KABARBURSA.COM – Harga emas fisik milik PT Aneka Tambang Tbk atau Antam berhasil menyentuh Rp2,6 juta per gram pada 27 Desember 2025. Kenaikan harga emas fisik ini menjadi penanta bahwa siklus emas hingga akhir tahun ini telah masuk fase yang lebih matang.
Harga emas global pun kini masuk fase aset premium, di mana dungsi lindung nilai, instrument spekulatif, dan aset kepercayaan bertemu dalam satu momen.
Pada level ritel, harga emas batangan Antam 1 gram berada di Rp2.605.000 sebelum pajak dan Rp2.611.513 setelah PPh 0,25 persen. Angka ini secara historis sangat tinggi dan menunjukkan bahwa emas fisik di Indonesia sudah tidak lagi sekadar mengikuti harga spot global, melainkan juga memuat premi likuiditas dan permintaan domestik.
Struktur harga per gram yang relatif konsisten hingga ukuran besar, termasuk ukuran 100 gram di atas Rp254 juta dan 1.000 gram di atas Rp2,54 miliar. Kondisi ini menegaskan bahwa permintaan tidak hanya datang dari pembeli kecil, tetapi juga investor besar yang mencari parkir dana jangka menengah.
Kondisi ini menjadi relevan ketika disejajarkan dengan pergerakan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Secara harian, saham ANTM ditutup di level 3.220, menguat hampir 1 persen dalam satu sesi, bergerak di rentang 3.180–3.290.
Pergerakan intraday yang relatif lebar, namun tetap ditutup positif, menunjukkan bahwa saham ini masih aktif diperdagangkan dan tidak mengalami distribusi agresif di level atas. Harga saham juga masih cukup jauh dari titik tertinggi 52 minggu di 3.930, sehingga memberi ruang bagi spekulasi lanjutan meski volatilitas mulai meningkat.
Namun, kekuatan sesungguhnya ANTM terlihat pada kinerja year to date. Dengan kenaikan sekitar 111 persen sepanjang tahun, saham ini jelas masuk kategori outperformer di Bursa Efek Indonesia. Kenaikan tersebut bahkan terjadi dengan dukungan volume yang sangat besar, yakni 219,9 juta saham YTD, jauh di atas rata-rata volume harian sekitar 121 juta saham.
Artinya, reli ANTM bukan reli tipis karena likuiditas rendah, melainkan reli yang dikonfirmasi oleh partisipasi pasar yang luas, baik ritel maupun institusi.
Meski demikian, menarik untuk dicermati bahwa kinerja saham ANTM tidak sepenuhnya “sebanding lurus” dengan lonjakan harga emas fisik. Emas Antam sudah menembus level psikologis baru di atas Rp2,6 juta per gram, sementara saham ANTM masih tertahan di bawah rekor tahunannya.
Ini menunjukkan adanya jeda antara sentimen harga komoditas dan refleksi valuasi saham. Dengan P/E ratio sekitar 10,4 kali dan dividend yield di kisaran 4,7 persen, pasar tampaknya masih menilai ANTM sebagai emiten tambang dengan disiplin valuasi, bukan sekadar proxy emas spekulatif.
Secara kritikal, situasi ini mengandung dua lapisan cerita. Di satu sisi, emas fisik bergerak sangat agresif karena faktor global seperti ekspektasi pelonggaran moneter, ketidakpastian geopolitik, dan pelemahan kepercayaan terhadap mata uang fiat.
Di sisi lain, saham ANTM bergerak lebih rasional, menimbang keberlanjutan margin, biaya produksi, serta kapasitas perusahaan mengonversi harga emas tinggi menjadi laba bersih yang konsisten. Inilah sebabnya saham tetap naik tajam YTD, tetapi tidak meledak secara parabolis seperti harga emas fisik.
Dalam konteks jangka pendek, pergerakan harian ANTM yang masih stabil di atas 3.200 menunjukkan bahwa pasar belum melihat sinyal distribusi besar. Namun, dalam konteks yang lebih luas, reli emas fisik yang sudah sangat tinggi berpotensi meningkatkan volatilitas saham tambang emas.
Jika harga emas mulai bergerak sideways atau terkoreksi, saham ANTM bisa masuk fase konsolidasi meski tren besarnya masih naik.
Kesimpulannya, performa emas Antam dan saham ANTM saat ini sama-sama kuat, tetapi bergerak dengan karakter yang berbeda. Emas fisik sudah berada di zona ekstrem yang sarat sentimen safe haven, sementara saham ANTM berada di fase reli yang lebih terkontrol, berbasis likuiditas dan fundamental.
Tantangan berikutnya bukan pada arah tren, melainkan pada daya tahan pasar menghadapi volatilitas setelah euforia harga emas setinggi ini mulai diuji waktu.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.