KABARBURSA.COM - Harga emas melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis di tengah tumbuhnya optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Prospek meredanya konflik dipandang mampu mereduksi tekanan inflasi global sekaligus membuka ruang bagi pelonggaran suku bunga dalam jangka panjang.
Harga emas spot naik 0,3 persen menjadi USD4.700,98 per ons pada pukul 24.53 WIB. Sebelumnya, logam mulia tersebut sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan di awal sesi perdagangan, menurut laporan Reuters dari Bengaluru, Jumat 8 Mei 2026 dini hari WIB.
Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Juni ditutup menguat 0,4 persen ke posisi USD4.710,90 per ons.
Analis RJO Futures, Bob Haberkorn, menilai arah pergerakan emas saat ini masih sangat dipengaruhi dinamika geopolitik Timur Tengah serta ekspektasi pasar terhadap langkah kebijakan moneter Federal Reserve.
“Jika gencatan senjata bertahan, konflik mereda, dan aktivitas perdagangan kembali normal dengan Selat Hormuz tetap terbuka, emas berpotensi melesat menuju USD5.000 per ons,” ujarnya.
Ia menambahkan, investor kini memonitor setiap perkembangan perang di Timur Tengah sekaligus mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS yang dinilai akan menjadi penentu utama pasar logam mulia ke depan.
Sejumlah sumber dan pejabat terkait sebelumnya mengungkapkan bahwa Washington dan Teheran semakin dekat menuju sebuah memorandum sementara untuk menghentikan perang. Pemerintah Iran disebut tengah mempelajari proposal perdamaian yang dapat meredam konflik, walaupun sejumlah isu sensitif masih belum menemukan titik temu.
Namun reli emas sempat kehilangan tenaga setelah muncul laporan bahwa Iran tidak akan mengizinkan Amerika Serikat membuka kembali jalur Selat Hormuz melalui rencana yang disebut tidak realistis. Informasi tersebut dimuat Wall Street Journal dengan mengutip media pemerintah Iran, Press TV.
Pernyataan itu langsung memicu pembalikan arah di pasar energi. Harga minyak yang sebelumnya sempat melemah kembali bergerak naik karena kekhawatiran terhadap potensi gangguan distribusi energi global kembali mengemuka. Selat Hormuz sendiri merupakan koridor vital bagi lalu lintas minyak dunia.
Lonjakan harga energi lazimnya memantik tekanan inflasi yang lebih tinggi. Dalam situasi semacam itu, bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama guna meredam kenaikan harga. Kondisi tersebut dapat mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak menawarkan imbal hasil seperti instrumen berbasis bunga.
Meski demikian, TD Securities menilai tren penguatan emas masih berpotensi berlanjut hingga melampaui level USD5.200 per ons apabila konflik berhasil mereda dan tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak mulai surut.
Dalam catatan risetnya, TD Securities menyebut perubahan orientasi kebijakan Federal Reserve menuju dukungan terhadap penciptaan lapangan kerja maksimum, penurunan imbal hasil obligasi, pelemahan dolar Amerika Serikat, serta meningkatnya kembali permintaan dari investor dan bank sentral dapat menghidupkan kembali tren bullish logam kuning.
Pelaku pasar kini menantikan publikasi data ketenagakerjaan bulanan Amerika Serikat pada Jumat. Data tersebut dipandang krusial untuk membaca arah kebijakan moneter Federal Reserve sepanjang tahun ini.
Dari kawasan Asia, data terbaru menunjukkan bank sentral China kembali menambah cadangan emasnya untuk bulan ke-18 berturut-turut pada April. Langkah itu mencerminkan masih kuatnya minat bank sentral terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
Pada kelompok logam mulia lainnya, harga perak spot melonjak 2,6 persen menjadi USD79,32 per ons setelah menyentuh level tertinggi sejak 17 April.
Sebaliknya, platinum justru melemah 1,2 persen ke posisi USD2.036,28 per ons, sementara paladium terperosok 2,5 persen menjadi USD1.498,86 per ons.(*)