KABARBURSA.COM – Dua saham perbankan, yaitu BBRI dan BBCA, tampil sebagai dua contributor utama arus keluar dana, terutama pada perdagangan bursa Selasa, 30 Desember 2025. Tidak heran jika kemudian pasar bertanya, bagaimana prospeknya di 2026?
Pada perdagangan hari ini, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, terlihat mengalami tekanan paling nyata. Net foreign sell mencapai Rp414,27 miliar dari total nilai transaksi Rp502,79 miliar, dengan volume 1,37 juta saham dan frekuensi yang tinggi, yakni 32,52 ribu kali.
Tingginya frekuensi ini menunjukkan bahwa aksi jual berlangsung aktif dan tersebar, bukan hanya berasal dari satu transaksi besar. Harga BBRI turun 3,71 persen ke level 3.660, mendekati batas bawah rentang intraday di 3.650, setelah dibuka di 3.690 dan sempat menyentuh level tersebut.
Pola ini mengindikasikan distribusi yang relatif agresif, di mana tekanan jual asing tidak sepenuhnya terserap oleh pembeli domestik pada level harga atas. Sebagai saham dengan bobot besar di IHSG, koreksi tajam BBRI memberi dampak langsung terhadap pergerakan indeks.
Berbeda dengan BBRI, pelepasan asing pada BBCA menunjukkan karakter yang lebih terkendali. Net foreign sell tercatat Rp227,73 miliar dari nilai transaksi Rp290,18 miliar, dengan volume 363,28 ribu saham dan frekuensi 9,52 ribu kali.
Secara nominal, tekanan ini tetap besar, namun dampaknya terhadap harga jauh lebih terbatas. BBCA ditutup stagnan di level 8.025, sama dengan penutupan sebelumnya, meski sempat bergerak di rentang 7.950 hingga 8.050.
Stabilitas harga di tengah arus keluar asing memberi sinyal adanya daya serap yang kuat di sisi bid, baik dari investor domestik maupun institusi yang melihat level harga ini masih layak dipertahankan. Dengan kata lain, meski asing keluar, pasar tidak membiarkan harga BBCA tergelincir terlalu dalam.
Pergerakannya Masih Sideways
Jika dibaca dari data transaksi dan struktur pasar, pelepasan asing pada BBRI dan BBCA saat ini lebih dipahami sebagai rotasi dan manajemen portofolio, bukan karena perubahan fundamental yang mendadak.
Untuk BBRI, alasan utama tekanan jual asing sangat terkait dengan siklus valuasi dan profit taking. Sepanjang 2025, BBRI menikmati reli panjang yang didorong oleh stabilitas kinerja mikro, dominasi di segmen UMKM, serta daya tarid dividen yang kuat.
Ketika memasuki akhir tahun, saham ini menjadi salah satu kandidat paling logis untuk direalisasikan keuntungannya oleh investor asing. Alasannya, likuiditas yang sangat besar dan kemudahan untuk keluar masuk.
Tekanan harga yang tajam, frekuensi transaksi yang tinggi, serta net foreign sell yang dominan menunjukkan bahwa ini adalah distribusi aktif, bukan sekadar penyesuaian teknis. Selain itu, pasar juga mulai lebih sensitif terhadap isu biaya kredit UMKM, risiko kenaikan NPL pasca-pengetatan likuiditas, serta potensi perlambatan pertumbuhan kredit di awal 2026.
Business Strategic and Develompent PT Mirae Asset sekuritas Indonesia Said Aulia Muhajir, menjelaskan, untuk BBRI pelepasan asing dianggap wajar, mengingat saat ini sedang dalam waktu exdate.
“Ya, saat ini BBRI sedang dalam waktu exdate. Sedangkan untuk perbankan lainnya seperti BBCA, BMRI, atau BBTN, semua masih dalam tahap wajar,” kata Said Ketika dihubungi KabarBursa.com, Selasa, 30 Desember 2025.
Berbeda dengan BBRI, BBCA dijual asing dengan pola yang jauh lebih terkendali. Net foreign sell memang besar secara nominal, tetapi harga relatif tidak turun. Ini mengindikasikan bahwa pelepasan BBCA lebih bersifat rebalancing bobot, bukan ekspresi kekhawatiran terhadap kinerja bank.
BBCA selama ini diperlakukan sebagai “core holding” oleh investor asing. Ketika pasar memasuki fase rotasi ke saham-saham siklikal dan komoditas, BBCA menjadi sumber dana yang paling aman untuk dicairkan tanpa menimbulkan volatilitas harga berlebihan.
Stabilnya harga BBCA di tengah arus keluar asing justru menegaskan bahwa permintaan struktural terhadap saham ini masih sangat kuat.
Jika diarahkan ke prospek kuartal I-2026, Said menjelaskan bahwa prospeknya masih sama, yaitu bergerak sideways. Penyebabnya Adalah belum adanya katalis yang mampu membalikkan keadaan saat ini.
“Gambarannya masih tetap sama jika suku bunga turun maka CoF turun dan NPL bisa membaik juga, beban provisi turun, minat terhadap kredit naik sehingga menaikan NIM,” jelas dia.
BBRI kemungkinan akan menghadapi kuartal yang lebih menantang secara sentimen, terutama jika tekanan di segmen UMKM belum sepenuhnya mereda dan pertumbuhan kredit bersifat lebih selektif.
Namun, jika koreksi harga berlanjut hingga valuasi menjadi lebih menarik, saham ini justru berpotensi kembali dilirik sebagai re-entry trade oleh institusi, terutama menjelang ekspektasi dividen dan normalisasi biaya risiko. Dengan kata lain, Q1-2026 bagi BBRI lebih menyerupai fase penyesuaian setelah reli panjang, bukan awal tren turun struktural.
Sementara itu, BBCA memasuki kuartal pertama 2026 dengan posisi yang relatif lebih defensif. Kualitas aset yang konsisten, basis dana murah yang kuat, serta disiplin manajemen risiko membuat BBCA tetap menjadi jangkar sektor perbankan.
Pelepasan asing yang terjadi saat ini tidak merusak struktur harganya, sehingga secara teknis dan fundamental, BBCA cenderung lebih siap menghadapi ketidakpastian awal tahun. Jika volatilitas global meningkat atau rotasi sektor mulai melemah, BBCA justru berpotensi kembali menjadi tujuan parkir dana, baik oleh investor domestik maupun asing.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.