KABARBURSA.COM— PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menargetkan tahun 2026 sebagai titik balik atau fase turnaround kinerja perusahaan setelah menghadapi tekanan operasional dan keuangan sepanjang 2025.
Upaya itu dilakukan melalui percepatan transformasi bisnis, penguatan struktur permodalan, hingga pemulihan kapasitas produksi armada secara bertahap.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, menegaskan bahwa berbagai langkah transformasi tengah dijalankan secara konsisten untuk memperbaiki fundamental bisnis perusahaan.
“Melalui eksekusi transformasi yang konsisten, Garuda Indonesia optimistis dapat mempercepat langkah menuju fase turnaround yang lebih solid,” kata Glenny dikutip Sabtu, 21 Maret 2026.
Sepanjang tahun buku 2025, Garuda Indonesia mencatatkan pendapatan usaha konsolidasi sebesar USD3,22 miliar, turun 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi seiring fase konsolidasi operasional yang dilakukan untuk memperkuat fondasi bisnis.
Di sisi lain, perseroan juga masih membukukan rugi bersih sebesar USD319,39 juta. Ia menjelaskan kondisi penurunan dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar serta meningkatnya biaya tetap, terutama akibat program pemulihan armada yang belum sepenuhnya beroperasi.
Tekanan kinerja tersebut tidak lepas dari terbatasnya kapasitas produksi, khususnya pada semester I 2025. Saat itu, jumlah pesawat yang belum dapat dioperasikan masih cukup tinggi karena menunggu jadwal perawatan. Hingga pertengahan tahun, jumlah armada yang siap terbang masih terbatas.
Namun secara bertahap, Garuda Indonesia mulai meningkatkan jumlah armada yang dapat dioperasikan. Hingga akhir 2025, jumlah serviceable aircraft meningkat menjadi 99 pesawat, dari sebelumnya sekitar 84 pesawat pada Juni 2025. Sementara itu, masih terdapat 43 pesawat yang belum dapat dioperasikan dan tengah dalam proses perawatan.
Di tengah keterbatasan tersebut, jumlah penumpang yang dilayani sepanjang 2025 mencapai 21,2 juta, meski turun 10,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain faktor armada, tekanan kinerja juga dipengaruhi oleh penurunan passenger yield, pelemahan nilai tukar rupiah, serta tantangan rantai pasok industri aviasi global yang berdampak pada biaya dan proses maintenance.
Memasuki 2026, Garuda Indonesia menargetkan pemulihan kapasitas produksi yang lebih kuat. Secara grup, jumlah armada ditargetkan mencapai sedikitnya 118 pesawat pada akhir 2026, yang terdiri dari 68 pesawat Garuda Indonesia dan 50 pesawat Citilink yang siap beroperasi.
Upaya ini didukung oleh percepatan program perawatan, termasuk heavy maintenance pada armada Boeing 737-800NG, Boeing 777-300ER, serta Airbus A330. Selain itu, dilakukan pula overhaul komponen utama seperti mesin, Auxiliary Power Unit (APU), dan landing gear untuk memastikan kinerja armada tetap optimal.
Dari sisi keuangan, perbaikan mulai terlihat pada struktur permodalan. Garuda Indonesia mencatatkan ekuitas positif sebesar USD91,9 juta per akhir 2025, berbalik dari posisi negatif USD1,35 miliar pada tahun sebelumnya.
Perbaikan itu tidak lepas dari dukungan pendanaan melalui shareholder loan dan capital injection yang diberikan oleh Danantara dengan total sekitar Rp23,7 triliun.
Sebagian besar dana tersebut, sekitar Rp15 triliun atau 64 persen, dialokasikan untuk Citilink, sementara Garuda Indonesia memperoleh sekitar Rp8,7 triliun yang difokuskan untuk perawatan dan reaktivasi armada.
Dari sisi likuiditas, perusahaan juga mencatatkan peningkatan signifikan pada kas dan setara kas menjadi USD943,4 juta pada akhir 2025, naik dari US$219,1 juta pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas operasional dan mendukung transformasi yang sedang berjalan.
Sejalan dengan itu, manajemen baru yang ditunjuk pada akhir 2025 turut memperkuat arah transformasi. Selain Glenny Kairupan sebagai Direktur Utama, struktur manajemen juga diperkuat oleh Wakil Direktur Utama Thomas Oentoro serta kombinasi talenta internal dan profesional internasional.
Dalam fase transformasi ini, Garuda Indonesia menjalankan 11 inisiatif strategis, mulai dari optimalisasi jaringan rute, peningkatan kapasitas armada, transformasi digital, hingga penguatan pendapatan kargo dan peningkatan pengalaman pelanggan.
Seluruh langkah tersebut diarahkan untuk mendorong efisiensi operasional, meningkatkan pendapatan, serta memperkuat daya saing di tengah dinamika industri penerbangan global. (*)