Logo
>

Saham-saham Listrik yang Potensial Diuntungkan APBN 2026

Subsidi listrik Rp104,6 triliun dan kompensasi hingga Rp200 triliun mengalir ke PLN, saham seperti PGEO, MEDC, KEEN, dan INDY mulai dilirik investor.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Saham-saham Listrik yang Potensial Diuntungkan APBN 2026
Fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla milik MEDC di Sumatera Utara. Proyek berkapasitas sekitar 330 megawatt ini menjadi salah satu tulang punggung pasokan listrik berbasis energi terbarukan ke PLN serta mencerminkan peran Medco dalam diversifikasi bisnis dari migas ke sektor kelistrikan. Foto: Dok. Medco Power Indonesia.

KABARBURSA.COM — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 yang mencapai 5,61 persen menyimpan satu pesan penting. Laju tersebut bukan sepenuhnya ditopang konsumsi, melainkan oleh belanja negara yang melonjak agresif sejak awal tahun. Dalam struktur seperti ini, sektor yang terhubung langsung dengan aliran fiskal menjadi pihak yang paling diuntungkan.

Salah satu sektor yang menonjol adalah kelistrikan. Bukan tanpa alasan. Di tengah subsidi energi dan kompensasi yang mencapai ratusan triliun rupiah, listrik berfungsi sebagai instrumen stabilisasi ekonomi. Besarnya peran sektor kelistrikan dalam struktur belanja negara tercermin dari alokasi anggaran yang terus meningkat. Dalam APBN 2026, subsidi listrik diperkirakan mencapai sekitar Rp104,6 triliun, naik sekitar 17,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp87 hingga Rp89 triliun.

Angka ini menempatkan listrik sebagai salah satu komponen terbesar dalam subsidi energi nasional, dengan porsi mendekati separuh dari total subsidi energi yang mencapai sekitar Rp210 triliun.

Namun, gambaran dukungan fiskal terhadap sektor ini tidak berhenti pada subsidi. Pemerintah juga menyalurkan kompensasi kepada PT PLN (Persero) untuk menutup selisih antara biaya produksi dan tarif listrik yang ditetapkan. Jika digabungkan, total subsidi dan kompensasi listrik dalam beberapa tahun terakhir bahkan telah menembus kisaran Rp200 triliun. Ini menunjukkan bahwa intervensi negara di sektor kelistrikan bersifat struktural, bukan sekadar kebijakan jangka pendek.

Tren tersebut juga terlihat dari realisasi awal tahun. Dalam dua bulan pertama 2026 saja, pemerintah telah menggelontorkan sekitar Rp51,5 triliun untuk subsidi dan kompensasi energi dengan porsi terbesar berupa kompensasi yang langsung mengalir ke PLN dan badan usaha energi lainnya. Dominasi kompensasi ini menandakan bahwa negara semakin aktif menjaga stabilitas keuangan operator energi, bukan hanya menahan harga di tingkat konsumen.

Dari sisi permintaan, peningkatan jumlah pelanggan listrik bersubsidi yang telah mencapai lebih dari 42 juta rumah tangga turut memperkuat tren konsumsi listrik nasional. Artinya, beban fiskal tidak hanya meningkat dari sisi harga, tetapi juga dari sisi volume konsumsi yang terus bertumbuh.

Pola belanja ini juga menunjukkan strategi front-loading fiskal, di mana realisasi anggaran dipercepat di awal tahun untuk menjaga momentum ekonomi. Dalam konteks kelistrikan, percepatan ini berdampak langsung pada arus kas PLN yang pada gilirannya memastikan keberlanjutan kontrak dengan produsen listrik independen.

Listrik, Sektor yang Ditopang Kebijakan

Berbeda dengan sektor konsumsi yang masih bergantung pada daya beli, atau komoditas yang sensitif terhadap harga global, sektor listrik memiliki karakter yang lebih defensif. Permintaan relatif tidak elastis, sementara harga dan distribusi dikontrol oleh negara.

Kontrak jangka panjang dengan PLN—baik dalam bentuk Power Purchase Agreement (PPA) maupun Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL)—membuat arus pendapatan lebih stabil. Dalam konteks ekonomi yang ditopang belanja pemerintah, model bisnis seperti ini menjadi semakin relevan.

Namun, tidak semua emiten energi berada dalam posisi yang sama. Skala proyek, kapasitas terpasang, serta kedalaman keterlibatan dengan PLN menjadi faktor pembeda utama.

PGEO

PGEO muncul sebagai salah satu pemain paling solid dalam lanskap ini. Perusahaan BUMN ini mengelola kapasitas panas bumi hingga sekitar 1.800 megawatt, dengan sekitar 700 megawatt dioperasikan langsung.

Aset-aset seperti Kamojang, Lahendong, dan Ulubelu menjadi bagian dari sistem kelistrikan nasional, dengan PLN sebagai offtaker utama. Skema kerja sama dilakukan melalui kontrak jangka panjang, baik dalam bentuk PPA maupun penjualan uap panas bumi.

Tidak hanya itu, kerja sama lanjutan dengan PLN untuk pengembangan tambahan kapasitas hingga ratusan megawatt memperkuat posisi PGEO sebagai tulang punggung listrik berbasis energi terbarukan. Dalam konteks fiskal, perusahaan ini berada langsung di jalur distribusi kebijakan energi pemerintah.

Di balik portofolio panas bumi yang terintegrasi dengan sistem kelistrikan nasional, PGEO juga menunjukkan fondasi keuangan yang relatif solid. Pada kuartal I 2026, perusahaan mencatatkan laba bersih sekitar USD43,9 juta atau setara Rp742 miliar (kurs Rp16.900), tumbuh sekitar 40 persen secara tahunan.

Secara tahunan, laba bersih PGEO berada di kisaran Rp2,3 triliun dengan EBITDA mencapai lebih dari Rp5,5 triliun. Margin yang tinggi ini mencerminkan karakter bisnis utilitas dengan biaya operasional yang relatif terkendali setelah proyek berjalan.

Di pasar, stabilitas tersebut tercermin dalam valuasi. Saham PGEO diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) sekitar 17 kali dan price to book value (PBV) sekitar 1,2 kali. Angka ini menunjukkan bahwa pasar memberikan premi terhadap kepastian arus kas yang ditopang kontrak jangka panjang dengan PLN.

MEDC

MEDC menawarkan pendekatan berbeda. Melalui anak usahanya di sektor kelistrikan, perusahaan ini mengoperasikan sejumlah pembangkit, seperti proyek panas bumi Sarulla dengan kapasitas sekitar 330 megawatt.

Model bisnisnya juga berbasis IPP dengan PLN sebagai pembeli listrik. Namun, berbeda dengan PGEO, kontribusi listrik terhadap keseluruhan bisnis MEDC masih menjadi bagian dari diversifikasi. Sektor migas tetap menjadi tulang punggung utama.

Artinya, meskipun memiliki eksposur terhadap sistem kelistrikan nasional, kinerja MEDC tetap sensitif terhadap dinamika harga energi global. Posisi ini menjadikannya sebagai hybrid play—sebagian defensif, sebagian siklikal.

MEDC menghadirkan kontras menarik antara fundamental dan valuasi. Pada kuartal I 2026, perusahaan mencatatkan laba bersih sebesar USD67,4 juta atau sekitar Rp1,14 triliun, melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja ini didukung oleh EBITDA sebesar USD351 juta serta pendapatan yang mencapai USD668,3 juta. Dari sisi operasional listrik, penjualan listrik mencapai 1.053 GWh, tumbuh 21 persen secara tahunan, menegaskan kontribusi sektor kelistrikan yang mulai menguat di tengah dominasi bisnis migas.

Namun menariknya, di pasar saham, MEDC justru diperdagangkan pada valuasi yang relatif murah, dengan PER di kisaran 17 kali dan PBV di angka 1 kali. Kondisi ini mencerminkan persepsi pasar yang masih melihat MEDC sebagai saham berbasis komoditas yang sensitif terhadap siklus harga energi global.

KEEN

KEEN berada pada spektrum yang lebih kecil, namun dengan model bisnis yang relatif jelas. Perusahaan ini mengoperasikan pembangkit listrik tenaga air seperti Poso dan Malea, serta mulai memperluas portofolio ke tenaga surya.

Salah satu proyek terbaru adalah PLTS Tobelo berkapasitas 10 megawatt yang dilengkapi baterai penyimpanan 8,4 MWh. Proyek ini memiliki kontrak jual beli listrik dengan PLN selama 20 tahun, dengan proyeksi tambahan pendapatan sekitar USD1,6 juta per tahun setelah beroperasi.

Karakter utama KEEN terletak pada statusnya sebagai produsen listrik independen berbasis energi terbarukan. Namun, dengan skala yang masih terbatas, pertumbuhannya cenderung bertahap dan belum memiliki dampak sistemik seperti pemain yang lebih besar.

Berbeda dengan dua emiten sebelumnya, KEEN menunjukkan karakter sebagai produsen listrik independen skala menengah dengan pertumbuhan bertahap. Dari sisi pasar, kapitalisasi perusahaan berada di kisaran Rp3,39 triliun dengan struktur kepemilikan yang relatif terbatas, tercermin dari free float sekitar 16,98 persen.

Secara valuasi, KEEN diperdagangkan pada PER sekitar 27,8 kali untuk trailing twelve months, dengan PBV sekitar 1,12 kali. Sementara itu, rasio EV terhadap EBITDA berada di kisaran 12 kali, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap stabilitas pendapatan jangka panjang.

Dari sisi imbal hasil, dividen yield berada di kisaran 0,8 hingga 1 persen dengan payout ratio sekitar 30 persen. Angka ini menunjukkan bahwa perusahaan masih berada dalam fase menjaga keseimbangan antara ekspansi dan distribusi laba.

INDY

INDY menunjukkan arah yang berbeda. Perusahaan ini mulai masuk ke sektor listrik melalui proyek tenaga surya dengan kapasitas sekitar 2,9 megawatt peak yang tersebar di beberapa lokasi.

Proyek tersebut dijalankan melalui skema sewa daya dengan PLN Indonesia Geothermal. Meskipun menandai langkah awal menuju energi terbarukan, skala proyek ini masih relatif kecil dibandingkan pemain lain.

Dengan demikian, eksposur INDY terhadap sektor listrik belum menjadi faktor utama dalam kinerja perusahaan. Posisi ini lebih tepat dilihat sebagai tahap awal transformasi, bukan sebagai sumber pendapatan utama saat ini.

Secara kapitalisasi pasar, perusahaan milik Arsjad Rasjid ini berada di kisaran Rp19,9 triliun, jauh lebih besar dibanding KEEN, namun dengan struktur bisnis yang masih didominasi sektor batu bara.

Dari sisi valuasi, PER trailing terlihat sangat tinggi di kisaran 200 kali. Namun angka ini lebih mencerminkan distorsi akibat penurunan laba dalam jangka pendek. Jika menggunakan proyeksi ke depan, forward PER berada di kisaran 19 kali, dengan PBV sekitar 1 kali.

Rasio price to sales yang hanya sekitar 0,59 kali menunjukkan bahwa pasar masih memberikan diskon terhadap bisnis inti perusahaan. Sementara itu, EV terhadap EBITDA di kisaran 12 kali menempatkan INDY di level yang relatif sebanding dengan emiten energi lainnya.

Dividen yield yang fluktuatif—berkisar dari di bawah 1 persen hingga sempat di atas 6 persen—menunjukkan ketergantungan pada siklus kinerja, khususnya dari sektor batu bara.

Dengan demikian, meskipun INDY mulai masuk ke sektor listrik melalui proyek energi terbarukan, kontribusinya terhadap fundamental perusahaan masih belum signifikan. Posisi ini lebih mencerminkan tahap awal transformasi, bukan perubahan struktur bisnis secara menyeluruh.

Tidak Semua Listrik Sama

Perbandingan keempat emiten tersebut menunjukkan satu hal yang jelas. Keterlibatan dalam sektor listrik saja tidak cukup. Skala kapasitas, model kontrak, dan kedekatan dengan sistem PLN menjadi penentu utama.

PGEO berada di level inti dengan kapasitas besar dan kontrak yang mapan. MEDC menawarkan diversifikasi dengan eksposur parsial. KEEN hadir sebagai pemain menengah dengan pertumbuhan bertahap. Sementara INDY masih berada di fase awal transisi.

Dalam ekonomi yang ditopang belanja negara, sektor listrik memang menjadi salah satu penerima manfaat utama. Namun, seperti halnya sektor lain, tidak semua pemain menikmati dampak yang sama.

Bagi investor, ini berarti satu hal. Membaca sektor saja tidak cukup. Yang menentukan adalah posisi setiap emiten di dalam rantai kebijakan dan aliran fiskal yang sedang bekerja di balik pertumbuhan ekonomi Indonesia.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).