KABARBURSA.COM - Harga emas bergerak relatif datar pada perdagangan Kamis setelah sempat terperosok hingga 1 persen di awal sesi. Pelemahan harga minyak, meredanya penguatan dolar Amerika Serikat, serta turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi bantalan bagi logam mulia di tengah ketidakpastian arah akhir konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Harga emas spot tercatat naik tipis 0,1 persen menjadi USD4.547,54 per ons pada pukul 01.04 WIB, setelah sebelumnya terseret turun cukup tajam di awal perdagangan. Data tersebut mengacu pada laporan Reuters dari Bengaluru pada waktu setempat atau Jumat (22/5) dini hari WIB.
Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Juni justru ditutup melemah 0,1 persen ke posisi USD4.542,50 per ons.
Pergerakan harga minyak menjadi salah satu elemen dominan yang memengaruhi arah pasar. Dalam sesi yang berlangsung sangat fluktuatif, minyak sempat bergerak liar sebelum akhirnya melemah akibat belum jelasnya prospek penyelesaian perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Vice President Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan koreksi harga minyak dan pelemahan dolar dari level tertinggi enam pekan menjadi sentimen konstruktif bagi logam kuning dalam jangka pendek.
Kendati demikian, Grant menilai pasar masih dibayangi sikap hati-hati. Investor disebut belum sepenuhnya yakin karena berbagai upaya perundingan sebelumnya kerap gagal menghasilkan kesepakatan yang bertahan lama.
Sejak perang meletus pada akhir Februari, harga emas tercatat telah merosot lebih dari 14 persen. Konflik tersebut mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz, memicu lonjakan harga energi global dan memperbesar kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dunia.
Di sisi lain, dolar AS mulai memangkas penguatan sebelumnya sehingga emas yang diperdagangkan dalam denominasi greenback menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga turun 0,2 persen, yang turut mengurangi biaya peluang memegang emas karena aset tersebut tidak memberikan bunga.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan kenaikan harga minyak yang mendorong inflasi lebih tinggi membuat bank sentral berada di bawah tekanan untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi atau bahkan kembali menaikkannya. Situasi tersebut dinilai masih menjadi penghambat utama penguatan emas dalam waktu dekat.
Walaupun selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik, emas umumnya kesulitan mencatat reli besar pada periode suku bunga tinggi. Investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 58 persen bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 2026. Probabilitas tersebut meningkat dibandingkan 48 persen sehari sebelumnya, berdasarkan data FedWatch Tool milik CME Group.
Logam mulia lainnya turut bergerak menguat. Harga perak spot naik 0,9 persen menjadi USD76,63 per ons. Platinum bertambah 0,6 persen ke level USD1.962 per ons, sementara paladium melonjak 1,1 persen menjadi USD1.384,50 per ons.(*)