Logo
>

DSNG Catat Kinerja Solid 2025, Ditopang Sawit dan Diversifikasi Bisnis

DSNG bukukan laba Rp1,8 triliun pada 2025, didorong sawit dan mulai ditopang diversifikasi kayu serta energi terbarukan.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
DSNG Catat Kinerja Solid 2025, Ditopang Sawit dan Diversifikasi Bisnis
DSNG catat kinerja solid 2025, laba naik 60,2 persen didorong sawit, serta kontribusi kayu dan energi terbarukan. Foto: Dok. DSNG

Poin Penting :

KABARBURSA.COM — PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) menutup tahun buku 2025 dengan kinerja yang relatif kuat di tengah dinamika industri global. Pertumbuhan perusahaan ditopang oleh kombinasi peningkatan volume penjualan dan membaiknya harga komoditas, terutama kelapa sawit.

Sepanjang 2025, DSNG membukukan laba bersih sebesar Rp1,8 triliun, naik 60,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari sisi pendapatan, perusahaan mencatatkan Rp12,3 triliun, tumbuh 21,7 persen secara tahunan.

Kontribusi terbesar masih berasal dari segmen kelapa sawit yang menyumbang sekitar 88 persen terhadap total pendapatan. Penjualan dari segmen ini mencapai Rp10,8 triliun atau tumbuh 23,5 persen, sejalan dengan kenaikan harga rata-rata crude palm oil (CPO) sebesar 13,2 persen menjadi Rp14,47 ribu per kilogram.

Direktur Utama DSNG Andrianto Oetomo menilai kondisi pasar global turut mendukung stabilitas harga sepanjang tahun.

“Produksi CPO di negara eksportir utama seperti Indonesia dan Malaysia masih terbatas, sementara permintaan global tetap kuat. Di sisi domestik, implementasi kebijakan B40 juga turut menjaga stabilitas permintaan sehingga harga CPO tetap berada pada tingkat yang kondusif bagi industri,” ujar Andrianto dalam keterangan tertulis yang diterima KabarBursa.com, Selasa, 31 Maret 2026.

Dari sisi operasional, kinerja produksi relatif terjaga. Produksi tandan buah segar (TBS) meningkat 3,8 persen menjadi 2,19 juta ton. Sementara produksi CPO tercatat sebesar 631 ribu ton dan kernel (PK) naik 4,5 persen menjadi 119 ribu ton.

Perseroan juga menjaga kualitas produk dengan mempertahankan kadar free fatty acid (FFA) pada kisaran 3 persen, yang mencerminkan konsistensi dalam pengelolaan operasional.

Di luar sawit, DSNG mulai menunjukkan penguatan pada segmen produk kayu. Penjualan segmen ini mencapai Rp1,2 triliun atau tumbuh 7,8 persen. Kenaikan didorong oleh meningkatnya permintaan produk panel kayu dan engineered flooring, serta penyesuaian harga jual rata-rata.

Perusahaan menilai perbaikan ini tidak terlepas dari strategi penyesuaian portofolio produk yang lebih adaptif terhadap kebutuhan pasar global. Sementara itu, segmen energi terbarukan juga mulai memberikan kontribusi tambahan. Pendapatan dari sektor ini mencapai Rp226 miliar, meningkat dari Rp182,8 miliar pada tahun sebelumnya.

Operasional pabrik pelet kayu di Boyolali menjadi salah satu pendorong, seiring meningkatnya kebutuhan energi berbasis rendah karbon di pasar global.  Dari sisi keuangan, DSNG mencatat total aset sebesar Rp17,6 triliun atau naik 1,2 persen. Liabilitas menurun menjadi Rp6 triliun, sehingga ekuitas meningkat menjadi Rp11,6 triliun.

Kinerja tersebut juga ditopang oleh penerapan tata kelola perusahaan yang dinilai konsisten, terutama dalam menjaga kehati-hatian operasional di tengah ketidakpastian global.

Dalam aspek reputasi, DSNG juga masuk dalam daftar Forbes Southeast Asia 500 dan Forbes Asia’s Best Under a Billion, yang mencerminkan pengakuan terhadap kinerja dan keberlanjutan bisnis perusahaan.

Ke depan, DSNG menargetkan pertumbuhan yang tetap terjaga melalui penguatan produktivitas, disiplin operasional, serta diversifikasi bisnis guna menghadapi dinamika industri yang terus berkembang.

Valuasi Relatif Moderat

Di tengah kinerja operasional yang cenderung stabil, valuasi saham DSNG mencerminkan posisi yang relatif moderat dibandingkan kinerja fundamentalnya. Berdasarkan data Stockbit, Price to Earnings (PE) ratio tercatat di level 9,56 kali, baik secara annualised maupun trailing twelve months (TTM), dengan proyeksi forward PE lebih rendah di 8,16 kali.

Level ini menunjukkan bahwa pasar masih memberi ruang terhadap potensi pertumbuhan laba ke depan, terutama jika kinerja operasional tetap terjaga dan harga komoditas tidak mengalami koreksi tajam.

Dari sisi pendapatan, rasio price to sales (P/S) berada di 1,43 kali, sementara price to book value (PBV) tercatat 1,53 kali. Angka ini mengindikasikan valuasi yang tidak terlalu premium, meski perusahaan memiliki basis aset yang kuat dan dominasi pada segmen sawit.

Sementara itu, rasio price to cash flow dan price to free cash flow masing-masing berada di 6,39 kali, mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas yang relatif sehat. Hal ini diperkuat oleh rasio EV to EBITDA yang berada di level 5 kali, yang umumnya dianggap masih dalam kisaran menarik untuk sektor berbasis komoditas.

Dari sisi solvabilitas, DSNG menunjukkan posisi keuangan yang cukup terjaga. Current ratio berada di level 1,35, yang menandakan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek masih dalam batas aman. Namun, quick ratio yang berada di 0,71 mengindikasikan ketergantungan pada persediaan dalam menjaga likuiditas.

Struktur permodalan juga relatif konservatif, dengan debt to equity ratio sebesar 0,36. Angka ini mencerminkan tingkat leverage yang masih terkendali, sehingga memberi ruang bagi perusahaan untuk ekspansi tanpa tekanan utang yang berlebihan.

Di sisi profitabilitas, DSNG mencatat return on assets (ROA) sebesar 10,45 persen dan return on equity (ROE) sebesar 16,03 persen. Kedua indikator ini menunjukkan efisiensi dalam pemanfaatan aset serta kemampuan menghasilkan imbal hasil bagi pemegang saham.

Margin keuntungan juga menunjukkan kinerja yang solid. Gross profit margin tercatat 30,66 persen, sementara operating profit margin mencapai 23,01 persen. Adapun net profit margin berada di level 15,54 persen, mencerminkan kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas di tengah dinamika harga komoditas.

Dari sisi imbal hasil kepada investor, DSNG mencatat dividend yield di kisaran 1,45 persen hingga 3,31 persen, dengan payout ratio yang bergerak antara 14,49 persen hingga 27,77 persen. Ini menunjukkan pendekatan yang relatif konservatif dalam pembagian dividen dengan tetap menjaga ruang untuk reinvestasi.

Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp17,6 triliun dan jumlah saham beredar 10,6 miliar lembar, DSNG berada dalam kategori emiten menengah dengan free float sebesar 32,39 persen.

Secara teknikal, pergerakan saham DSNG pada Selasa, 31 Maret 2026 menunjukkan tekanan jangka pendek yang masih berlangsung, meski mulai muncul tanda-tanda konsolidasi di area bawah. Harga terakhir tercatat di level 1.660 atau turun sekitar 4,05 persen dari posisi sebelumnya. Pelemahan ini terjadi setelah saham sempat menguat dan membentuk tren naik dalam beberapa sesi sebelumnya, sebelum akhirnya mengalami koreksi.

Posisi harga kini berada di sekitar area moving average (MA) 100 yang berada di kisaran 1.660. Level ini menjadi area support penting yang sedang diuji oleh pasar. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, potensi penahanan penurunan masih terbuka.

Sementara itu, MA20 yang berada di kisaran 1.678 mulai melandai dan cenderung bergerak mendatar, mengindikasikan bahwa momentum kenaikan mulai kehilangan tenaga. Jarak yang semakin dekat antara MA20 dan MA100 juga menunjukkan fase transisi dari tren naik ke konsolidasi.

Indikator Bollinger Bands terlihat mulai menyempit, mencerminkan volatilitas yang menurun setelah periode pergerakan yang cukup aktif. Penyempitan ini umumnya menjadi sinyal bahwa pasar sedang menunggu katalis baru sebelum menentukan arah berikutnya.

Dari indikator momentum, MACD masih berada di zona negatif dengan garis MACD berada di bawah garis sinyal. Histogram yang masih berwarna merah menunjukkan tekanan jual belum sepenuhnya mereda, meskipun intensitasnya mulai menurun. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tren jangka pendek masih cenderung lemah, namun mulai mendekati fase stabilisasi.

Secara keseluruhan, pergerakan DSNG saat ini berada dalam fase konsolidasi setelah mengalami kenaikan sebelumnya. Area 1.650–1.660 menjadi support krusial yang perlu dijaga, sementara resistensi terdekat berada di kisaran 1.670–1.680.

Jika support mampu bertahan, peluang rebound teknikal masih terbuka. Namun jika ditembus, potensi koreksi lanjutan menuju area yang lebih rendah menjadi risiko yang perlu diantisipasi oleh pelaku pasar.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).