KABARBURSA.COM – PT Graha Prima Mentari Tbk (GRPM) menjelaskan penyebab peningkatan laba bersih di tengah tekanan kinerja operasional sepanjang 2025.
Penjelasan itu disampaikan saat kinerja penjualan perseroan justru menurun secara tahunan, meski ekspansi distribusi tetap berjalan. Kontras tersebut menjadi perhatian pasar, terutama karena laba bersih masih mampu tumbuh ketika pendapatan dan aset mengalami koreksi.
Dalam paparan publik, penurunan kinerja penjualan diposisikan sebagai bagian dari fase penyesuaian. Direktur Utama GRPM Agus Susanto menyebut 2025 bukan periode yang ideal bagi perseroan untuk mendorong pertumbuhan volume secara agresif. Fokus manajemen diarahkan pada penguatan struktur fundamental agar tekanan operasional tidak berujung pada pelemahan neraca.
“Tahun 2025 memang bukan tahun yang baik, sehingga fokus kami bukan hanya mengejar penjualan, tetapi menata struktur biaya dan operasional,” ujar Agus dalam ringkasan risalah public expose insidentil, dikutip Senin, 14 Januari 2026.
Agus menjelaskan ekspansi area distribusi yang dilakukan perseroan belum sepenuhnya tercermin dalam kinerja keuangan jangka pendek. Penambahan wilayah dinilai masih berada pada fase penetrasi awal, sehingga kontribusinya terhadap penjualan belum optimal.
Dalam fase tersebut, beban operasional cenderung lebih dulu muncul sebelum skala distribusi mencapai titik efisien. Kondisi ini membuat manajemen memilih pendekatan konservatif terhadap pengelolaan biaya, sembari memastikan ekspansi tetap berjalan terukur.
Data kinerja menunjukkan penjualan perseroan turun 11 persen secara tahunan (year on year/yoy) hingga kuartal III 2025. Laba kotor juga turun 8 persen pada periode yang sama. Namun, laba bersih justru tumbuh 8 persen, mencerminkan perbaikan pada sisi efisiensi. Total aset tercatat turun 14 persen, sejalan dengan penyesuaian struktur neraca yang dilakukan sepanjang tahun.
Manajemen menekankan bahwa penurunan aset tersebut tidak diiringi pelemahan ekuitas.
Peningkatan laba bersih di tengah tekanan pendapatan dijelaskan sebagai hasil dari strategi efisiensi biaya yang lebih disiplin. Manajemen menyebut pengendalian biaya operasional menjadi fokus utama, termasuk optimalisasi aset yang dapat dikontrol secara langsung. Digitalisasi pemantauan operasional juga disebut membantu perseroan menekan pemborosan dan meningkatkan visibilitas biaya.
“Kami menekan biaya yang bisa kami kontrol. Dari sisi liabilitas juga turun, sementara ekuitas tetap positif,” kata Agus.
Langkah efisiensi tersebut diposisikan bukan sebagai kebijakan jangka pendek. Manajemen menegaskan pendekatan ini akan dilanjutkan pada 2026 sebagai bantalan finansial sebelum mendorong pertumbuhan volume secara lebih agresif.
Dengan struktur biaya yang lebih ramping, perseroan menilai profitabilitas dapat dijaga meski tekanan pada sisi pendapatan belum sepenuhnya mereda. Strategi ini mencerminkan upaya menstabilkan fase kinerja sebelum memasuki tahap pertumbuhan berikutnya.
Saham GRPM Kembali Disuspensi
Perdagangan saham PT Graha Prima Mentari Tbk kembali dihentikan sementara oleh BEI. Bursa menyatakan penghentian dilakukan karena adanya peningkatan harga kumulatif yang dinilai signifikan.
Dalam pengumuman resminya, Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI Yulianto Aji Sadono Pande Made Kusuma Ari A. menyebut langkah tersebut diambil sebagai bagian dari mekanisme cooling down.
“Sehubungan dengan terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada saham PT Graha Prima Mentari Tbk (GRPM), Bursa memandang perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan,” tulis Yulianto dalam pengumuman tertanggal 9 Januari 2026. Suspensi berlaku di Pasar Reguler dan Pasar Tunai, termasuk terhadap waran GRPM-W.
Penghentian sementara ini bukan kali pertama terjadi. Pada awal Januari 2026, bursa sempat membuka kembali perdagangan saham GRPM sebelum kembali menghentikannya beberapa hari kemudian dengan alasan serupa.
Pola yang sama juga tercatat pada Februari 2025, ketika BEI melakukan suspensi atas saham GRPM setelah terjadi kenaikan harga kumulatif dalam waktu singkat. (*)