Logo
>

Dow Jones Sempat Rontok 1.100 Poin saat Konflik Timur Tengah Memanas

Indeks berbasis teknologi, Nasdaq Composite, juga ikut terkoreksi meski lebih moderat, yakni turun 0,3 persen

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Dow Jones Sempat Rontok 1.100 Poin saat Konflik Timur Tengah Memanas
Ilustrasi wall street. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Indeks-indeks utama di Wall Street berakhir di zona merah. Sentimen pasar terseret oleh lonjakan harga minyak dunia yang melesat ke titik tertinggi sejak musim panas 2024, dipicu eskalasi konflik antara Iran dengan Israel serta Amerika Serikat (AS).

Mengutip laporan Reuters, indeks acuan S&P 500 tergelincir 0,6 persen dan sekaligus menghapus keuntungan tipis yang sebelumnya sempat terbentuk sepanjang tahun ini. Dow Jones Industrial Average bahkan sempat terperosok lebih dari 1.100 poin sebelum akhirnya menutup sesi dengan penurunan 784 poin atau sekitar 1,6 persen. Indeks berbasis teknologi, Nasdaq Composite, juga ikut terkoreksi meski lebih moderat, yakni turun 0,3 persen.

Pelemahan tersebut terjadi ketika pasar keuangan global bergerak mengikuti denyut harga minyak. Lonjakan tajam pada komoditas energi memunculkan kekhawatiran baru di kalangan investor. Jika harga terus menanjak dalam waktu lama, tekanan terhadap ekonomi global bisa semakin terasa—mulai dari menurunnya daya beli rumah tangga hingga potensi suku bunga yang bertahan lebih tinggi.

Harga minyak mentah acuan Amerika Serikat melonjak 8,5 persen dan menetap di kisaran US$81,01 per barel. Di sisi lain, minyak mentah Brent yang menjadi patokan pasar internasional turut menguat 4,9 persen hingga mencapai US$85,41 per barel.

Menjelang penutupan perdagangan, harga minyak sempat bergerak turun dari puncaknya. Pergerakan ini membantu menahan penurunan lebih dalam di pasar saham AS. Meski demikian, atmosfer kehati-hatian tetap menyelimuti pasar karena investor masih menimbang kemungkinan gangguan terhadap produksi minyak global akibat konflik yang terus memanas.

Sejumlah analis mengingatkan bahwa situasi bisa menjadi jauh lebih rumit jika harga minyak menembus kisaran US$100 per barel dan bertahan di level tersebut. Lonjakan berkepanjangan pada komoditas energi berpotensi menjadi beban berat bagi perekonomian dunia.

Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada Selat Hormuz. Jalur pelayaran sempit di dekat pantai Iran ini memiliki arti strategis karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasinya setiap hari.

Meski ketegangan geopolitik meningkat, sejarah menunjukkan pasar saham Amerika Serikat kerap mampu pulih relatif cepat setelah konflik di Timur Tengah maupun kawasan lain. Syaratnya, lonjakan harga minyak tidak berlangsung terlalu lama atau terlalu ekstrem.

“Walau eskalasi konflik tetap menjadi faktor risiko, kami melihat kemungkinan yang lebih besar adalah meningkatnya sikap hati-hati investor yang bersifat sementara, setidaknya sampai muncul tanda-tanda bahwa konflik mulai mereda,” kata Scott Wren, Senior Global Market Strategist di Wells Fargo Investment Institute.

Secara keseluruhan, indeks S&P 500 turun 38,79 poin ke posisi 6.830,71. Dow Jones Industrial Average merosot 784,67 poin menjadi 47.954,74, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 58,50 poin dan berakhir di level 22.748,99.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.