KABARBURSA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG mulai menunjukkan tanda penguatan signifikan, namun belum sepenuhnya keluar dari tekanan. Pergerakan indeks masih berada dalam fase yang rawan berbalik arah.
Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mencatat lonjakan IHSG dalam perdagangan terakhir cukup kuat, tetapi belum disertai konfirmasi tren yang solid.
“IHSG menguat 4,42 persen ke 7.279 dan disertai dengan munculnya volume pembelian, namun pergerakan IHSG masih tertahan oleh MA20,” ujar Herditya dalam risetnya, Kamis, 9 April 2026.
Kondisi ini menunjukkan adanya dorongan beli yang mulai masuk, tetapi belum cukup kuat untuk menembus area resistance teknikal penting. Dalam kerangka gelombang atau wave, Herditya melihat IHSG masih berada pada fase yang berpotensi terkoreksi.
“Kami memperkirakan, posisi IHSG saat ini masih berada pada bagian dari wave (v) dari wave [c] dari wave A pada label hitam sehingga IHSG masih rawan terkoreksi ke area 6.745-6.849,” jelasnya.
Meski begitu, peluang penguatan tetap terbuka jika IHSG mampu menjaga momentum. “Best case IHSG sudah menyelesaikan wave A pada label biru, sehingga akan melanjutkan penguatan ke 7.323-7.450,” katanya.
Secara teknikal, level support berada di 7.020 dan 6.917, sementara resistance di kisaran 7.302 hingga 7.440. Area ini menjadi penentu arah jangka pendek IHSG.
Saham-saham yang Menarik Dipantau
Di tengah kondisi pasar yang masih berada dalam fase transisi, sejumlah saham menunjukkan pola teknikal yang menarik untuk dicermati. Herditya mengidentifikasi beberapa saham dengan struktur gelombang yang masih membuka ruang penguatan.
Pada saham BIPI, penguatan terlihat cukup signifikan dengan lonjakan harga disertai volume pembelian. Secara teknikal, pergerakan harga sudah mampu bertahan di atas MA20, yang biasanya menjadi sinyal awal perubahan tren jangka pendek. Herditya menilai posisi BIPI saat ini berada dalam fase lanjutan kenaikan.
“BIPI berada pada bagian dari wave (B) dari wave [A],” tulisnya.
Artinya, saham ini sedang berada dalam fase koreksi naik dalam struktur yang lebih besar, yang berpotensi dilanjutkan selama tidak kehilangan momentum.
Sementara itu, BRMS menunjukkan penguatan yang lebih agresif. Kenaikan harga diikuti peningkatan volume dan berhasil menembus MA200, yang menjadi indikator penting tren jangka menengah. “BRMS berada pada bagian dari wave C dari wave (B),” jelas Herditya.
Dalam struktur Elliott Wave, posisi ini biasanya menandakan fase lanjutan penguatan yang relatif lebih kuat, meski tetap berada dalam konteks pergerakan yang belum sepenuhnya stabil.
Pada saham MBMA, pola serupa juga terlihat. Harga menguat dan mampu bertahan di atas MA60, menandakan adanya akumulasi yang mulai terbentuk. “MBMA berada pada bagian dari wave [c] dari wave B,” tulisnya.
Ini mengindikasikan bahwa saham tersebut tengah berada di fase akhir dari pola kenaikan korektif, yang bisa berlanjut sebelum menghadapi potensi konsolidasi berikutnya.
Adapun PANI memperlihatkan karakter yang sedikit berbeda. Penguatan terjadi dengan dukungan volume, dan posisi harga sudah kembali berada di atas MA20. “PANI berada pada bagian dari wave 5 dari wave (C) dari wave [Y],” jelasnya.
Dalam analisis teknikal, wave 5 sering kali menjadi fase akhir dari tren naik, yang berarti potensi kenaikan masih ada, tetapi juga mulai mendekati titik jenuh.
Secara keseluruhan, IHSG saat ini berada dalam kondisi yang belum sepenuhnya stabil. Penguatan yang terjadi lebih mencerminkan fase awal pemulihan dibandingkan tren naik yang mapan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.