KABARBURSA.COM - Harga tembaga di pasar London bergerak cenderung datar pada perdagangan Kamis setelah reli kuat sehari sebelumnya. Pelaku pasar kini menakar ulang prospek perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran, sekaligus mencermati nasib jalur vital Selat Hormuz yang selama beberapa pekan terakhir menjadi episentrum kegelisahan pasar global.
Kontrak tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik tipis 0,1 persen ke level USD13.411 per ton metrik pada pukul 14.12 WIB, menurut laporan Reuters dari Bengaluru.
Pada sesi sebelumnya, harga logam merah itu sempat melesat mendekati posisi tertinggi dalam dua pekan terakhir. Optimisme atas potensi meredanya konflik di Timur Tengah menjadi katalis utama yang mendorong penguatan komoditas tersebut. Tembaga sendiri kerap dipandang sebagai indikator penting kesehatan ekonomi global karena penggunaannya yang luas di sektor kelistrikan, manufaktur, hingga konstruksi.
Di pasar Asia, kontrak tembaga paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) turut bergerak menguat. Harga naik 0,4 persen menjadi 102.900 yuan atau setara USD15.107,36 per ton.
Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer, menilai pelemahan tipis yang terjadi bukan mencerminkan surutnya permintaan pasar. Menurutnya, kondisi tersebut lebih menyerupai fase jeda alami setelah reli agresif yang terjadi pada perdagangan Rabu.
“Trader pada dasarnya sedang menyesuaikan ekspektasi terhadap kemungkinan dunia tanpa blokade permanen di Selat Hormuz jika kesepakatan damai benar-benar tercapai. Itu membuat pasar memasuki fase konsolidasi yang sehat di area tertinggi multipekan,” ujarnya.
Presiden Donald Trump sebelumnya memprediksi konflik dengan Iran akan segera berakhir dalam waktu dekat. Di sisi lain, Teheran dikabarkan tengah mempertimbangkan proposal perdamaian dari Washington yang secara formal bertujuan mengakhiri perang, meski belum menyelesaikan tuntutan utama Amerika Serikat terkait penghentian program nuklir Iran dan pembukaan kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.
Di pasar energi, harga minyak mentah menguat sekitar USD1 pada Kamis. Kenaikan tersebut menjadi rebound setelah penurunan tajam sehari sebelumnya, ketika investor mulai memperhitungkan peluang tercapainya kesepakatan damai sementara antara kedua negara.
Sementara itu, sejumlah pejabat Federal Reserve pada Rabu mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan berpotensi memicu guncangan inflasi yang lebih persisten. Harga minyak yang tetap tinggi serta ancaman terganggunya rantai pasokan global dinilai dapat memperbesar tekanan ekonomi dunia dalam jangka menengah.
Pergerakan logam dasar lain di LME turut menunjukkan variasi. Aluminium naik 0,2 persen, nikel menguat 0,4 persen, timbal bertambah 0,6 persen, sementara timah mencatat lonjakan 1,2 persen dan seng meningkat 1,1 persen.
Adapun di bursa berjangka Shanghai, arah perdagangan bergerak lebih beragam. Aluminium melemah 1,3 persen, nikel terpuruk 2,5 persen, dan timbal turun 0,3 persen. Sebaliknya, seng naik 0,8 persen, sedangkan timah melesat tajam hingga 4,1 persen, menjadi komoditas dengan penguatan paling mencolok pada sesi tersebut.(*)