KABARBURSA.COM - Di saat harga emas melesat dan mencetak rekor anyar pada 2026, ketertarikan investor terhadap logam mulia sebagai instrumen pelindung nilai justru dinilai menyimpan potensi salah langkah. Goldman Sachs mengingatkan, euforia terhadap emas demi alasan keamanan portofolio berisiko menjerumuskan investor pada strategi yang kurang tepat.
Dalam laporan prospek 2026, tim strategi investasi unit wealth management Goldman Sachs menegaskan bahwa emas memiliki rekam jejak koreksi yang tajam dan berlarut. Dalam beberapa episode sejarah, penurunannya bahkan pernah menembus kisaran 70 persen. Gambaran ini berbanding terbalik dengan obligasi pemerintah Amerika Serikat yang selama ini dipersepsikan sebagai peredam guncangan portofolio saat turbulensi pasar meningkat.
Secara historis, emas juga dicatat memiliki tingkat volatilitas yang melampaui saham AS, dengan ruang penurunan yang lebih ekstrem. Lebih jauh, efektivitas emas sebagai pelindung inflasi—dalam konteks menghasilkan imbal hasil riil—hanya terbukti pada sekitar separuh dari periode bergulir 20 tahunan. Hal itu disampaikan Brett Nelson, Kepala Tactical Asset Allocation Goldman Sachs, dalam pemaparannya kepada media.
Nelson menambahkan, saham AS justru menunjukkan konsistensi dalam mengungguli inflasi sepanjang horizon 20 tahun. Dengan karakter tersebut, ekuitas dinilai lebih reliabel sebagai mesin pertumbuhan nilai portofolio jangka panjang. Seperti dikutip marketwatch, Jakarta, Rabu 14 Januari 2026.
Peringatan Goldman hadir di tengah derasnya aliran dana menuju emas. Pada Senin, investor mengucurkan sekitar US$950 juta ke SPDR Gold Shares (GLD), salah satu ETF emas terbesar dunia, berdasarkan data FactSet. Arus masuk ini membalikkan tren keluarnya dana sebelumnya, sehingga secara kumulatif sepanjang 2026 ETF tersebut mencatatkan dana bersih masuk sekitar US$118 juta.
Kinerja GLD sendiri masih menunjukkan ketangguhan. Setelah melonjak hampir 64 persen sepanjang 2025—menjadi kenaikan tahunan tertinggi sejak diluncurkan pada 2004—ETF ini kembali menguat lebih dari 6 persen sepanjang 2026, melampaui performa pasar saham AS sejauh ini. Harga emas pun sempat menyentuh puncak tertinggi sepanjang masa pada Senin, sebelum mengalami koreksi ringan pada perdagangan Selasa.
Namun, pandangan Goldman tidak sepenuhnya sejalan dengan sebagian pelaku pasar. Wells Fargo Investment Institute menilai emas masih memiliki ruang apresiasi pada 2026. Proyeksi tersebut ditopang oleh eskalasi tensi geopolitik, pembelian agresif oleh bank sentral global, serta ekspektasi penurunan suku bunga The Fed dan stabilitas dolar AS—meski dengan ritme yang lebih moderat dibanding 2025.
Pada saat yang sama, bursa saham AS juga menorehkan sejarah baru. Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada Senin, meskipun dibayangi kekhawatiran atas independensi The Fed terkait penyelidikan Departemen Kehakiman terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell.
Dalam pandangannya, Goldman menegaskan posisi tetap overweight pada saham AS. Menjadi underweight terhadap ekuitas AS dinilai sangat sulit kecuali terdapat keyakinan kuat akan terjadinya resesi dalam waktu dekat. Menurut Nelson, fondasi ekonomi masih menopang pertumbuhan laba korporasi, dan dalam jangka panjang, pergerakan S&P 500 akan selaras dengan arah kinerja laba perusahaan.(*)