KABARBURSA.COM – PT Folago Global Nusantara Tbk atau dalam kode saham IRSX semakin agresif menggarap industri hiburan digital dengan fokus pada mikro drama, format tontonan pendek yang selama ini populer lewat drama China atau akrab disebut Drachin dan kerap viral di berbagai platform media sosial. Strategi ini menjadi pintu masuk Folago untuk membangun ekosistem konten terintegrasi, sekaligus menyiapkan peluncuran aplikasi milik sendiri bernama Tidak Tidur yang ditargetkan meluncur pada kuartal pertama 2026.
Direktur Utama Folago Global Nusantara Tbk, Subioto Jingga, mengatakan ekspansi ke mikro drama dan film bukan keputusan mendadak, melainkan bagian dari rencana bisnis yang sudah disiapkan sejak tahun lalu dan kini mulai direalisasikan.
“Kami membangun dari mikro drama, lalu masuk ke film, kemudian series. Ini satu siklus utuh,” ujar Subioto di Kuningan, Jakarta Selatan dikutip Jumat, 23 Januari 2026.
Mikro drama yang dikembangkan Folago digambarkan memiliki karakter serupa dengan drama China berdurasi pendek yang kerap muncul di media sosial, dengan alur cerita cepat, konflik padat, dan episode singkat yang dirancang untuk konsumsi digital. Format ini dinilai cocok dengan pola konsumsi masyarakat saat ini yang menginginkan hiburan instan namun tetap berkelanjutan.
Tidak hanya memproduksi cerita lokal, Folago juga berencana mengadopsi dan mengakuisisi cerita mikro drama dari luar negeri yang telah terbukti sukses secara komersial. Ribuan judul mikro drama dari pasar internasional akan diadaptasi dan ditayangkan melalui aplikasi Tidak Tidur, dengan penyesuaian budaya dan selera penonton Indonesia.
Dari mikro drama tersebut, Folago kemudian mengembangkan intellectual property atau IP ke level berikutnya, mulai dari film layar lebar hingga serial. Pendekatan ini membuat satu cerita tidak berhenti di satu format, tetapi terus dimonetisasi melalui berbagai kanal distribusi.
Menurut Subioto, strategi ini membedakan Folago dari pola investasi film konvensional yang umumnya hanya berfokus pada satu judul. Dengan ekosistem IP yang terintegrasi, potensi pendapatan dinilai bisa jauh lebih optimal.
“Kami ingin full monetization-nya lebih maksimal,” ujarnya.
Dalam pengembangan film layar lebar, Folago fokus pada genre horor, komedi, dan drama yang dinilai paling sesuai dengan kebutuhan pasar domestik. Beberapa proyek film hasil co-investment dengan rumah produksi besar direncanakan tayang di bioskop sepanjang 2026 hingga 2027, dengan rilis yang tersebar di setiap kuartal.
Untuk skema pendanaan, nilai investasi Folago per judul film bervariasi, mulai dari Rp2 miliar hingga Rp15 miliar, tergantung skala dan kebutuhan cerita. Perseroan tidak mengambil pendanaan penuh kecuali untuk proyek yang diproduksi secara in-house.
Dari sisi kinerja, Folago membidik tingkat pengembalian investasi minimal 200 persen dari divisi perfilman.
“Target kami 2 kali lipat dari investasi,” kata Subioto.
Peluncuran aplikasi Tidak Tidur menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Platform ini akan menjadi rumah bagi mikro drama, konten adaptasi internasional, serta produksi lokal Folago. Aplikasi tersebut saat ini telah memasuki tahap final testing dan dijadwalkan rilis dalam waktu dekat.
Konsep aplikasi Tidak Tidur disebut berbeda dengan platform streaming yang sudah ada di Indonesia. Selain menonton, pengguna akan memiliki pengalaman interaktif yang lebih luas, meski detail mekanismenya belum diungkapkan ke publik.
“Ini bakal berbeda dengan aplikasi yang sudah ada di Indonesia. Jadi orang boleh nonton, dan dia bisa dapet uang, kira-kira begitu. Makanya namanya Tidak Tidur, nonton sampai tidak tidur. Tapi detail cara mainnya nanti tunggu waktu rilis,” kata dia.
IRSX baru saja melakukan ekspansi bisnisnya di industri perfilman nasional dengan menandatangani Memorandum of Understanding untuk skema co-investment lebih dari 10 proyek film layar lebar sepanjang 2026. Melalui unit usahanya Folago Pictures, IRSX menggandeng sejumlah rumah produksi papan atas Indonesia, di antaranya Visinema Pictures, MVP Pictures, VMS Pictures, Tiger Wong Entertainment, dan KUY STUDIO.
Subroto menjelaskan dana investasi sebesar Rp500 miliar dan itu bakal dialokasikan untuk berbagai lini, mulai dari produksi film layar lebar, microdrama, serial untuk platform over-the-top, hingga skema co-investment dengan rumah produksi mitra. Target pendapatannya 200 persen dari nilai yang diinvestasikan.
Di tengah rencana ekspansi itu, saham IRSX berada di harga 675 pada Jumat, 23 Januari 2025. Sebelumnya selama tiga bulan terakhir sempat mengalami bullish dari sebelumnya 200 dan sempat menyentuh angka tertinggi 785 per lembarnya.(*)