KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai masih akan bergerak volatil dan sideways dengan kecenderungan melemah pada pekan depan. Hal ini tidak lepas dari ketidakpastian global yang masih tinggi.
Analis pasar modal sekaligus founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan jika konflik Timur Tengah kembali memanas dan harga minyak kembali naik, maka IHSG berpotensi kembali menguji support psikologis di level 7.000 dan resistance nya di level 7200.
"Namun di sisi lain, kondisi ini justru menjadi peluang bagi saham-saham komoditas untuk menjadi pemimpin pasar," ujar dia dalam risetnya yang diterima Kabarbursa.com, Minggu, 29 Maret 2026.
Menurut Hendra, strategi yang bisa dilakukan investor saat ini adalah melakukan rotasi sektor ke saham energi, batu bara, dan logam sebagai strategi trading jangka pendek.
"Sambil menunggu kepastian arah suku bunga global dan perkembangan geopolitik dunia," katanya.
Hendra kemudian memberikan rekomendasi beberapa saham yang menarik untuk dicermati dalam jangka pendek. Antara lain MEDC dengan strategi trading buy dan target harga di kisaran 1.910 hingga 2.000.
Saham pilihan Hendra lainnya yakni ENRG trading buy dengan target 1.690 hingga 1.790, PTBA buy on weakness di area 3.000 hingga 3.040 dengan target 3.180 hingga 3.300, serta MDKA speculative buy dengan target 3.340 hingga 3.540.
"Saham-saham ini berpotensi bergerak positif selama harga minyak dan komoditas masih berada di level tinggi serta selama konflik geopolitik belum mereda," ungkap Hendra.
Diketahui pada perdagangan Jumat, 27 Maret 2026, IHSG ditutup melemah sebesar 0,94 persen atau turun 67 poin ke level 7.097.
Hendra memandang, pelemahan IHSG pada penutupan akhir pekan lalu menunjukkan bahwa pasar saham masih berada dalam fase ketidakpastian global yang tinggi.
Memanasnya konflik Timur Tengah serta kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang kembali meningkatkan tensi geopolitik membuat pasar keuangan global diliputi ketidakpastian.
"Meskipun sempat menunda serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari, pasar tetap khawatir konflik akan meluas menjadi konflik darat dan mengganggu jalur distribusi energi dunia," jelasnya.
Di sisi lain, lanjut Hendra, aksi demonstrasi besar bertajuk “No Kings” di berbagai kota di Amerika Serikat juga menunjukkan meningkatnya ketidakpastian politik domestik di AS.
"Kombinasi antara risiko geopolitik dan ketidakpastian politik inilah yang membuat bursa saham global, termasuk IHSG, mengalami tekanan," terangnya.
Kondisi tersebut diperparah dengan kenaikan harga minyak dunia yang kembali mendekati level USD100 per barel. Hendra menilai kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi global kembali naik, sehingga pasar mulai memperkirakan bahwa suku bunga global akan bertahan tinggi lebih lama atau higher for longer.
"Ketika suku bunga tinggi bertahan lebih lama, maka aliran dana global cenderung masuk ke obligasi dan keluar dari pasar saham, sehingga wajar jika IHSG dan bursa global cenderung bergerak melemah dan volatil dalam jangka pendek," pungkasnya. (*)