KABARBURSA.COM — Harga emas dunia mulai bergerak turun pada perdagangan Kamis pagi, 9 April 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah meredanya ketegangan geopolitik, meski pasar masih dibayangi ketidakpastian arah konflik global.
Berdasarkan data emas.org, harga emas spot berada di level USD4710,99 per ons atau setara Rp79,61 juta. Angka ini turun sekitar USD105,71 per ons dari posisi sebelumnya.
Jika dikonversi ke gram, harga emas global berada di kisaran USD151,46 atau sekitar Rp2,57 juta per gram. Penurunan harian tercatat sekitar USD3,4 per gram atau setara Rp61.213.
Pelemahan ini menunjukkan bahwa tekanan safe haven mulai berkurang, seiring munculnya sinyal de-eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, penurunan harga emas tidak terlalu dalam, menandakan pasar masih bersikap hati-hati.
Dalam rupiah, pergerakan harga juga menunjukkan tren serupa. Harga emas per ons tercatat sekitar Rp80,18 juta, turun sekitar Rp1,90 juta. Sementara harga per gram berada di kisaran Rp2,57 juta.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar justru menguat tipis di kisaran Rp17.074 per USD, yang turut menahan tekanan harga emas dalam denominasi rupiah.
Pergerakan ini mencerminkan kondisi pasar yang masih berada dalam fase tarik-menarik. Di satu sisi, meredanya konflik menekan permintaan aset aman seperti emas. Namun di sisi lain, ketidakpastian yang belum sepenuhnya hilang membuat investor belum sepenuhnya keluar dari instrumen safe haven.
Harga emas di pasar domestik juga bergerak sejalan. Untuk ukuran besar, harga emas Antam tercatat sekitar Rp2,84 miliar per kilogram. Sementara di Pegadaian berada di kisaran Rp2,81 miliar per kilogram.
Untuk ukuran yang lebih kecil, harga emas Antam 100 gram berada di kisaran Rp284,21 juta, sedangkan Pegadaian sekitar Rp282,58 juta.
Perbedaan harga ini mencerminkan variasi biaya distribusi dan kebijakan masing-masing lembaga, namun secara umum tetap mengikuti arah harga global.
Emas belum memiliki arah yang kuat. Pasar masih menunggu kepastian apakah gencatan senjata akan berlanjut menjadi perdamaian permanen atau justru kembali memicu eskalasi baru.
Selama ketidakpastian itu masih berlangsung, harga emas cenderung bergerak terbatas, naik saat risiko meningkat, dan turun ketika sentimen mereda.(*)