KABARBURSA.COM – Harga tembaga melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah, menandai perubahan penting dalam dinamika pasar logam global.
Kenaikan ini mendorong pelaku pasar menilai ulang keseimbangan pasokan dan permintaan, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan mineral kritis untuk sektor energi, teknologi, dan industri berbasis elektrifikasi.
Ekspektasi pertumbuhan permintaan yang kuat dari pusat data untuk kecerdasan buatan (AI) dan kendaraan listrik turut mendorong harga logam yang digunakan dalam pembuatan kabel listrik ini naik sekitar 40 persen sepanjang tahun lalu.
“Harga tembaga masih perlu naik lebih jauh untuk mendorong perusahaan tambang melakukan peningkatan produksi secara signifikan,” ujar analis SP Angel, John Meyer kepada Reuters, Senin, 5 Januari 2026.
Ia menambahkan, banyak tambang yang sudah lama beroperasi pada atau bahkan melampaui kapasitas desain awalnya. Kondisi ini meningkatkan risiko kegagalan besar, seperti insiden longsoran lumpur di tambang Grasberg, Indonesia.
Meski Venezuela bukan produsen tembaga rafinasi utama, langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menempatkan negara tersebut di bawah kendali sementara AS setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro turut menyoroti risiko keamanan pasokan mineral kritis secara umum.
“Logam, termasuk tembaga, sedang reli karena tema mineral kritis dan keamanan rantai pasok dalam tatanan dunia baru, yang kini semakin terlihat jelas melalui peristiwa terbaru di Venezuela,” kata Duncan Hobbs, Research Director Concord Resources.
Generasi Baru Tambang Tembaga
Gangguan produksi di sejumlah tambang memperkuat narasi potensi kekurangan pasokan. Insiden kecelakaan di tambang raksasa Grasberg milik Freeport-McMoRan pada September lalu, serta aksi mogok di tambang tembaga dan emas Mantoverde milik Capstone Copper di Chile utara, menjadi contoh nyata tekanan pasokan.
Analis Citi memperkirakan produksi tembaga rafinasi global tahun ini mencapai 26,9 juta ton, yang berarti pasar akan mengalami defisit sekitar 308.000 ton.
Investasi besar dalam pengembangan tambang baru dibutuhkan untuk memenuhi lonjakan permintaan di masa depan. Namun, menurut analis, hal tersebut sulit terwujud tanpa harga yang lebih tinggi.
“Kami memperkirakan harga impas untuk pengembangan generasi berikutnya dari tambang tembaga baru berada di atas USD13.000 per ton,” kata Meyer.
Kekhawatiran pasar juga dipicu oleh potensi penerapan tarif impor AS terhadap tembaga, logam yang banyak digunakan di sektor energi dan konstruksi. Isu tarif ini telah menarik arus tembaga dalam jumlah besar ke Amerika Serikat, terutama dari gudang London Metal Exchange (LME).
Hingga kini, tarif impor tembaga AS masih dalam tahap peninjauan, meski logam tersebut sempat dikecualikan dari bea masuk yang mulai berlaku pada 1 Agustus lalu.
Persediaan tembaga di gudang Comex yang berbasis di AS tercatat mencapai 499.841 short ton atau sekitar 453.450 metrik ton per 2 Januari. Angka ini melonjak sekitar 400 persen sejak April, seiring pedagang dan produsen mempercepat pengiriman logam untuk mengantisipasi kemungkinan tarif.
Analis Macquarie, Alice Fox, memperkirakan sekitar 360.000 ton tembaga tambahan disimpan di luar bursa di Amerika Serikat. Ia menilai fundamental pasar saat ini belum sepenuhnya mendukung level harga yang tinggi.
“Tidak semua ini merupakan logam ‘baru’, namun data tersebut mengindikasikan pasar global berada dalam kondisi surplus yang cukup besar, melebihi 500.000 ton pada tahun lalu,” ujar Fox. (*)