menjadi Rp210,1 triliun pada 2026. Jika digabung dengan kompensasi, total beban energi bahkan bisa mencapai Rp381,3 triliun.

Kenaikan harga minyak juga memiliki efek berantai terhadap anggaran. Setiap kenaikan USD1 per barel diperkirakan menambah beban sekitar Rp6,7 triliun. Dalam situasi harga yang melonjak cepat, ruang fiskal menjadi semakin sempit.

Tekanan tidak hanya datang dari sisi energi. Nilai tukar rupiah juga bergerak melemah di tengah menguatnya dolar Amerika Serikat. Rupiah sempat menyentuh level Rp16.990 per USD, lebih lemah dari asumsi APBN di kisaran Rp16.500.

Pelemahan ini mencerminkan pergeseran preferensi investor global yang beralih ke aset aman. Dalam situasi ketidakpastian, dolar menjadi tujuan utama aliran modal.

Di pasar keuangan, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ikut merasakan imbasnya. IHSG sempat turun ke level terendah dalam delapan bulan terakhir, dipicu keluarnya dana asing dan kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi.

Sebagai pasar negara berkembang, Indonesia menjadi salah satu tujuan pertama yang ditinggalkan investor saat sentimen global berubah menjadi risk off. Arus modal cenderung mengalir kembali ke aset yang dianggap lebih aman.

Kondisi ini membuat pergerakan pasar saham domestik menjadi lebih rentan terhadap dinamika global. Sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga dan konsumsi berpotensi mengalami tekanan lebih besar.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).