KABARBURSA.COM - Bursa saham Asia bergerak menguat pada perdagangan Rabu, 6 Mei 2026. Penguatan bursa Asia didorong kombinasi sentimen global yang membaik, mulai dari penguatan Wall Street, penurunan harga minyak, hingga meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data yang dihimpun KabarBursa.com, Indeks Hang Seng dibuka di 26.029,65 dan sempat bergerak di kisaran 25.877,82 hingga 26.029,65, lebih tinggi dari penutupan sebelumnya di 25.898,61.
Sementara itu, indeks Kospi mencatat lonjakan signifikan dengan dibuka di 7.093,01 dan menyentuh level tertinggi 7.338,61, jauh di atas penutupan sebelumnya di 6.936,99.
Penguatan juga terjadi di daratan China, dengan Shanghai Composite dibuka di 4.135,45 dan bergerak hingga 4.147,45, dibandingkan penutupan sebelumnya di 4.112,16.
Di Jepang, Nikkei bergerak terbatas dengan dibuka di 59.379,12 dan mencapai level tertinggi 59.706,70, dari penutupan sebelumnya di 59.284,92.
Penguatan bursa Asia terjadi seiring sentimen positif dari Wall Street yang mencetak rekor baru pada awal Mei 2026. Indeks S&P 500 naik sekitar 0,8 persen, Nasdaq menguat sekitar 1 persen, dan Dow Jones naik sekitar 0,7 persen, ditopang kinerja sektor teknologi dan meredanya tekanan harga energi.
Perkembangan geopolitik juga menjadi faktor utama. Kemajuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran serta jeda ketegangan di Selat Hormuz mendorong optimisme pasar.
Harga minyak Brent yang sebelumnya sempat melonjak di atas USD114 per barel turun ke kisaran USD109–110 per barel, sementara WTI mendekati USD100 per barel.
Kondisi ini turut menekan dolar AS, dengan indeks dolar (DXY) melemah ke sekitar 98,3, sekaligus mendorong pergeseran investor ke aset berisiko, termasuk saham di kawasan Asia.
Analis pasar mencatat perbaikan stabilitas geopolitik menjadi pendorong utama reli global. Di sisi lain, arah kebijakan moneter Amerika Serikat masih menjadi faktor penahan.
Federal Reserve mempertahankan suku bunga, sementara ketidakpastian penurunan suku bunga tetap tinggi akibat tekanan inflasi dari energi. Yield obligasi AS tenor 10 tahun tercatat turun ke sekitar 4,42 persen, mencerminkan ekspektasi inflasi yang mulai mereda.
Dari sisi regional, pergerakan bursa Asia tidak sepenuhnya seragam. Korea Selatan menjadi outperformer berkat lonjakan saham teknologi, dengan Kospi menembus level 7.000 didorong kinerja sektor semikonduktor dan permintaan global terhadap AI.
Sebaliknya, pasar China dan Hong Kong bergerak lebih terbatas. Data ekonomi China menunjukkan ekspansi tipis dengan PMI di kisaran 50–50,3, sementara sektor properti masih menjadi tekanan. Hal ini membuat penguatan indeks di kawasan tersebut cenderung moderat.
Di Jepang, kebijakan moneter longgar dari Bank of Japan menjaga daya tarik saham ekspor, meski pertumbuhan ekonomi masih lemah dengan GDP hanya sekitar 0,2 persen.
Secara keseluruhan, arus dana asing kembali mengalir ke Asia seiring meningkatnya risk appetite global. Namun, pasar tetap sensitif terhadap perubahan sentimen, terutama jika harga minyak kembali naik atau ketegangan geopolitik meningkat.
Strategist pasar menilai fundamental perusahaan masih menjadi penopang utama. “Pasar bergerak mengikuti fundamental. Kinerja laba perusahaan masih cukup kuat,” ujar Tom Hainlin dari U.S. Bank Wealth Management.
Dengan kondisi tersebut, arah bursa Asia dalam jangka pendek masih akan ditentukan oleh dinamika global, terutama pergerakan harga energi, kebijakan suku bunga AS, serta perkembangan situasi di Timur Tengah.(*)