Logo
>

Harga Emas Melonjak Dekati Rekor Baru Efek Perang AS-Iran

Lonjakan harga emas dipicu eskalasi konflik AS-Iran yang mendorong investor global memburu aset safe haven di tengah gejolak pasar.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Harga Emas Melonjak Dekati Rekor Baru Efek Perang AS-Iran
Harga emas dunia melonjak mendekati rekor baru setelah perang AS-Iran memicu permintaan aset safe haven dan melemahnya dolar. Foto: Dok. KabarBursa

KABARBURSA.COM — Ketika konflik militer di Timur Tengah kian memanas, pasar keuangan global kembali mencari tempat berlindung. Emas menjadi tujuan utama. Harga logam mulia itu melonjak pada perdagangan Kamis, 5 Maret 2026 setelah eskalasi perang Amerika Serikat dan Iran mendorong investor memburu aset aman.

Di saat yang sama, reli dolar AS yang sempat menguat tajam mulai mereda. Kondisi ini memberi ruang bagi emas untuk bangkit kembali setelah sempat terkoreksi dalam perdagangan sebelumnya.

Dilansir dari CNBC, harga emas spot tercatat naik 0,7 persen menjadi USD5120.71 per ons atau sekitar Rp86.28 juta. Kenaikan ini terjadi setelah logam mulia tersebut sempat jatuh lebih dari 4 persen pada perdagangan Selasa.

Kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April juga ditutup lebih tinggi. Harganya naik 0,2 persen menjadi USD5134.70 per ons atau sekitar Rp86.51 juta. Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, Peter Grant, menilai pelemahan dolar menjadi salah satu faktor yang kembali menopang harga emas.

“Dolar sempat mengalami penurunan, dan hal itu memberikan dukungan bagi harga emas. Secara keseluruhan, faktor fundamental makro masih sangat mendukung emas. Selama perang dengan Iran masih berlangsung, situasi itu juga akan terus menjadi penopang bagi emas,” kata Grant.

Ia memperkirakan volatilitas pasar masih akan berlanjut dalam waktu dekat. Namun ia tetap optimistis tren emas masih berada dalam jalur kenaikan. “Ada risiko volatilitas akan terus berlanjut. Tetapi saya tetap optimistis dan memperkirakan kita akan melihat rekor harga tertinggi baru.”

Ketegangan geopolitik menjadi pemicu utama lonjakan harga emas. Konflik Amerika Serikat dan Iran kini melebar setelah insiden militer di kawasan Samudra Hindia.

Sebuah kapal selam Amerika Serikat dilaporkan menenggelamkan kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka. Insiden itu menewaskan sedikitnya 80 orang. Pada saat yang hampir bersamaan, sistem pertahanan udara NATO menghancurkan rudal balistik Iran yang diarahkan menuju Turki.

Rangkaian peristiwa ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut. Dalam situasi seperti ini, emas biasanya kembali dilirik investor. Logam mulia itu dikenal sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, tetapi dianggap mampu menjaga nilai ketika ketidakpastian ekonomi dan politik meningkat.

Selain itu, pelemahan dolar juga membuat emas lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Ketika dolar melemah, harga emas yang dihitung dalam dolar menjadi relatif lebih terjangkau di pasar global.

Pasar Tunggu Data Tenaga Kerja AS

Di tengah gejolak geopolitik, investor juga mencermati perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan sektor tenaga kerja swasta di negara tersebut masih cukup kuat.

Laporan ketenagakerjaan nasional ADP menunjukkan jumlah pekerja di sektor swasta Amerika Serikat meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada Februari. Meski demikian, angka bulan sebelumnya direvisi turun cukup tajam. Perhatian pasar kini tertuju pada laporan tenaga kerja resmi Amerika Serikat yang akan dirilis pada Jumat.

Survei ekonom yang dihimpun Reuters memperkirakan jumlah pekerja nonfarm payrolls akan bertambah sekitar 59000 pada Februari. Angka ini lebih rendah dibanding pertumbuhan 130000 pekerjaan pada Januari. Data tersebut penting karena dapat mempengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.

Logam Mulia Lain Ikut Menguat

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada emas. Sejumlah logam mulia lainnya juga mencatat penguatan setelah sempat terkoreksi tajam. Harga perak spot naik 1,3 persen menjadi USD83.07 per ons atau sekitar Rp1.39 juta. Pada perdagangan sebelumnya, logam ini sempat anjlok lebih dari 8 persen.

Platinum mencatat kenaikan yang lebih besar. Harganya melonjak 2,8 persen menjadi USD2141.71 per ons atau sekitar Rp36.08 juta. Sementara itu palladium juga menguat 1,2 persen menjadi USD1667.51 per ons atau sekitar Rp28.10 juta.

Dewan Investasi Platinum Dunia atau World Platinum Investment Council memperkirakan pasar platinum global akan kembali mengalami defisit pada 2026. Jika proyeksi itu terjadi, tahun ini akan menjadi tahun keempat berturut-turut pasar platinum mengalami kekurangan pasokan.

Di tengah perang yang belum menunjukkan tanda mereda, emas kembali mengukuhkan perannya sebagai aset perlindungan utama. Setiap ledakan konflik di Timur Tengah langsung memantul ke layar perdagangan global. Bagi investor, ketidakpastian geopolitik sering kali berarti satu hal yang pasti. Permintaan terhadap emas hampir selalu meningkat.

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).