KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi setelah melemah 0,45 persen ke level 8.382 pada perdagangan Jumat, 21 November 2025.
Dari pemantauan pada dashboard sektor Stockbit, teknologi menjadi kelompok saham dengan kinerja terbaik, mencatat penguatan 2,72 persen.
Sektor lain yang juga menunjukkan peningkatan, meski dalam skala lebih terbatas, adalah industrial yang naik 0,85 persen, basic industry sebesar 0,65 persen, serta cyclical yang menguat 0,66 persen.
Sementara itu, sektor properti dan kesehatan mencatat kenaikan tipis masing-masing 0,58 persen dan 0,40 persen.
Di sisi lain, tekanan jual terlihat menahan laju beberapa sektor besar. Keuangan turun 0,61 persen, transportasi melemah 0,60 persen, dan infrastruktur terkoreksi 0,58 persen.
Sektor energi juga bergerak negatif dengan penurunan 0,29 persen, sementara non-cyclical mencatat minus 0,49 persen.
Pada jajaran saham dengan kenaikan tertinggi (top gainer), PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK) memimpin dengan lonjakan 25 persen menuju harga Rp1.925.
Disusul kemudian oleh PT Royalindo Investa Wijaya Tbk (INDO) yang melonjak 24,79 persen ke posisi Rp302, serta PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) yang menguat 24,76 persen ke harga Rp262.
Dua emiten lain, yaitu PT Suryamas Dutamakmur Tbk (SMDM) dan Geoprima Solusi Tbk (GPSO), turut masuk daftar lima besar gainer dengan kenaikan sekitar 24,5 persen.
Sementara itu, pada daftar saham turun terdalam (top loser), PT Puri Global Sukses Tbk (PURI) memimpin pelemahan dengan koreksi 14,87 persen, turun ke harga 498.
PT KDB Tifa Finance Tbk (TIFA) berada di posisi kedua dengan penurunan 13,45 persen, diikuti PT Sekar Laut Tbk (SKLT) yang melemah 13,33 persen.
BEI Pede Momentum Rekor Tinggi IHSG Akan Berlanjut di 2026
Sepanjang tahun berjalan pasar modal Indonesia, indeks telah menorehkan 10 all time high, sekaligus mendorong kapitalisasi pasar mencapai Rp15.559 triliun pada 10 Oktober 2025.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, menjelaskan bahwa capaian tersebut menegaskan kekuatan struktur pasar domestik yang kini berbasis multi-aset.
Ia menjelaskan, IHSG pertama kali menembus level psikologis 8.000 pada 17 September dengan posisi penutupan 8.025. Lonjakan berlanjut di Oktober ketika indeks mencetak enam rekor baru, lalu empat rekor tambahan pada pekan pertama November. Kenaikan ini berlangsung konsisten meski pasar global diwarnai volatilitas akibat kebijakan moneter Amerika Serikat.
“Rata-rata transaksi harian kita ini sudah tembus 16,64 triliun. Di mana target kami tahun ini adalah 13,65 triliun per hari. Jadi sudah jauh dari target kita,” kata Iman dalam paparannya di acara workshop media gathering di Ubud, Bali dikutip Selasa, 18 November 2025.
Iman menilai kenaikan IHSG masih berpotensi berlanjut pada tahun depan. Menurutnya, fundamental partisipasi pasar kini jauh lebih kuat ketimbang tahun-tahun sebelumnya, terutama dari sisi aktivitas investor. BEI mencatat rata-rata jumlah investor harian yang bertransaksi telah mencapai 228 ribu orang per hari, rekor tertinggi sepanjang sejarah. Angka itu melampaui puncak masa pandemi ketika rata-rata investor harian berada di kisaran 180 ribu orang.
Dua saham lainnya, yaitu Informasi Teknologi Indonesia Tbk (JATI) dan Anugerah Spareparts Sejahtera Tbk (AEGS), masing-masing terkoreksi 8,72 persen dan 8,64 persen, melengkapi daftar lima emiten dengan penurunan terdalam.(*)