KABARBURSA.COM - Harga emas cenderung stabil pada perdagangan Kamis. Pasar menahan napas. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran meningkat, sementara data ketenagakerjaan AS menunjukkan fondasi pasar tenaga kerja masih kokoh menjelang rilis indikator inflasi krusial pekan ini.
Emas spot tercatat stagnan di level USD4.979,18 per ons pada pukul 01.31 WIB. Di saat yang sama, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April ditutup turun 0,2 persen ke posisi USD4.997,40 per ons, menurut laporan Reuters dari Bengaluru, Kamis 19 Februari atau Jumat 20 Februari 2026 dini hari WIB.
Daniel Pavilonis, Senior Market Strategist RJO Futures, menilai pergerakan logam mulia saat ini berada dalam fase konsolidasi yang fluktuatif namun relatif datar. Ketegangan dengan Iran menjadi penopang harga. Namun, ia mengingatkan bahwa meskipun prospek jangka panjang masih konstruktif atau bullish, peluang koreksi tetap terbuka akibat faktor lain di luar isu geopolitik.
Pernyataan keras kembali datang dari Presiden AS Donald Trump. Ia memperingatkan Iran agar segera mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya atau menghadapi konsekuensi serius. Bahkan, tenggat waktu 10 hari disinggung sebagai sinyal bahwa opsi tindakan lebih tegas tengah dipertimbangkan Washington.
Dalam lanskap seperti ini, emas kembali menjalankan peran klasiknya sebagai aset lindung nilai. Ketidakpastian geopolitik dan volatilitas ekonomi global lazimnya menjadi katalis penguatan bagi logam kuning, yang dipersepsikan sebagai tempat berlindung ketika risiko meningkat.
Di ranah moneter, risalah rapat Federal Reserve pada 27–28 Januari yang dirilis Rabu menunjukkan fragmentasi pandangan di antara para pejabat. Sebagian membuka ruang kenaikan suku bunga bila inflasi bertahan tinggi. Sebagian lain condong pada pelonggaran apabila tekanan harga mulai mereda. Divergensi ini menambah spektrum ketidakpastian arah kebijakan.
Data ekonomi terbaru memberi gambaran berbeda. Klaim tunjangan pengangguran mingguan AS turun ke 206.000 pada pekan yang berakhir 14 Februari, jauh di bawah proyeksi 225.000. Angka tersebut mempertegas ketahanan pasar tenaga kerja, memperkuat narasi bahwa ekonomi belum kehilangan momentumnya.
Fokus pelaku pasar kini tertuju pada rilis Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) Amerika pada Jumat, indikator inflasi preferensi The Fed. Data ini diharapkan menjadi kompas baru bagi proyeksi suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga pertama pada 2026 berpotensi terjadi pada Juni. Dalam lingkungan suku bunga rendah, emas—yang tidak memberikan imbal hasil—cenderung lebih atraktif dibanding instrumen berbasis bunga.
Di segmen logam mulia lainnya, perak spot naik 0,6 persen ke USD77,66 per ons setelah melonjak lebih dari 5 persen sehari sebelumnya. Sebaliknya, platinum turun 0,8 persen menjadi USD2.054,08 per ons, dan paladium terperosok 2,6 persen ke USD1.671,34 per ons. Dinamika ini mencerminkan pasar yang selektif, bergerak di antara risiko geopolitik dan ekspektasi moneter yang terus berubah.(*)