KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan penguatan hingga akhir sesi pertama perdagangan Rabu, 6 Mei 2026. Di tengah reli pasar Asia dan meredanya tensi geopolitik global, IHSG ditutup naik 45 poin atau 0,65 persen ke level 7.102.
Penguatan ini terjadi ketika sebagian besar bursa Asia bergerak hijau setelah pasar merespons positif sinyal diplomatik dari Amerika Serikat terkait konflik Iran. Turunnya harga minyak dan meredanya kekhawatiran terhadap gangguan Selat Hormuz membuat investor kembali masuk ke aset berisiko, termasuk saham-saham emerging markets.
Di pasar domestik, nilai transaksi hingga jeda siang mencapai Rp10,46 triliun dengan volume perdagangan 225,7 juta lot saham dan frekuensi transaksi yang tetap ramai. Sebanyak 377 saham menguat, sementara 240 saham melemah dan 194 saham bergerak stagnan.
Penguatan IHSG kali ini lebih banyak ditopang saham-saham sektor riil dan industri dasar. Sektor basic industry menjadi motor utama penguatan indeks setelah naik 1,98 persen.
Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memimpin penguatan sektor ini dengan kenaikan 7,41 persen. Reli TPIA kemudian diikuti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang naik 4,86 persen, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) menguat 4,44 persen, dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) bertambah 2,61 persen.
Saham-saham berbasis pulp dan kertas juga ikut bergerak positif. PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) naik 1,76 persen sementara PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) menguat 1,34 persen.
Pada indeks LQ45, saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menjadi pemimpin penguatan setelah melesat tajam. Selain UNVR, saham AMRT, ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) ikut masuk jajaran top gainers.
Namun di balik penguatan IHSG, sektor keuangan justru menjadi titik tekanan terbesar pasar. Sektor ini terkoreksi 0,87 persen dan menjadi satu-satunya sektor utama yang bergerak cukup dalam di zona merah.
Tekanan paling besar datang dari saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang turun 2,04 persen. Pelemahan BBNI kemudian diikuti PT Bank Mega Tbk (MEGA) yang terkoreksi 1,42 persen dan PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) yang melemah 0,54 persen.
Saham perbankan lain juga belum mampu keluar dari tekanan jual. PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk (BTPS) turun 0,51 persen, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 0,31 persen, sementara PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) terkoreksi 0,27 persen.
Tekanan pada sektor keuangan ini cukup menarik karena terjadi ketika IHSG sedang bergerak positif. Pasar terlihat mulai melakukan rotasi dari saham-saham perbankan besar menuju sektor berbasis komoditas, industri dasar, dan konsumsi yang dinilai memiliki momentum jangka pendek lebih kuat.
Selain itu, pelemahan saham bank juga muncul di tengah masih tingginya kehati-hatian investor terhadap arah suku bunga dan stabilitas likuiditas global. Meski sentimen geopolitik mulai mereda, pasar masih menunggu arah kebijakan Federal Reserve dan perkembangan nilai tukar dolar AS.
Kospi Cetak Rekor Tertinggi
Dari sisi regional, reli pasar Asia berlangsung cukup solid. Bursa Korea Selatan menjadi sorotan utama setelah indeks Kospi kembali mencetak rekor tertinggi dengan lonjakan 6,34 persen.
Penguatan besar di Kospi terjadi setelah investor merespons kombinasi turunnya harga minyak, penguatan sektor teknologi, dan membaiknya sentimen geopolitik global. Pasar Korea juga mendapat dorongan dari arus masuk dana asing yang kembali agresif ke saham teknologi dan manufaktur.
Bursa China juga bergerak cukup kuat. Shanghai Composite naik 1,27 persen, Shenzhen Component melonjak 2,62 persen, dan CSI 300 menguat 1,62 persen.
Di Hong Kong, indeks Hang Seng bertambah 0,83 persen. Bursa Taiwan juga ikut menguat 1,08 persen, sementara pasar Australia naik 1,04 persen.
Penguatan mayoritas pasar Asia terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan penghentian sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz. Pasar membaca langkah tersebut sebagai sinyal bahwa jalur diplomasi dengan Iran mulai bergerak lebih serius.
Trump mengatakan Proyek Freedom akan dihentikan sementara guna memberi ruang terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran. Pernyataan itu langsung menurunkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi minyak global.
Yen dan Rupiah Menguat
Efeknya terlihat pada pelemahan dolar AS dan penguatan mata uang Asia. Yen Jepang menguat 1,13 persen terhadap dolar AS, dolar Singapura naik 0,27 persen, dan dolar Australia menguat 0,86 persen.
Rupiah juga ikut bergerak positif dengan penguatan sekitar 0,10 persen ke level Rp17.406 per dolar AS. Yuan China naik 0,15 persen, ringgit Malaysia menguat 0,28 persen, dan baht Thailand naik 0,36 persen terhadap dolar AS.
Kombinasi pelemahan dolar, meredanya ketegangan Timur Tengah, dan reli bursa Asia menjadi bahan bakar utama penguatan IHSG hari ini. Namun pelemahan sektor keuangan memperlihatkan pasar domestik masih bergerak selektif dan belum sepenuhnya masuk ke fase risk-on yang merata.(*)