KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG membuka awal 2026 dengan kinerja positif dan peluang mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high.
Sepanjang periode 29 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026, meski hanya berlangsung dalam tiga hari perdagangan, IHSG berhasil menguat ke level 8.748,13 seiring meningkatnya minat beli investor.
Penguatan ini terjadi di tengah sentimen musiman akhir tahun dan awal tahun yang secara historis kerap menopang pasar saham domestik.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menjelaskan bahwa dorongan utama datang dari arus dana asing yang kembali masuk ke pasar reguler.
“Penguatan ini didorong oleh aksi akumulasi investor asing,” kata Hari Rachmansyah dalam keterangan tertulis, Senin, 5 Januari 2026.
Ia mencatat selama periode tersebut investor asing membukukan net buy sebesar Rp1,3 triliun, dengan saham PT Darma Henwa Tbk, PT Aneka Tambang Tbk, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk menjadi top value akumulasi asing.
Masuknya dana asing ini menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar bahwa kepercayaan terhadap prospek pasar saham Indonesia di awal tahun masih terjaga.
Dari sisi sentimen, Hari menyebut pergerakan positif IHSG tidak lepas dari berlanjutnya Santa Claus Rally di akhir Desember serta mulai berjalannya January Effect sejak 2 Januari 2026.
Kombinasi kedua faktor tersebut mendorong risk appetite investor dan menjaga momentum bullish IHSG memasuki awal tahun perdagangan.
Menurut Hari, sentimen eksternal juga masih relatif kondusif. Selama sepekan ke depan, periode 5 hingga 9 Januari 2026, Wall Street dinilai masih berpeluang melanjutkan penguatan seiring optimisme pasar pasca kinerja solid sepanjang 2025. Kinerja indeks-indeks utama Amerika Serikat sepanjang tahun lalu menjadi referensi penting bagi pasar global.
Sektor teknologi masih menjadi motor utama, tercermin dari kenaikan indeks S&P 500 yang mencatat penguatan lebih dari 16 persen, Nasdaq yang melonjak lebih dari 20 persen, serta Dow Jones yang naik sekitar 13 persen sepanjang 2025. Namun, menurut Hari, arah reli ke depan berpotensi lebih seimbang.
“Ke depan reli diperkirakan lebih seimbang dengan potensi rotasi ke sektor non-teknologi,” kata Hari Rachmansyah.
Ia menambahkan bahwa sektor-sektor seperti bank regional berpeluang mendapatkan perhatian lebih besar dari investor. Di sisi lain, meningkatnya tensi geopolitik global tetap menjadi faktor yang perlu dicermati pelaku pasar.
Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Venezuela, termasuk kabar serangan militer, dinilai berpotensi memengaruhi harga komoditas global, khususnya minyak, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan.
Dari dalam negeri, IHSG dinilai masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan dalam sepekan ke depan. Dukungan datang dari rencana rilis sejumlah data ekonomi domestik yang menjadi perhatian utama pelaku pasar. Data neraca dagang, inflasi, serta Consumer Confidence Index dijadwalkan akan diumumkan dalam waktu dekat.
Konsensus pasar memperkirakan neraca dagang Indonesia tetap solid dan inflasi berada pada level terkendali. Kondisi ini diharapkan dapat memperkuat sentimen positif pasar karena mencerminkan stabilitas makroekonomi dan daya beli masyarakat yang relatif terjaga.
“Meski demikian, pergerakan IHSG tetap akan dipengaruhi oleh dinamika eksternal,” kata Hari Rachmansyah.
Ia menilai arah kebijakan global dan perkembangan geopolitik masih menjadi variabel yang dapat memicu volatilitas jangka pendek.
Namun secara keseluruhan, peluang penguatan IHSG dinilai masih terbuka, terutama dengan dukungan sentimen awal tahun dan arus dana asing.(*)