Logo
>

Emiten Media dan Sorotan Dewan Pers terhadap Tekanan Industri

Tekanan industri media sepanjang 2025 tercermin pada kinerja keuangan dan pergerakan saham emiten media di BEI.

Ditulis oleh Syahrianto
Emiten Media dan Sorotan Dewan Pers terhadap Tekanan Industri
Dewan Pers mencatat 2025 sebagai tahun penuh tantangan bagi industri media. (Foto: picpedia.org)

KABARBURSA.COM – Dewan Pers mencatat 2025 sebagai tahun penuh tantangan bagi industri media. Tekanan ekonomi, disrupsi digital, dan pergeseran iklan turut tercermin pada kinerja keuangan serta pergerakan saham emiten media di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang tahun berjalan.

Seiring dengan tekanan ekonomi tersebut, Dewan Pers juga menyoroti masih adanya ancaman terhadap kemerdekaan pers. Sejumlah peristiwa sepanjang 2025 menunjukkan bahwa rasa aman dalam menjalankan kerja jurnalistik belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini tercermin dalam Survei Indeks Kemerdekaan Pers (IKP) 2025 yang mencatat skor 69,44 atau berada pada kategori “cukup bebas”. Angka ini naik tipis dibanding 2024 sebesar 69,36, namun masih lebih rendah dibandingkan capaian pada periode sebelumnya.

Skor IKP tersebut menunjukkan bahwa perbaikan iklim pers berlangsung terbatas, sementara tantangan dalam menjaga kemerdekaan pers masih menjadi isu yang perlu mendapat perhatian berkelanjutan di tengah perubahan ekosistem industri media.

Dalam Catatan Akhir Tahun Dewan Pers 2025: Kemerdekaan Pers, Profesionalisme, dan Ekonomi Media Jadi Tantangan, tekanan ekonomi industri media menjadi sorotan utama. 

Disrupsi digital, berkurangnya belanja iklan, perubahan algoritma platform digital, serta pemanfaatan kecerdasan buatan membentuk tekanan struktural yang memengaruhi keberlanjutan usaha media. 

Data Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat lebih dari 800 pekerja media mengalami pemutusan hubungan kerja sejak 2024 hingga Juli 2025, dengan jumlah riil diperkirakan lebih besar.

Merespons situasi tersebut, Dewan Pers mendorong dialog dengan pemerintah, termasuk Kementerian Ketenagakerjaan, serta mengupayakan solusi jangka panjang. Upaya tersebut mencakup inisiatif Dana Jurnalisme Indonesia, usulan revisi Undang-Undang Hak Cipta agar karya jurnalistik memiliki hak ekonomi, serta penguatan persaingan usaha yang sehat antara platform digital dan perusahaan pers. Pada 17 Desember 2025, Dewan Pers menandatangani Nota Kesepahaman dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Selain itu, Dewan Pers juga menjalankan mandat pendataan dan verifikasi perusahaan pers. Hingga akhir Desember 2025, verifikasi faktual dilakukan terhadap 111 media, dengan 94 media dinyatakan lulus. Total media yang terverifikasi administratif maupun faktual mencapai 1.136 perusahaan pers. Sepanjang 2025, Dewan Pers juga memutakhirkan data terhadap 28 perusahaan pers yang masa berlaku verifikasinya berakhir.

Dari sisi penguatan manajemen, Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers menyelenggarakan berbagai pelatihan untuk meningkatkan keberlanjutan usaha perusahaan pers. 

Pelatihan mencakup pemanfaatan AI untuk pengembangan bisnis, optimasi dan analisis laporan keuangan, produksi kreatif, strategi konten YouTube, serta pengenalan E-Katalog INAPROC. 

Sepanjang Agustus hingga Desember 2025, tujuh pelatihan diikuti 243 peserta manajemen secara langsung dan 513 peserta dari luar DKI Jakarta, menjangkau total 246 perusahaan pers.

Emiten Media di Bursa Efek Indonesia

Tekanan struktural industri media tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan kinerja emiten media yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Sejumlah emiten media menghadapi tantangan yang serupa di sisi fundamental, meski berada pada skala dan model bisnis yang berbeda.

PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO) merupakan contoh media arus utama yang tetap bertumpu pada kredibilitas jurnalistik sebagai fondasi bisnis. 

Hingga kuartal III-2025, TMPO mencatatkan pendapatan usaha Rp308,34 miliar, dengan rugi bersih Rp26,85 miliar. Dari sisi neraca, total aset TMPO per 30 September 2025 tercatat Rp448,52 miliar, liabilitas Rp122,63 miliar, dan ekuitas Rp325,89 miliar. 

TMPO mampu menghasilkan skala pendapatan yang relatif besar untuk ukuran emiten media tetapi pendapatan tersebut belum cukup untuk menutup seluruh beban, sehingga perseroan masih membukukan rugi bersih.

Di segmen media digital, PT Arkadia Digital Media Tbk (DIGI) beroperasi dengan model portal daring yang sangat bergantung pada trafik dan monetisasi digital. 

Hingga kuartal III-2025, DIGI mencatatkan pendapatan usaha kumulatif Rp13,53 miliar, turun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp16,59 miliar. Sepanjang periode tersebut, perseroan masih membukukan rugi bersih, dengan tekanan berlanjut pada struktur permodalan, tercermin dari ekuitas negatif Rp8,00 miliar pada akhir kuartal I-2025 serta posisi kas yang menyusut menjadi Rp0,97 miliar per 30 September 2025.

Dari sisi neraca, total aset DIGI pada akhir September 2025 tercatat Rp39,15 miliar, sementara total liabilitas mencapai Rp47,15 miliar, menunjukkan struktur kewajiban yang masih lebih besar dibandingkan aset.

DIGI menunjukkan bahwa skala pendapatan perseroan masih relatif kecil dan belum stabil. Kerugian yang berlanjut telah menekan struktur permodalan, tercermin dari ekuitas negatif serta kas yang menipis.

Kondisi ini menggambarkan bahwa tantangan utama DIGI berada pada keberlanjutan finansial dan kemampuan menjaga likuiditas operasional di tengah model bisnis yang sangat bergantung pada trafik digital.

Berbeda dengan dua emiten tersebut, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) berada pada posisi sebagai grup media terintegrasi dengan diversifikasi bisnis yang lebih luas. 

Portofolio usaha mencakup penyiaran televisi, platform OTT, media digital, hingga bisnis berbasis teknologi. Diversifikasi ini memberikan bantalan pendapatan yang lebih beragam, meski kinerja saham tetap dipengaruhi dinamika pasar secara keseluruhan.

Hingga kuartal III-2025, EMTK membukukan pendapatan Rp8.809,52 miliar dan laba bersih Rp8.297,50 miliar, dengan total aset Rp26.288,63 miliar dan ekuitas Rp25.433,47 miliar.

Hal itu menunjukkan struktur neraca yang kuat, sehingga kinerja keuangan perseroan tidak hanya ditopang oleh bisnis media inti, tetapi juga oleh kontribusi investasi dan lini usaha non-media.

Sementara itu, PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) menghadapi tantangan khas industri penyiaran televisi. Hingga kuartal III-2025, VIVA mencatatkan pendapatan Rp873,66 miliar, namun masih membukukan rugi bersih Rp1.049,67 miliar, dengan ekuitas negatif Rp6.213,43 miliar.

VIVA mencerminkan tekanan struktural yang masih kuat di segmen penyiaran televisi, di mana pendapatan belum mampu menutup beban usaha, sehingga perseroan membukukan rugi bersih. 

Kerugian berulang tersebut telah berdampak langsung pada neraca dengan ekuitas negatif, menunjukkan bahwa tantangan VIVA tidak hanya bersifat operasional, tetapi juga berkaitan dengan pemulihan struktur permodalan di tengah pergeseran belanja iklan.

Perbandingan fundamental keempat emiten tersebut menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan dan laba tidak terjadi secara merata. 

Sebagian emiten masih berfokus pada stabilisasi arus kas, sementara yang lain mengandalkan diversifikasi usaha untuk menjaga kinerja. Kondisi ini mencerminkan bahwa tekanan industri media berdampak berbeda sesuai struktur bisnis masing-masing perusahaan.

Di pasar saham, pergerakan harga tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental secara langsung. Saham TMPO, misalnya, ditutup di level Rp168 per saham dengan nilai transaksi sekitar Rp1,10 miliar, meski perseroan masih mencatat rugi bersih Rp26,85 miliar hingga kuartal III-2025. 

Kondisi serupa terlihat pada DIGI yang diperdagangkan di Rp33 per saham dengan nilai transaksi harian sekitar Rp42,4 juta, di tengah posisi ekuitas negatif dan tekanan arus kas.

Pada perdagangan hari ini, Selasa, 30 Desember 2025, pergerakan saham emiten media berlangsung bervariasi dengan volume yang relatif selektif. TMPO mencatat volume perdagangan 6,77 juta saham, DIGI sekitar 1,23 juta saham, sementara EMTK menjadi yang paling aktif dengan volume 61,98 juta saham dan nilai transaksi mencapai Rp67,8 miliar. Adapun VIVA diperdagangkan sebanyak 28,32 juta saham dengan nilai transaksi sekitar Rp1,40 miliar.

Secara year to date (ytd), sebagian saham emiten media mencatat kenaikan signifikan dari level awal tahun. VIVA melonjak dari Rp6 menjadi Rp48 per saham, atau naik sekitar 700 persen, sementara EMTK menguat dari Rp492 ke Rp1.085 per saham, setara kenaikan 120,53 persen. 

Di sisi lain, TMPO hanya mencatat kenaikan terbatas sekitar 12,75 persen dari level awal tahun, sedangkan DIGI menguat sekitar 120 persen dari Rp15 ke Rp33 per saham dengan likuiditas yang relatif rendah.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa respons pasar lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen dan likuiditas dibandingkan perubahan fundamental jangka panjang, terutama pada saham-saham media yang diperdagangkan dengan volume terbatas atau berada di papan pemantauan khusus.

Dari sisi valuasi, harga saham emiten media berada pada rentang yang beragam, mulai dari Rp33 per saham untuk DIGI, Rp48 untuk VIVA, Rp168 untuk TMPO, hingga Rp1.085 per saham untuk EMTK, sejalan dengan perbedaan skala usaha, struktur fundamental, dan profil likuiditas masing-masing emiten.

Menutup 2025, Dewan Pers menegaskan tiga tantangan utama ke depan, yakni menjaga kemerdekaan pers dari kekerasan dan kriminalisasi, meningkatkan profesionalisme wartawan dan media, serta memastikan keberlanjutan ekonomi media di tengah perubahan ekosistem digital. (*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.