KABARBURSA.COM – Saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mulai kehilangan momentum setelah tekanan jual kembali muncul dalam beberapa perdagangan terakhir. Setelah sempat bertahan di area atas, saham emiten farmasi terbesar di Indonesia itu kini mulai bergerak di bawah rata-rata pergerakan jangka pendek atau MA20.
Pada perdagangan sesi berjalan, Selasa, 12 Mei 2026, KLBF ditutup di level 865 atau turun 2,81 persen dibanding penutupan sebelumnya di 890. Saham sempat dibuka di level 890 sebelum bergerak turun hingga menyentuh level terendah di 855 dan ditutup mendekati area bawah perdagangan harian.
Di saat itu, nilai transaksi saham KLBF tercatat mencapai Rp73,2 miliar dengan volume sekitar 838,83 ribu lot. Koreksi tersebut membuat pasar mulai memperhatikan apakah saham ini hanya sedang mengalami jeda penurunan sementara atau justru memasuki fase koreksi yang lebih panjang.
Dalam pembacaan teknikal, posisi KLBF saat ini diperkirakan sedang berada pada bagian dari wave 4 dari wave (C) dari wave [Y]. Artinya, pasar melihat saham ini sedang masuk fase konsolidasi atau koreksi sementara sebelum mencoba membangun arah baru.
Karena itu, area 870–880 mulai dipandang sebagai zona trading buy jangka pendek. Sementara, target rebound teknikal masih berada di kisaran 970 hingga 1.010, dengan batas pengamanan atau stoploss di bawah level 850.
Area Support Penting
Perhatian pasar kini tertuju pada area support penting KLBF di kisaran 850–871. Data pivot point menunjukkan support klasik pertama berada di level 871, sementara support kuat berikutnya berada di area 853 hingga 850.
Jika area tersebut mampu bertahan, pasar mulai melihat peluang terjadinya technical rebound menuju area 895, 903, hingga 921. Namun bila level 850 ditembus, tekanan jual berpotensi kembali membesar karena pasar akan membaca momentum rebound sebelumnya mulai melemah.
Konsensus Masih Kasih Sinyal Kuat
Meski secara teknikal sedang tertekan, menariknya konsensus analis terhadap KLBF justru masih sangat kuat. Data konsensus menunjukkan sebanyak 26 analis masih memberikan rekomendasi buy, hanya dua analis yang menempatkan rekomendasi hold, dan tidak ada rekomendasi sell.
Target harga rata-rata analis terhadap KLBF juga masih berada di level Rp1.484. Angka tersebut jauh di atas harga saham saat ini yang berada di area 865, dengan proyeksi tertinggi mencapai Rp1.980 dan target terendah sekitar Rp1.075.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pasar institusi tampaknya belum kehilangan kepercayaan terhadap fundamental KLBF. Di tengah tekanan teknikal jangka pendek, saham ini masih dipandang memiliki karakter defensif dengan pertumbuhan bisnis yang relatif stabil.
Konsensus analis memperkirakan pendapatan KLBF akan meningkat dari sekitar Rp35,33 triliun pada 2025 menjadi Rp37,89 triliun pada 2026 dan kembali naik ke Rp40,94 triliun pada 2027.
Laba bersih juga diproyeksikan terus bertumbuh dari Rp3,67 triliun pada 2025 menjadi Rp3,78 triliun pada 2026 dan Rp4,17 triliun pada 2027. Sementara laba per saham atau EPS diperkirakan meningkat dari 78,29 menjadi 89,59 dalam periode yang sama.
Situasi tersebut membuat pergerakan KLBF besok mulai menjadi perhatian pasar. Di satu sisi, tekanan jual masih membayangi setelah saham turun di bawah MA20. Namun di sisi lain, konsensus analis yang tetap bullish membuat sebagian pelaku pasar mulai melihat area koreksi saat ini sebagai fase uji support sebelum arah berikutnya terbentuk.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.