KABARBURSA.COM-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan ini di tengah berbagai sentimen global dan domestik yang memengaruhi psikologi pasar. Pekan ini pasar dibuka hanya 2 hari 16-17 Maret 2026 menjelang libur panjang perayaan Hari Raya IdulFitri 1447 Hijriah. Analis menilai tekanan eksternal masih cukup dominan sehingga membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi investasi.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Hari Rachmansyah memproyeksikan IHSG akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah dalam jangka pendek. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama terkait eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang hingga saat ini belum menunjukkan tanda mereda.
"Selama konflik tersebut masih berlangsung, volatilitas pasar global diperkirakan tetap tinggi karena investor cenderung mengadopsi sikap risk-off. Dari sisi domestik, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah terkait upaya menjaga defisit APBN agar tetap terkendali, yang menjadi indikator penting bagi investor asing dan domestik dalam menilai stabilitas makroekonomi Indonesia," ujar Hari dalam keterangan tertulis Senin, 16 Maret 2026.
Selain faktor geopolitik, aktivitas perdagangan saham juga diperkirakan akan lebih terbatas karena faktor musiman menjelang libur panjang Lebaran. Kondisi ini membuat sebagian investor memilih menahan diri untuk membuka posisi baru sampai periode libur berakhir.
Menurut Hari, dalam situasi pasar yang masih dipenuhi ketidakpastian, investor disarankan untuk lebih selektif dalam menentukan pilihan saham. Emiten dengan fundamental yang kuat, arus kas stabil, serta memiliki ketahanan terhadap volatilitas global dinilai lebih menarik untuk dipertimbangkan.
"Strategi smart money wait and see, menjaga porsi kas yang lebih tinggi, serta melakukan akumulasi bertahap pada area support dapat menjadi pendekatan yang lebih prudent sambil menunggu kejelasan perkembangan geopolitik global dan arah kebijakan fiskal domestik," kata Hari.
Merespons dinamika pasar tersebut, Indo Premier Sekuritas melalui platform IPOT juga memperkenalkan solusi smart money berupa tabungan digital berbasis pasar modal bernama x RDN. Produk ini dirancang untuk membantu investor mengoptimalkan dana menganggur atau idle dengan potensi imbal hasil sekitar dua persen serta dilengkapi sistem keamanan berlapis.
Seiring kondisi pasar yang masih volatil, IPOT merekomendasikan strategi trading pada sejumlah saham yang dinilai masih berada dalam tren penguatan. Salah satunya adalah PT Bukit Asam Tbk dengan kode saham PTBA yang bergerak di sektor pertambangan batu bara. Secara teknikal, saham PTBA direkomendasikan beli pada area entry 2.910 dengan target price 3.130 dan stop loss di level 2.870. Saham ini dinilai masih berada dalam tren naik yang didukung aliran dana asing serta sentimen kenaikan harga batu bara global.
Rekomendasi berikutnya adalah saham PT Indika Energy Tbk dengan kode saham INDY yang merupakan emiten sektor energi dan pertambangan. IPOT merekomendasikan beli pada area entry 3.620 dengan target price 4.150 dan stop loss di level 3.370. Secara teknikal, saham INDY masih bergerak dalam pola uptrend channel dan berada di area support sehingga berpotensi mengalami pembalikan arah setelah mencatatkan penguatan pada akhir pekan lalu.
Selain itu, IPOT juga merekomendasikan saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk dengan kode saham LSIP yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit. Saham ini direkomendasikan beli pada area entry 1.290 dengan target price 1.330 serta stop loss di level 1.260. Secara teknikal, LSIP dinilai masih berada dalam tren naik dan berpotensi melanjutkan penguatan setelah mampu bertahan di atas indikator EMA-5 serta mencatatkan potensi akumulasi asing sejak awal Maret.
Selain saham, IPOT juga melihat peluang menarik pada instrumen obligasi pemerintah. Seri FR106 dengan yield to maturity sekitar 6,81 persen dinilai menarik bagi investor yang mencari imbal hasil lebih tinggi dengan tenor panjang. Sementara itu, obligasi seri FR0101 dengan yield sekitar 5,81 persen dapat menjadi alternatif bagi investor yang menginginkan fleksibilitas investasi dengan tenor yang lebih pendek.(*)