KABARBURSA.COM - Pergerakan IHSG menjelang perdagangan Kamis, 8 Januari 2026, menunjukkan fase yang semakin sensitif setelah indeks mendekati level psikologis 9.000.
Penutupan di level 8.944 pada sesi terakhir perdagangan Rabu, 7 Januari 2026, dengan penguatan tipis 0,13 persen disertai terbentuknya rekor tertinggi intraday baru di 8.970, menegaskan bahwa tren naik masih terjaga.
Namun, dinamika di balik pergerakan tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan jangka pendek.
Dari sudut pandang teknikal yang disampaikan MNC Sekuritas, posisi IHSG saat ini diperkirakan berada pada bagian akhir dari wave (v) dari wave [iii]. Artinya, secara struktur tren menengah masih bullish, tetapi ruang kenaikan mulai terbatas.
Area 8.994 hingga 9.077 dipetakan sebagai rentang penguatan terdekat yang wajar secara teknikal. Fakta bahwa target terdekat yang sebelumnya disampaikan sudah tercapai memperkuat sinyal bahwa pasar kini memasuki zona rawan aksi ambil untung.
Risiko koreksi diperkirakan menguji area 8.777 hingga 8.879, yang menjadi zona krusial untuk menguji kekuatan buyer lanjutan.
Pandangan ini relatif sejalan dengan analisis Phintraco Sekuritas, meski menggunakan pendekatan indikator yang berbeda. Phintraco menyoroti penguatan lanjutan histogram MACD yang masih positif, menandakan tren naik belum patah.
Namun, momentum beli mulai melemah dan Stochastic RSI sudah berada di area overbought. Kombinasi ini biasanya menjadi peringatan awal bahwa pasar cenderung masuk fase konsolidasi atau koreksi ringan, terutama setelah mencetak ATH intraday.
Dengan resistance kuat di kisaran 8.970 hingga 9.000 dan support di area 8.850 hingga 8.900, IHSG diperkirakan akan bergerak lebih berhati-hati, bukan melanjutkan reli agresif seperti sesi-sesi sebelumnya.
Tekanan eksternal juga menjadi faktor yang memperkuat kehati-hatian pasar. Depresiasi rupiah ke level Rp16.780 per dolar AS, di tengah melemahnya mayoritas mata uang Asia, menjadi sinyal bahwa arus global belum sepenuhnya kondusif.
Dalam konteks ini, ruang kenaikan IHSG tetap ada, tetapi sangat bergantung pada selektivitas sektor dan saham, bukan lagi kenaikan berbasis indeks secara luas.
Masuk ke level saham pilihan, pendekatan MNC Sekuritas cenderung lebih taktis dengan fokus pada buy on weakness dan speculative buy. Artinya, kondisi pasar sudah tidak ideal untuk mengejar harga.
AUTO, misalnya, menguat hampir 3 persen dengan dukungan volume, dan secara wave diperkirakan berada pada fase wave [c] dari wave B. Ini menunjukkan potensi lanjutan kenaikan masih ada, tetapi entry ditekankan pada area koreksi terbatas, bukan pada harga tinggi.
Target yang relatif moderat dengan stoploss ketat mengindikasikan bahwa strategi ini mengantisipasi volatilitas jangka pendek.
ICBP berada pada spektrum yang lebih defensif. Koreksi ringan disertai dominasi volume beli dan posisi wave [v] dari wave C menempatkan saham ini sebagai kandidat akumulasi saat melemah. Karakter ICBP yang cenderung stabil membuatnya relevan dalam fase IHSG yang rawan profit taking, karena potensi downside relatif lebih terukur dibanding saham siklikal.
JSMR justru mencerminkan narasi yang lebih konstruktif. Posisi di awal wave (iii) dari wave [i] dari wave C menandakan potensi tren naik yang masih cukup panjang. Dukungan volume pada saat penguatan memperkuat asumsi bahwa minat beli masih aktif.
Dalam kondisi IHSG yang mendekati resistance besar, saham-saham dengan struktur tren awal seperti ini sering menjadi tempat rotasi dana.
WIIM menjadi contoh saham berisiko lebih tinggi namun berpotensi memberi imbal hasil cepat. Kenaikan lebih dari 7 persen dengan volume besar menunjukkan adanya momentum kuat, tetapi posisi yang diperkirakan sudah mendekati akhir wave (i) dari wave [v] membuat rekomendasinya bersifat speculative buy.
Ini konsisten dengan kondisi pasar secara umum yang sudah matang, di mana peluang masih ada tetapi harus diimbangi disiplin risiko yang ketat.
Sementara itu, rekomendasi Phintraco Sekuritas yang menyoroti saham-saham terkait komoditas, termasuk AADI, mendapat dukungan dari faktor fundamental kebijakan. Rencana pemerintah memangkas target produksi mineral dan batu bara dalam RKAB 2026 bertujuan menyeimbangkan supply dan demand setelah tekanan harga akibat oversupply tahun lalu.
Kebijakan ini berpotensi menjadi katalis sektoral yang cukup kuat, terutama bagi emiten batu bara yang sensitif terhadap perbaikan harga komoditas. Dalam konteks IHSG yang rawan profit taking, saham-saham dengan dukungan kebijakan dan prospek perbaikan fundamental sering kali lebih tahan terhadap koreksi indeks.
Jika disarikan, baik MNC Sekuritas maupun Phintraco Sekuritas sama-sama membaca IHSG masih dalam tren naik, tetapi berada di fase rawan koreksi jangka pendek. Perbedaannya terletak pada pendekatan.
MNC lebih menekankan struktur wave dan strategi buy on weakness pada saham-saham tertentu, sementara Phintraco menggarisbawahi sinyal overbought indikator dan risiko eksternal seperti geopolitik serta nilai tukar. Keduanya bertemu pada satu kesimpulan penting: pasar belum berbalik arah, tetapi tidak lagi berada pada fase “easy money”.
Dengan IHSG yang semakin dekat ke level 9.000, strategi perdagangan hari ini lebih tepat difokuskan pada selektivitas saham, disiplin entry, dan kewaspadaan terhadap profit taking, bukan mengejar penguatan indeks secara membabi buta.(*)