Logo
>

Harga Minyak Jatuh Setelah Ancaman Intervensi AS ke Iran Mereda

Minyak mentah berjangka Brent, acuan internasional, ditutup jatuh USD2,76 atau 4,15 persen ke level USD63,76 per barel

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Harga Minyak Jatuh Setelah Ancaman Intervensi AS ke Iran Mereda
Ilustrasi minyak dunia. Foto: Dok Pertamina

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Harga minyak tergelincir tajam sekitar 4 persen pada Kamis, mengakhiri reli lima hari beruntun. Pemicu utamanya datang dari pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut penindakan terhadap demonstran di Iran mulai mereda. Nada tersebut menenangkan pasar, mereduksi kecemasan atas kemungkinan aksi militer AS dan potensi disrupsi pasokan minyak global.

    Minyak mentah berjangka Brent, acuan internasional, ditutup jatuh USD2,76 atau 4,15 persen ke level USD63,76 per barel, menurut laporan Reuters dari Houston,Jumat 16 Januari 2026 pagi WIB.

    Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), kehilangan USD2,83 atau 4,56 persen dan berakhir di USD59,19 per barel.

    Koreksi ini terjadi setelah kedua kontrak sempat melesat ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir pada sejumlah sesi sebelumnya.

    Trump menyatakan telah menerima laporan bahwa pembunuhan dalam penindakan protes di Iran mulai mereda dan untuk saat ini tidak ada rencana eksekusi massal. Pernyataan tersebut mencerminkan sikap wait and see, berbalik arah dari retorika keras yang sebelumnya sempat memantik spekulasi intervensi.

    Analis menilai komentar itu memangkas premi risiko geopolitik yang sempat menggelembung dalam beberapa hari terakhir. Pada Rabu, harga Brent sempat menyentuh USD66,82 per barel, posisi tertinggi sejak September.

    “Kita berpindah dari probabilitas tinggi bahwa Trump akan menyerang Iran menjadi probabilitas yang rendah. Itu menjadi sumber utama tekanan penurunan harga hari ini,” ujar analis Price Futures Group, Phil Flynn.

    Tekanan pasar kian bertambah setelah seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa Washington menarik sebagian personel dari pangkalan militernya di Timur Tengah. Langkah tersebut diambil menyusul pernyataan pejabat senior Iran yang memperingatkan negara-negara tetangga akan adanya serangan terhadap pangkalan AS jika Amerika melancarkan agresi.

    Dari sisi fundamental, data persediaan energi Amerika turut membebani harga. Badan Informasi Energi (EIA) melaporkan stok minyak mentah dan bensin AS pekan lalu melonjak jauh di atas perkiraan analis.

    Di saat bersamaan, Venezuela mulai membalikkan kebijakan pemangkasan produksi minyak yang sebelumnya diterapkan di bawah bayang-bayang embargo AS. Ekspor minyak negara tersebut kembali mengalir, menurut tiga sumber yang mengetahui situasi tersebut.

    Analis mencatat sentimen pasar kian memburuk setelah percakapan telepon yang dinilai positif antara Trump dan Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, pada Rabu. Ekspektasi stabilitas jangka pendek memicu perkiraan peningkatan pasokan minyak Venezuela dalam beberapa pekan mendatang.

    “Itu akan menahan pergerakan harga,” kata Flynn.

    Dari sisi permintaan, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menyatakan pada Rabu bahwa permintaan minyak global pada 2027 diperkirakan tumbuh dengan laju relatif sejalan dengan tahun ini. OPEC juga merilis data yang menunjukkan pasokan dan permintaan minyak dunia pada 2026 berada dekat titik seimbang, berbeda dengan proyeksi lain yang memperkirakan surplus.

    Sementara itu, data pemerintah China memperlihatkan impor minyak mentah pada Desember melonjak 17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, total impor minyak mentah China meningkat 4,4 persen secara tahunan, dengan volume impor harian menembus rekor tertinggi.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Pramirvan Datu

    Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.