KABARBURSA.COM - Aktivitas perdagangan saham oleh pemegang dengan kepemilikan lebih dari 5 persen kembali mencuri perhatian di Bursa Efek Indonesia (BEI). Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) memperlihatkan sejumlah pemegang saham utama melakukan transaksi bernilai besar, dengan sorotan tertuju pada PT Multipolar Tbk, jaringan usaha MNC milik Hary Tanoesoedibjo, serta konglomerat Prajogo Pangestu.
PT Multipolar Tbk tercatat melepas saham PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) dalam volume besar, sebanyak 475 juta lembar, sehingga porsi kepemilikannya menyusut dari 54,57 persen menjadi 50,91 persen. Meskipun masih berstatus sebagai pemegang saham pengendali, pasar menafsirkan langkah ini sebagai bagian dari penataan portofolio sekaligus upaya mempertahankan fleksibilitas pendanaan.
Sementara itu, grup MNC terlihat giat melakukan reposisi kepemilikan di sejumlah emiten. PT MNC Asia Holding Tbk menjual 100 juta saham PT Indonesia Transport & Infrastructure Tbk (IATA), yang menurunkan porsi kepemilikan dari 16,65 persen menjadi 16,33 persen. Pada saat bersamaan, MNC Asia Holding justru menambah saham PT MNC Land Tbk (KPIG) dengan pembelian 82,53 juta lembar, sehingga kepemilikan meningkat dari 18,65 persen menjadi 18,76 persen.
Penguatan kepemilikan juga terjadi di sektor media. PT Global Mediacom Tbk, entitas lain di dalam ekosistem MNC Group, membeli 8,44 juta saham PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), mendorong porsi kepemilikan dari 40,00 persen menjadi 40,06 persen. Aksi ini menandai langkah konsolidasi internal sekaligus memperkokoh kendali grup atas lini bisnis media.
Di antara konglomerat lain, Prajogo Pangestu kembali menambah porsi sahamnya di PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Ia membeli 5 juta lembar, sehingga kepemilikannya naik tipis dari 71,36 persen menjadi 71,37 persen, menegaskan kembali posisi pengendali atas emiten energi dan petrokimia tersebut.
Selain transaksi utama itu, data KSEI mencatat pergerakan lain yang menarik. Bukalapak.com Tbk kembali melakukan pembelian saham treasuri, sementara sejumlah investor institusi, termasuk DBS Bank Ltd, LDA Capital Limited, dan Sinar Mas Cakrawala, tercatat melakukan aksi jual terbatas pada beberapa saham.
Secara keseluruhan, manuver para pemegang saham besar ini memperlihatkan bahwa pasar masih berada dalam fase penyesuaian dan konsolidasi kepemilikan, bukan gelombang aksi lepas agresif. Meski begitu, langkah Multipolar, grup MNC, dan Prajogo Pangestu tetap menjadi sorotan investor, karena sering dipandang sebagai sinyal arah kebijakan korporasi di masa mendatang.(*)