Logo
>

Gencatan Senjata Bikin Adem, IHSG Lompat ke Level 7.207

Lonjakan indeks ditopang sektor basic industry dan saham LQ45, di tengah koreksi tajam harga minyak serta meredanya tensi geopolitik global.

Ditulis oleh Yunila Wati
Gencatan Senjata Bikin Adem, IHSG Lompat ke Level 7.207
IHSG berhasil kembali ke level 7.000-an usai Presiden AS Donald Trump menyatakan menyetujui gencatan senjata dengan Iran. (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi I perdagangan Rabu, 8 April 2026, memperlihatkan lonjakan yang tidak hanya besar secara angka, tetapi juga merata secara struktur pasar. 

Indeks melesat 236 poin atau 3,39 persen ke level 7.207, dengan nilai transaksi mencapai Rp12,99 triliun dari volume 268,6 juta lot saham.

Kenaikan ini tidak datang dari satu atau dua sektor saja, melainkan terbentuk dari dorongan yang hampir menyeluruh. Seluruh sektor tercatat berada di zona hijau, dengan sektor basic industry menjadi motor utama setelah melonjak 7,18 persen. 

Pergerakan sektor ini langsung tercermin pada saham-saham dengan kenaikan signifikan seperti BRPT yang melesat 17,12 persen, diikuti IMPC 10 persen, TPIA 5,98 persen, serta TKIM dan INTP yang masing-masing naik di atas 2 persen.

Di sisi lain, pergerakan saham lapis besar dalam indeks LQ45 menunjukkan distribusi kenaikan yang cukup luas. 

Saham-saham seperti BRPT, INCO, AMMN, BUMI, BREN, EXCL, dan BBNI masuk dalam jajaran top gainers. Hal ini memperlihatkan bahwa penguatan tidak hanya terkonsentrasi di sektor tertentu, tetapi juga menyebar ke energi, perbankan, hingga komoditas.

Saham-saham Energi Masuk Top Losers

Namun di tengah penguatan tersebut, masih terdapat tekanan pada sejumlah saham berbasis energi dan komoditas. MEDC, AADI, PTBA, ITMG, hingga UNTR masuk dalam daftar top losers LQ45, menunjukkan adanya tekanan yang lebih spesifik pada kelompok saham yang sensitif terhadap harga energi global. 

Pergerakan ini terjadi seiring dengan penurunan tajam harga minyak pada hari yang sama.

Harga minyak mentah Brent turun 13,3 persen menjadi USD94,76 per barel, sementara WTI terkoreksi 15,2 persen ke USD95,79 per barel. 

Penurunan ini terjadi setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyetujui gencatan senjata sementara dengan Iran selama dua minggu, dengan syarat pembukaan Selat Hormuz. 

Kawasan tersebut selama ini menjadi jalur sekitar 20 persen distribusi minyak dunia, sehingga setiap perkembangan di wilayah ini langsung tercermin pada harga energi global.

Bursa Asia Serempak Hijau

Perubahan arah harga minyak ini langsung mempengaruhi persepsi risiko di pasar. Tekanan yang sebelumnya datang dari lonjakan harga energi mulai mereda, dan hal ini tercermin pada pergerakan bursa Asia yang juga bergerak serempak di zona positif. 

Indeks Kospi melonjak paling tinggi sebesar 7,40 persen, diikuti Shenzhen 3,87 persen dan Nikkei 3,70 persen. Bahkan indeks utama lain seperti Hang Seng, CSI 300, dan ASX200 turut mencatatkan kenaikan di atas 2 persen.

Pergerakan ini menunjukkan adanya perubahan sentimen yang cukup cepat dari kekhawatiran menuju respons yang lebih positif terhadap risiko global. Penurunan harga energi dipandang sebagai faktor yang dapat meredakan tekanan inflasi, yang pada akhirnya membuka ruang terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga yang lebih longgar.

Rupiah di Level 17.012

Dinamika tersebut juga tercermin pada pasar mata uang Asia. Mayoritas mata uang regional menguat terhadap dolar AS, dengan baht menguat 1,43 persen, ringgit 1,05 persen, dan dolar Australia 1,33 persen. 

Rupiah sendiri terapresiasi 0,54 persen ke level 17.012 per dolar AS, bergerak sejalan dengan penguatan mata uang kawasan.

Jika ditarik ke dalam konteks IHSG, kombinasi antara penurunan harga minyak, penguatan mata uang regional, dan lonjakan bursa Asia membentuk satu aliran sentimen yang searah. Penguatan indeks pada sesi I tidak hanya didorong oleh faktor domestik, tetapi juga oleh perubahan persepsi global terhadap risiko energi dan stabilitas geopolitik.

Pergerakan sektor basic industry yang menjadi pendorong utama menunjukkan bahwa rotasi sektor juga ikut terjadi dalam satu waktu yang sama. Sementara saham energi mengalami tekanan, sektor lain justru mengambil alih peran sebagai penggerak indeks, menciptakan struktur kenaikan yang lebih merata dalam satu sesi perdagangan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79