KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah tajam pada perdagangan awal pekan, Senin, 30 Maret 2026. IHSG turun 90,07 poin atau 1,27 persen ke level 7.006,99. Sepanjang sesi awal, indeks sempat menyentuh level tertinggi di 7.024,60 sebelum terkoreksi hingga level terendah 6.999,08.
Total volume transaksi mencapai 5,38 juta lot dengan nilai perdagangan sebesar Rp532,02 miliar dari 73,83 ribu transaksi. Tekanan jual terlihat mendominasi sejak pembukaan, menandakan pelaku pasar masih cenderung berhati-hati.
Dari sisi sektoral, mayoritas sektor berada di zona merah. Sektor transportasi mencatatkan penurunan terdalam sebesar 1,67 persen, diikuti sektor basic industry turun 1,31 persen, infrastruktur dan cyclical masing-masing melemah 1,29 persen, serta sektor keuangan turun 1,13 persen. Sektor energi juga ikut terkoreksi 0,45 persen meskipun harga komoditas global sedang tinggi. Sementara itu, sektor teknologi dan kesehatan menjadi penopang dengan kenaikan masing-masing 0,36 persen.
Pada jajaran penguat, PT Soho Global Health Tbk (SOHO) dari sektor kesehatan melonjak 19,70 persen ke level 2.430. PT Zyrexindo Mandiri Buana Tbk (ZYRX) di sektor teknologi naik 18,71 persen ke harga 165, diikuti PT Tripar Multivision Plus Tbk (RAAM) dari sektor media yang menguat 16,50 persen ke level 240. PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) yang bergerak di keamanan siber naik 13,69 persen ke harga 1.495, sementara PT Kian Santang Muliatama Tbk (RGAS) dari sektor energi menguat 11,76 persen ke level 95.
Sebaliknya, tekanan jual terlihat pada saham PT Sunson Textile Manufacture Tbk (SSTM) yang bergerak di sektor tekstil, turun 10,34 persen ke level 650. PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) dari sektor consumer cyclicals melemah 9,88 persen ke harga 1.095. PT City Retail Developments Tbk (NIRO) di sektor properti turun 9,55 persen ke level 180, diikuti PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII) dari sektor logistik yang melemah 9,52 persen ke harga 665, serta PT Andalan Sakti Primaindo Tbk (ASPI) dari sektor perdagangan turun 8,70 persen ke level 252.
Secara fundamental, pelemahan IHSG kali ini tidak lepas dari kombinasi tekanan global dan domestik. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum mereda memicu lonjakan harga minyak dan batu bara, namun justru meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini berpotensi membuat kebijakan suku bunga global, khususnya dari bank sentral AS, tetap ketat lebih lama atau higher for longer.
Dampaknya, aliran dana asing cenderung keluar dari pasar emerging market, termasuk Indonesia. Tekanan ini diperparah oleh pelemahan rupiah yang menurunkan daya tarik aset domestik dalam jangka pendek. Di sisi lain, meskipun harga batu bara dan CPO menguat, pasar belum sepenuhnya merespons positif karena investor masih fokus pada risiko global dibanding potensi kinerja emiten.
Selain itu, momentum awal pekan yang hanya berlangsung selama 4 hari bursa juga membuat pelaku pasar cenderung melakukan profit taking dan mengurangi eksposur risiko. Sikap wait and see terlihat dominan menjelang rilis data penting global seperti pidato The Fed, data manufaktur China, hingga Non-Farm Payrolls Amerika Serikat.
Dari sisi teknikal, tekanan masih cukup kuat. MNC Sekuritas menyebut posisi IHSG saat ini masih berada dalam fase koreksi lanjutan. “IHSG masih rawan terkoreksi ke area 6.745-6.887,” tulis MNC Sekuritas dalam riset hariannya Senin, 30 Maret 2026.
Sementara itu, Indo Premier Sekuritas menilai pergerakan IHSG dalam sepekan ini cenderung terbatas. “Pasar akan cenderung wait and see di tengah tekanan global dan dinamika eksternal,” ujar Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi dalam risetnya Senin,30 Maret 2026.
Menurut mereka kombinasi sentimen global, arus dana asing, serta tekanan teknikal, pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih berpotensi volatil dengan kecenderungan melemah, meskipun peluang rebound tetap terbuka jika sentimen eksternal mulai mereda.(*)