KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan akhir tahun 2025 dengan pergerakan fluktuatif dan ditutup melemah tipis. Pada perdagangan Selasa, 30 Desember 2025, IHSG berada di level 8.615,64 atau turun 28,61 poin setara 0,33 persen. Sepanjang sesi, IHSG sempat bergerak di kisaran 8.608,25 hingga 8.629,44 dengan level pembukaan di 8.627,40.
Aktivitas transaksi pasar saham menjelang tutup tahun masih terbilang aktif. Total volume transaksi seluruh pasar mencapai 13,78 miliar lot dengan nilai perdagangan sebesar Rp917,10 miliar dari 95,25 ribu kali transaksi. Pada pasar reguler, volume tercatat sebesar 8,43 miliar lot dengan nilai transaksi Rp606,36 miliar dan frekuensi 95,20 ribu transaksi. Meski IHSG terkoreksi, aliran dana asing justru mencatatkan pembelian bersih. Net foreign buy di seluruh pasar mencapai Rp2,24 triliun, dengan rincian Rp1,03 triliun di pasar reguler serta Rp1,21 triliun di pasar tunai dan negosiasi. Porsi kepemilikan transaksi didominasi investor domestik sebesar 72,85 persen, sementara investor asing mengambil porsi 27,15 persen.
Secara teknikal, IHSG sebelumnya sempat menguat dan menembus rata-rata pergerakan 20 hari atau MA20 seiring munculnya volume pembelian. Namun, tekanan jual di paruh akhir sesi membuat indeks kembali terkoreksi. Dari sisi analisis gelombang, pergerakan IHSG dinilai masih berada pada fase rawan koreksi jangka pendek dengan potensi pengujian area support di kisaran 8.493 hingga 8.414. Sementara itu, area resistance terdekat berada di rentang 8.656 hingga 8.714. Dalam skenario terburuk, koreksi yang lebih dalam masih berpeluang membawa IHSG kembali ke area psikologis 8.000-an.
Dari sisi sektoral, kinerja pasar menunjukkan pergerakan yang tidak seragam. Sektor teknologi menjadi salah satu penopang dengan kenaikan 0,64 persen, disusul sektor infrastruktur yang menguat 0,90 persen serta sektor properti yang naik tipis 0,11 persen. Sektor barang konsumsi non-siklikal juga mencatatkan kenaikan sebesar 0,26 persen, sementara sektor transportasi bergerak relatif stabil dengan kenaikan 0,06 persen. Di sisi lain, tekanan cukup dalam terjadi pada sektor bahan baku yang turun 1,81 persen, sektor barang konsumsi siklikal melemah 0,96 persen, sektor energi turun 0,48 persen, sektor keuangan terkoreksi 0,18 persen, sektor industri melemah 0,31 persen, serta sektor kesehatan yang turun 0,14 persen.
Pada level saham, pergerakan signifikan terjadi di saham-saham berkapitalisasi kecil dan menengah. PT Krida Jaringan Nusantara Tbk, emiten sektor transportasi dan logistik, mencatatkan kenaikan tajam dengan harga saham naik ke level 234 atau melonjak 17,59 persen. PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk dari sektor industri dasar juga menguat ke level 172, naik 10,26 persen. Kenaikan maksimal auto reject atas turut dialami PT Agung Menjangan Mas Tbk, emiten sektor perdagangan dan jasa, yang ditutup di level 462 atau naik 10,00 persen. PT Agro Bahari Nusantara Tbk dari sektor perikanan dan kelautan menguat ke 5.200 atau naik 9,94 persen, sementara PT Harta Djaya Karya Tbk di sektor properti dan konstruksi ditutup di level 122 atau naik 9,91 persen.
Sebaliknya, tekanan jual cukup besar membayangi sejumlah saham. PT Mustika Ratu Tbk, emiten sektor barang konsumsi, turun ke level 525 atau melemah 8,70 persen. PT Estee Gold Feet Tbk dari sektor perdagangan dan investasi ditutup di level 248 atau turun 8,15 persen. PT Magna Investama Mandiri Tbk di sektor keuangan terkoreksi ke level 246 atau turun 7,52 persen. PT Hartadinata Abadi Tbk, emiten sektor perhiasan dan manufaktur, melemah ke level 2.130 atau turun 7,39 persen. Sementara itu, saham PT Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi Tbk dari sektor keuangan syariah ditutup di level 204 atau turun 7,27 persen.
Menjelang penutupan tahun, pelaku pasar cenderung bersikap selektif dengan mempertimbangkan faktor teknikal dan aliran dana asing. Aksi window dressing yang sempat mengangkat IHSG belum sepenuhnya mampu menahan tekanan koreksi jangka pendek. Meski demikian, masih adanya pembelian bersih asing memberi sinyal bahwa minat terhadap pasar saham domestik tetap terjaga. Investor kini menanti katalis awal tahun, termasuk rilis data ekonomi dan arah kebijakan global, yang akan menentukan apakah IHSG mampu kembali menguat atau justru melanjutkan fase konsolidasi di awal 2026.
MNC Securitas dalam analisisnya hari ini menilai pergerakan IHSG masih berada dalam fase koreksi jangka pendek meski tren utama belum sepenuhnya berubah. Secara teknikal, indeks diperkirakan sedang berada pada bagian dari wave [iv] dari wave 5, sehingga masih rawan mengalami penurunan terbatas untuk menguji area support di kisaran 8.493 hingga 8.414.
Selama level tersebut mampu dipertahankan, peluang penguatan lanjutan masih terbuka dengan target resistance di area 8.656 hingga 8.714. Namun, apabila tekanan jual semakin kuat dan IHSG menembus support utama, skenario terburuk membuka potensi koreksi yang lebih dalam menuju area psikologis 8.000-an, sehingga investor disarankan tetap selektif dan disiplin dalam mengelola risiko menjelang awal tahun.(*)