Logo
>

Stok Minyak Dunia Turun Tajam, Harga Bisa Bertahan Tinggi

Penurunan stok minyak global akibat gangguan Selat Hormuz meningkatkan risiko harga energi bertahan tinggi lebih lama.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Stok Minyak Dunia Turun Tajam, Harga Bisa Bertahan Tinggi
Ilustrasi harga minyak dunia terus meningkat. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Penarikan stok minyak global dalam skala besar mulai memperkuat risiko harga energi bertahan tinggi lebih lama. Risiko kenaikan harga minyak yang cukup lama ini terjadi seiring dengan pengiriman stok yang belum pulih

International Energy Agency (IEA) mencatat, global observed oil inventories turun 85 juta barel pada Maret 2026. Penurunan lebih tajam terjadi di luar kawasan Teluk Timur Tengah yang mencapai 205 juta barel, setara 6,6 juta barel per hari, akibat terganggunya arus minyak melalui Selat Hormuz.

Di sisi lain, stok justru menumpuk di kawasan Timur Tengah, termasuk floating storage yang naik 100 juta barel dan tambahan stok darat sebesar 20 juta barel, serta peningkatan cadangan China sebesar 40 juta barel.

Tekanan serupa juga terlihat pada negara maju. OPEC mencatat OECD commercial inventories berada di 2.746 juta barel pada April 2026, turun 16,1 juta barel secara bulanan dan berada 173,5 juta barel di bawah rata-rata periode 2015–2019.

Penurunan terbesar terjadi pada produk minyak jadi yang turun 27,3 juta barel, menunjukkan tekanan langsung pada pasokan energi yang dikonsumsi pasar.

Dari sisi proyeksi, EIA memperkirakan gangguan Selat Hormuz memicu penutupan produksi hingga 9,1 juta barel per hari pada April 2026. Dampaknya, global inventory draw diperkirakan mencapai 5,1 juta barel per hari sepanjang kuartal II 2026. Artinya, pasar minyak masih berada dalam fase defisit meski ada indikasi pemulihan bertahap.

Lembaga keuangan global bahkan melihat tekanan lebih dalam. Goldman Sachs memperkirakan kehilangan produksi Timur Tengah mencapai 14,5 juta barel per hari, dengan laju pengurasan stok global mencapai 11–12 juta barel per hari pada April 2026.

Bank tersebut menilai pasar berbalik dari surplus 1,8 juta barel per hari pada 2025 menjadi defisit 9,6 juta barel per hari pada kuartal II 2026.

Sementara Citi menilai penurunan stok dapat mencapai 900 juta barel secara global, bahkan dalam skenario pemulihan bertahap. Dalam kondisi gangguan yang lebih lama, kehilangan inventori bisa meningkat hingga sekitar 1,3 miliar barel, yang berpotensi menekan pasar dalam jangka lebih panjang.

Tekanan tidak hanya terjadi pada minyak mentah, tetapi juga produk jadi. Morgan Stanley memperkirakan stok bensin Amerika Serikat dapat turun ke sekitar 198 juta barel pada akhir Agustus 2026, yang menjadi level terendah dalam catatan modern.

“Stok minyak global mendekati level terendah dalam delapan tahun, dan laju penurunannya menjadi kekhawatiran utama,” kata analis  Goldman Sachs.

Bank tersebut juga menambahkan, “Persediaan produk olahan minyak turun tajam akibat gangguan Selat Hormuz.”

Dalam konteks distribusi, Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial. Jalur ini menyalurkan sekitar 20,9 juta barel per hari atau sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia dan 25 persen perdagangan minyak laut global. Sekitar 80 persen aliran tersebut menuju Asia, menjadikan kawasan ini paling terdampak jika gangguan berlanjut.

Keterbatasan jalur alternatif memperparah situasi. Kapasitas pipa bypass hanya sekitar 3,5–5,5 juta barel per hari, jauh di bawah volume yang melewati Hormuz. Kondisi ini membuat gangguan distribusi langsung berujung pada pengetatan pasokan global.

Proyeksi Harga Minyak Tetap Tinggi

Sejalan dengan tekanan stok, proyeksi harga minyak tetap tinggi. Goldman Sachs memperkirakan Brent berada di USD90 per barel pada kuartal IV 2026. 

Sementara Citi melihat Brent dapat mencapai USD110 per barel pada kuartal II 2026 dan berpotensi menyentuh USD130 dalam skenario gangguan lebih panjang.

JPMorgan juga memperkirakan harga tetap di atas USD100 per barel dalam jangka pendek, dengan risiko kenaikan hingga USD150 jika gangguan berlanjut.

Sementara itu, World Bank dan EIA memberikan proyeksi lebih moderat, masing-masing di kisaran USD86 dan USD96 per barel pada 2026. Namun, keduanya tetap menekankan bahwa arah harga sangat bergantung pada durasi gangguan distribusi dan kecepatan pemulihan stok global.

Dengan kondisi tersebut, pasar minyak global kini tidak hanya menghadapi tekanan harga jangka pendek, tetapi juga risiko struktural akibat distribusi yang terganggu dan stok yang menipis.

Situasi ini membuka kemungkinan harga energi bertahan tinggi lebih lama, terutama jika jalur pasokan utama belum sepenuhnya pulih.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.