KABARBURSA.COM – Pasar kripto melemah pada perdagangan Jumat sore waktu Amerika Serikat, justru ketika saham Wall Street masih bertahan di zona hijau menjelang libur panjang tiga hari. Bitcoin turun 2,4 persen dalam 24 jam terakhir ke level USD75.800, posisi terendah sepanjang Mei.
Tekanan tidak hanya menimpa Bitcoin. Ether, Solana, dan XRP juga ikut melemah lebih dalam dibanding Bitcoin. Tidak ada kabar besar yang langsung menghantam pasar kripto, tetapi pelaku pasar tampaknya mulai mengurangi risiko menjelang akhir pekan panjang.
Nasdaq masih naik sekitar 0,3 persen, sementara S&P 500 menguat 0,4 persen. Perbedaan arah ini membuat pasar kripto terlihat lebih rapuh dibanding saham teknologi yang masih mencoba bertahan.
Bitcoin Gagal Jaga Level USD77.000
Bitcoin sebelumnya bergerak sempit di sekitar USD77.000 sepanjang pekan. Area itu menjadi penting karena Bitcoin memulai Mei di sekitar level yang sama.
Tom Lee sempat menyebut penutupan positif Bitcoin pada Mei akan menandai tiga bulan berturut turut penguatan. Pola itu biasanya dibaca pasar sebagai sinyal bull market yang lebih kuat.
Masalahnya, penurunan Jumat membuat skenario itu mulai goyah.
Masih ada lebih dari sepekan sebelum Mei berakhir, tetapi posisi Bitcoin di USD75.800 membuat peluang penutupan hijau bulanan tidak lagi senyaman sebelumnya. Pasar kripto kini harus kembali merebut area USD77.000 agar narasi reli tiga bulan tidak patah di tengah jalan.
Data Konsumen AS Bikin Pasar Lebih Gugup
Tekanan kripto muncul bersamaan dengan rilis data ekonomi Amerika Serikat yang kurang sedap dibaca. University of Michigan Consumer Sentiment Index turun ke rekor terendah 44,8 pada Mei, dari 48,2 sebelumnya.
Ekspektasi inflasi satu tahun naik menjadi 4,8 persen dari 4,5 persen. Ekspektasi inflasi lima tahun juga naik menjadi 3,9 persen dari 3,4 persen.
Angka ini memberi sinyal bahwa konsumen Amerika makin tertekan oleh harga bensin dan biaya hidup. Di lantai perdagangan New York, data seperti ini biasanya langsung dibaca sebagai campuran yang tidak enak, pertumbuhan melemah tetapi inflasi justru naik.
Pasar menyebut situasi seperti ini sebagai bayangan stagflation.
Kevin Warsh Masuk, Pasar Baca Arah The Fed
Kevin Warsh resmi dilantik Presiden Donald Trump sebagai Ketua Federal Reserve menggantikan Jerome Powell, yang tetap berada di The Fed sebagai gubernur. Warsh langsung membawa pesan reformasi di bank sentral Amerika Serikat.
Ia mengatakan akan memimpin Federal Reserve yang berorientasi reformasi, belajar dari keberhasilan dan kesalahan masa lalu, serta meninggalkan kerangka dan model yang statis.
Pernyataan itu terdengar besar, tetapi pasar lebih fokus pada satu hal yang lebih praktis. Apakah Warsh akan membuka ruang pemangkasan bunga seperti harapan Trump, atau justru menghadapi fakta inflasi yang kembali panas akibat perang Iran dan lonjakan harga minyak.
Saat ini, pelaku pasar suku bunga sudah memperhitungkan peluang lebih dari 70 persen bahwa The Fed bisa menaikkan suku bunga satu kali atau lebih hingga akhir 2026. Itu bukan kabar enak untuk kripto.
Kenapa Kripto Lebih Sensitif dari Saham?
Bitcoin dan aset kripto berisiko tinggi biasanya lebih nyaman bergerak saat likuiditas longgar dan suku bunga turun. Ketika pasar mulai membaca potensi kenaikan bunga, aset tanpa arus kas seperti Bitcoin langsung kehilangan sebagian daya tariknya.
Saham masih bisa bertahan karena investor melihat laba korporasi, laporan keuangan, dan arus kas perusahaan. Kripto tidak punya bantalan itu.
Bitcoin hidup dari ekspektasi likuiditas, permintaan institusi, dan keyakinan pasar terhadap aset alternatif. Ketika data inflasi memburuk dan yield berpotensi naik, investor cenderung mengurangi posisi di aset yang paling cepat naik sebelumnya.
Itulah yang tampak pada perdagangan Jumat. Penurunan 2,4 persen bukan koreksi besar secara historis untuk Bitcoin, tetapi konteksnya penting. Bitcoin melemah saat saham AS masih hijau. Artinya, tekanan kali ini lebih spesifik menyasar aset kripto, bukan sekadar aksi jual lintas pasar.
Perang Iran dan Harga Minyak Jadi Gangguan Baru
Perang Iran membuat harga minyak melonjak dan menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi. Harga energi yang naik cepat biasanya masuk ke biaya transportasi, harga barang, dan ekspektasi konsumen.
Bagi The Fed, kondisi ini membuat ruang pemangkasan bunga semakin sempit.
Bagi kripto, efeknya lebih tajam. Investor yang sebelumnya berharap likuiditas global segera longgar kini harus menghadapi kemungkinan skenario sebaliknya. Suku bunga bisa bertahan tinggi lebih lama, bahkan naik lagi bila inflasi makin sulit dijinakkan.
Pasar kripto tidak sedang panik besar, tetapi mulai berhitung ulang.
Level yang Mulai Diawasi Pasar
Area USD77.000 menjadi garis psikologis jangka pendek bagi Bitcoin. Jika level itu gagal direbut kembali, pasar akan mulai menilai Mei sebagai bulan yang berpotensi mematahkan reli tiga bulan.
Level USD75.800 kini menjadi pijakan terdekat yang harus dijaga. Bila tekanan berlanjut, pelaku pasar kemungkinan melihat area bawah berikutnya sebagai zona uji minat beli baru.
Skenarionya masih cair.
Jika saham AS tetap kuat dan yield tidak melonjak, Bitcoin bisa kembali mencoba mendekati USD77.000. Tetapi jika data inflasi berikutnya kembali panas, tekanan terhadap kripto bisa bertambah karena pasar akan semakin agresif menghitung peluang kenaikan bunga The Fed.
Pasar Masuk Akhir Pekan dengan Posisi Menggantung
Perdagangan Jumat terasa sepi, tetapi bukan berarti risikonya kecil. Justru di sesi yang tipis menjelang libur panjang, harga bisa bergerak lebih sensitif karena likuiditas menurun.
Investor kripto memilih menurunkan posisi saat tidak ada kabar positif baru. Bitcoin gagal memanfaatkan penguatan saham teknologi, sementara altcoin seperti Ether, Solana, dan XRP ikut terseret lebih dalam.
Pasar kini menunggu dua hal.
Pertama, apakah Bitcoin bisa kembali menutup Mei di atas area awal bulan sekitar USD77.000. Kedua, apakah The Fed di bawah Warsh akan tetap membuka ruang pelonggaran atau justru makin keras menghadapi inflasi.
Untuk sementara, kripto tampak kehilangan tenaga.
Bukan karena satu berita besar. Melainkan karena pasar mulai membaca ulang kombinasi inflasi tinggi, konsumen AS melemah, perang Iran, minyak mahal, dan peluang suku bunga naik lagi.(*)